World Bank Mendorong Pengembangan Pembiayaan Konsolidasi Tanah Vertikal Melalui Skema KPBU

EKBIS HEADLINE

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Penyediaan perumahan yang layak dan terjangkau sampai saat ini masih menjadi isu sekaligus tantangan yang perlu menjadi perhatian berbagai pihak, terutama bagi pemerintah. Isu penting ini diharapkan dapat menjawab permasalahan berupa _backlog_ kebutuhan rumah secara nasional sebesar 7,6 juta unit dan penanganan permukiman kumuh seluas 38.431 hektare.

Upaya mengatasi permasalahan penyediaan perumahan yang layak dan terjangkau tersebut perlu dikembangkan skema pembiayaan alternatif seperti Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Dalam rangka membangun skema KPBU yang _viable_ dalam konteks kebijakan, pembiayaan dan kelembagaan maka diadakan _Workshop Public Private Partnership (PPP) for Affordable Housing_ dengan tema _Opportunities for Public Private Sector Engagement in Affordable Housing Provisioning in Urban Areas_ yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan (PIPUPR), Kementerian PUPR bekerja sama dengan World Bank di Jakarta, Rabu (14/08).

Berbagai hal terkait dengan penyediaan perumahan yang layak dan terjangkau dibahas dalam _Workshop_ tersebut. Pada sesi pembahasan _pilot project,_ turut hadir Direktur Konsolidasi Tanah, Direktorat Jenderal Penataan Agraria, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Doni Janarto Widiantono, menyampaikan, “Penataan permukiman padat penduduk seluas 2,44 hektare melalui Konsolidasi Tanah Vertikal (KTV) akan dilaksanakan di Gang Waru, Kelurahan Benua Melayu Darat, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Lebih lanjut, Doni Janarto Widianton menjelaskan bahwa kawasan tersebut akan menggunakan skema KPBU dan ditata sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang. Kemudian, disediakan tanah untuk pembangunan rumah susun sederhana milik (Rusunami) bagi masyarakat dan tanah untuk pembangunan komersil sebagai _cost-equivalent land_ (Tanah Usaha Bersama) yang akan di-KPBU-kan. KTV dapat menjadi _triple-track approach_ dalam hal perbaikan lingkungan kumuh _(slum improvement),_ penyediaan perumahan _(housing provision)_ dan pengentasan kemiskinan _(poverty alleviation)._

Herry Trisaputra Zuna, Direktur Perumusan Kebijakan dan Evaluasi Ditjen PIPUPR, menjelaskan bahwa lokasi KTV Gang Waru menjadi salah satu rencana _pilot project_ tahun 2020. Rencana penataan permukiman Gang Waru melalui KTV mendapatkan tanggapan sangat positif dari Konsultan World Bank, Larry English. Beliau memberikan apresiasi, “Konsolidasi Tanah adalah inisiasi yang cerdas dalam penyediaan hunian vertikal.” Larry English menjelaskan bahwa peserta KT akan mendapatkan kompensasi dalam bentuk unit hunian vertikal dengan nilai yang lebih tinggi dan juga mendapatkan pembagian keuntungan dari unit komersial.

Senada dengan hal tersebut, Raj Kannan, konsultan pengembang Deloitte Consultant, mendorong konsolidasi tanah dalam konteks pengembangan kembali. ”KT digunakan untuk penataan ulang bidang-bidang tanah dengan meningkatkan hunian dan akses infrastruktur,” ujar Raj.

Ke depan, diharapkan adanya tindak lanjut pelaksanaan KTV baik melalui skema KPBU maupun KPBU yang berbasis masyarakat. Skema-skema KPBU tersebut diharapkan dapat berjalan dan sukses dalam penyediaan perumahan yang layak dan terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Model pengembangan KT dan KTV sejalan dengan Reforma Agraria sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Presiden No. 86 Tahun 2018. Adapun pembiayaan pelaksanaan KTV melalui skema KPBU dapat menjadi alternatif dengan memperhatikan prinsip kemitraan yang berkeadilan. Intinya pelaksanaan KTV dapat ditindaklanjuti dengan pembiayaan dan pembangunan, namun tetap mengedepankan keberpihakan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Np)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *