Kapolri Idham Azis: Jabatan Kapolri Anugerah dari Allah

HEADLINE NASIONAL

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Semua proses kehidupan manusia di dunia seperti lahir, jodoh dan maut sudah menjadi rencana Tuhan.

Begitupun, soal harta, pangkat dan jabatan seseorang. Sebaik apa pun rencana atau rancangan yang dibuat manusia kalau tidak dikehendaki Allah Yang Mahakuasa, pasti rancangan itu tidak akan terlaksana.

Penunjukkan Jenderal Idham Azis menjadi Kapolri oleh Presiden Joko Widodo, telah membuktikan bahwa kuasa Allah sangat dahsyat dan sempurna.

Idham Azis salah satu petinggi Polri berpangkat bintang tiga, sebelumnya memang tidak diperhitungkan, karena dari sisi usia masa dinasnya tinggal 15 bulan. Sejumlah pengamat kepolisian bahkan tidak meliriknya. Mereka menjagokan kandidat lain yang usianya masih tergolong muda.

Tapi kuasa Tuhan tak bisa dibendung manusia. Idham Azis mendapat anugerah dari Tuhan Yang Mahakuasa untuk menjadi Kapolri. Proses penunjukkan, fit and propper test dan pelantikan di Istana Negara berlangsung begitu cepat. Bahkan, proses fit and propper test di DPR yang dijalani Idham Azis menjadi proses yang tercepat dalam sejarah, karena hanya berlangsung tiga jam.

“Alhamdullilah, saya mendapat anugerah dari Allah, setelah Presiden Jokowi melantik saya jadi Kapolri. Saya bertekad menjalankan amanah ini dengan penuh tanggungjawab,” tutur Kapolri ldham Azis, kepada wartawan, Sabtu (2/11).

Diakui mantan Kapolda Metro Jaya ini, dari awal setelah menjabat Kabareskrim, Januari 2019, dia sudah merasa nyaman, karena sebagai perwira yang puluhan tahun bergelut di bidang reserse cita-citanya memimpin Bareskrim Polri sudah menjadi kenyataan.

“Setelah menjadi Kabareskrim saya sudah tidak punya ambisi lain. Sebab itu, sewaktu ditawari jadi Wakapolri saya menolak,” ungkap mantan Kapolda Sulteng ini.

Kapolri Idham Azis mengaku, jabatan tinggi dengan segala konsekuensi tugas yang dipercayakan kepadanya, menjadi tantangan yang harus dihadapinya.

Sebagai Kapolri, ia segera menjalankan sejumlah perintah Presiden Joko Widodo, terutama kasus-kasus yang menjadi skala prioritas seperti Karhutla dan kasus Novel Baswedan.

“Saya akan konsisten menyelesaikan kasus-kasus tersebut, sesuai kemampuan dan pengalaman yang saya miliki sebagai penyidik,” tegas Idham.

Menyangkut 7 program prioritasnya, Idham mengaku tetap mengacu pada program Pak Tito. Karena 7 program prioritas yang dia ajukan ke DPR saat fit and propper test masih berkaitan dengan promoter. (nico karundeng)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *