Petani Organik Galau di Tengah MoU Kemdag-Kemtan Genjot Ekspor

EKBIS HEADLINE NASIONAL

JAKARTANEWS.ID — JAKARTA: Pengembangan ekspor produk organik nasional digenjot pemerintah melalui kerjasama (MoU) Kementerian Perdagangan & Kementerian Pertanian. Namun, saat bersamaan, petani galau menurunnya daya saing di pasar global karena terhalang syarat impor negara tujuan mulai ketiadaan kode harmonized system (HS) untuk ekspor hingga pengenaan tarif penyebab

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemdag, Dodi Edward, & Dirjen Perkebunan Kemtan, Kasdi, sepakat mendorong peningkatan ekspor produk perkebunan organik Indonesia di pasar dunia. Alasannya potensi ekspor nonmigas itu mampu mengurangi defisit perdagangan.
“Potensi produk organik Indonesia cukup besar. Hal itu ditandai dengan meningkatnya jumlah petani yang mengelola pertanian organik dari tahun ke tahun. Selain juga meningkatnya jumlah toko produk organik di supermarket dan rumah makan, organisasi pecinta organik, serta adanya berbagai Lembaga Sertifikasi Organik (LSO),” ujar Dirjen Dodi, didampingi Karohumas Olvy Andrianita, Senin (21/10/2019).
Di tempat terpisah, Sebastian Saragih selaku Ketua Aliansi Organik Indonesia mengungkap kegalauannya terkait sejumlah produk organik berkualitas Indonesia berkualitas seperti salak dan gula kelapa dikenai tarif 6% oleh Uni Eropa sehingga kalah bersaing dengan Kamboja & Vietnam karena telah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan kawasan itu.
“Dari segi keunggulan, Indonesia menang banyak. Akan tetapi kami mengalami persoalan daya saing, teknologi dan tarif,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Kemendag, baru-baru ini. Hal itu diakui Sesditjen PEN Kemdag, Fajarini Puntodewi, dan berjanji mengusulkan kementerian terkait untuk memberi kode HS (harmonized System) atas produk. “Yang jelas Pemerintah mendukung seluruh ekspor produk dari dalam negeri,” ujarnya kepada wartawan.
Data Statistik Pertanian Organik Indonesia menyebut total produksi beras organik pada 2016 mencapai 12.276 ton, madu 2.702 ton, kopi 346.200 ton, cokelat 70 ton, mete 838 ton, gula kelapa 201 ton, minyak kelapa 1.673 ton, salak 865 ton dan sayuran sebesar 4.708 ton. Pangsa pasar pangan organik sampai 45% itu Amerika Serikat & Eropa 36% dari total pangsa dunia.
Badan Pusat Statistik mencatat Januari-Agustus 2019 secara kumulatif masih defisit neraca dagang sebesar US$1,81 miliar atau Rp 2,5 trilyun. Atau, defisit membengkak sebesar 10,51 milyar dolar AS setara Rp 14,7 trilyun sepanjang 2018-Agustus 2019. Sedangkan posisi utang pemerintah hingga Mei 2019 totalnya Rp 4.571,89 trilyun, seperti pernah diungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani, dimana kewajiban membayar bunga utang Rp 127 trilyun. (royke)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *