Kunjungi Korsel, Jokowi Raih Kesepakatan Bisnis Senilai US$6,2 Miliar

HEADLINE INTERNASIONAL

JAKARTANEWS.ID – KORSEL: Usai melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan, Presiden Joko Widodo mendapat kesepakatan bisnis dengan nilai mencapai US$6,2 miliar atau setara Rp81,7 triliun (kurs Rp13.400 per dolar AS).

Kunjungan ini, merupakan kunjungan balasan dari kunjungan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in ke Indonesia November pada tahun lalu.

Turut hadir mendampingi Presiden Jokowi adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafrudin,

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P. Roslani, dan Wakil Ketua Kadin Shinta Kamdani.

Kepala BKPM Thomas Lembong menyampaikan bahwa kunjungan Presiden Jokowi kali ini juga dimaknai dengan penandatanganan 15 nota kesepahaman dan enam komitmen investasi yang sifatnya business to business antara private sector Indonesia dan Korea Selatan, serta satu nota kesepahaman antara BKPM dengan Hyundai Motor Company.

”Dengan ditandatanganinya 15 nota kesepahaman dan enam komitmen investasi tersebut diharapkan sentimen pelaku usaha luar terhadap pasar nasional dapat menjadi lebih baik.” ujar Thomas dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa 11 September 2018.

Thomas menuturkan, sangat menyambut baik upaya-upaya untuk meningkatkan kerja sama dan investasi Korea Selatan ke Indonesia pada sektor-sektor industri utama dan otomotif.

“Tentu, saja hal ini harus direspons secara positif, apalagi kerja sama tersebut dapat membidik pasar ASEAN dan Australia. Hal ini harus kita manfaatkan ditambah lagi Indonesia akan punya FTA (Free Trade Agreement) dengan Australia,” lanjutnya.

Ia mengungkapkan, kerja sama Korea Selatan dan Indonesia khususnya di sektor otomotif diharapkan dapat mendukung masterplan industri otomotif di Indonesia dan dapat menumbuhkan industri komponen dan supply chain-nya di dalam negeri.

“Yang paling penting itu adalah meyakinkan investor bahwa Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk berinvestasi. Kebanyakan negara yang ekonominya sedang terpuruk, karena tidak bisa menjaga sentimen pasar atau pelaku usaha,” ujar Thomas.

Kunjungan Presiden Jokowi salah satunya dilakukan melalui kegiatan Business Forum ”Indonesia-Korea Business and Investment Forum 2018: Enhancing Industrial Cooperation”.

Pada kesempatan tersebut Presiden menyampaikan beberapa hal dalam rangka penguatan kerja sama ekonomi antara dua negara khususnya di industri manufaktur dan mengundang pelaku usaha Korea untuk berpartisipasi dalam program ”Making Indonesia 4.0” yang merupakan visi industri di Indonesia yang akan merangkul perubahan dalam revolusi industri.

Selain itu, Presiden juga mengajak pelaku usaha Korea untuk memanfaatkan potensi besar Indonesia di sektor pariwisata, lifestyle industry dan industri kreatif.

Adapun kunjungan yang dilakukan Presiden antara lain melakukan one-on-one meeting dengan beberapa perusahaan strategis Korea Selatan, menghadiri pertemuan Business Forum dengan asosiasi dan perusahaan-perusahaan Korea Selatan, serta melakukan kunjungan kenegaraan dengan Presiden Moon Jae-In di Istana Kepresidenan Korea Selatan.

Selin itu, Presiden Jokowi memberikan kuliah umum di Hankuk University of Foreign Studies dan pertemuan dengan generasi muda Korea Selatan pecinta Indonesia dan generasi muda Indonesia di Korea Selatan. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *