PKS Mengaku Tak Tersinggung Dengan Pernyataan Jokowi Pada Perayaan HUT Golkar Semalam

HEADLINE PARLEMEN

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Wakil Ketua Dewan Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid menyatakan, dirinya tidak tersinggung dengan pernyataan Presiden Jokowi yang mengatakan Presiden PKS Sohibul Imam sebagai kawan baru Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem Surya Paloh.

“Kalau yang saya dengar, beliau tidak sedang menyindir, beliau sedang menyebutkan satu peristiwa yang sudah terjadi, dan beliau tidak dalam posisi menyebut hal tersebut sebagai hal yang negatif, itu adalah buruk, itu adalah satu hal yang layaknya dipersekusi,” kata Hidayat di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (7/11/2019).

Hidayat berpendapat, tidak ada satu pun pihak yang tersinggung dengan pernyataan Presiden Jokowi pada acara HUT Partai Golkar semalam.

“Dan kita lihat komunitas yang hadir tadi malam di acara Golkar itu tidak ada satu pun yang menggerutu, semuanya tertawa. Kan senang mereka. Itu artinya adalah saya pahami ini adalah peristiwa yang diterima dengan baik dan menghadirkan dinamika dan hiburan di tengah ulang tahun Golkar,” tandasnya.

Hidayat menilai, orang boleh memaknainya sendiri tapi dirinya memaknainya dalam konteks yang positif yakni Presiden Jokowi menyambut adanya silaturahmi politik.

“Saya ingin silaturahmi antara pimpinan parpol maupun pemimpin bangsa ini tidak dipahami dengan cara-cara yang justru tidak sesuai dengan silaturahmi,” imbuhnya.

Anggota Komisi VIII DPR RI tersebut menghimbau, para pimpinan parpol lebih mengedepankan silaturahmi politik.

“Silaturahmi itu kan untuk menyambung kekerabatan kita dan persaudaraan kita sebagai bangsa,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hidayat menerangkan, partainya merasa surprise dengan pernyataan Presiden Jokowi semalam.

“PKS tidak merasa tersinggung dengan pernyataan Pak Jokowi tadi malam malah kami merasa surprise karena Pak Jokowi menyebut berkali-kali PKS dan Pak Sohibul Imam,” ungkapnya.

Hidayat menyebut, sejak Indonesia merdeka tidak ada yang namanya politik dengan memutus silaturahmi.

“Sejak Indonesia merdeka seluruh kelompok politik saling bertemu dan bersilaturahmi,” urainya.

Mantan Ketua MPR RI tersebut beropini, kalau diartikan berpolitik saling mengunci dan tidak saling bersilaturahmi itu artinya menebarkan sikap hidup yang radikalis.

“Agama mengajarkan silaturahmi. Kalau anda berpolitik tapi tidak bersilaturahmi berarti anda telah memanipulasi agama,” tutupnya. (Daniel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *