Suzana Tanojo Dkk Akan Diadili In-Absentia, Jaksa Agung: Kita Akan Kaji Dulu

HEADLINE HUKRIM

JAKARTANEWS.ID- JAKARTA : Apakah berkas perkara Suzana Tanojo Dkk , tersangka kasus Victoria akan dilakukan persidangan tanpa kehadiran terdakwa (i-absentia) sampai kini belum terjawab?

Jaksa Agung ST.  Burhanuddin belum memberikan kepastian langkah institusinya terkait perkara dugaan korupsi atas nama Suzana Tanojo Dkk,  yang sudah tiga tahun buron tanpa ada kejelasan.

“Kita akan kaji dulu, ” ucapnya diplomatis menjawab pertanyaan wartawan,  di Kejaksaan Agung, Jumat  (8/11).

Namun demikian,  Mantan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun)  belum dapat memastikan kajian itu dilakukan dan sampai sekarang.

“Nantilah,  saya sudah komit untuk menuntaskan semua perkara korupsi, ” kali ini,  ujar Burhanuddin dengan nada suara meyakinkan.

Wacana peradilan in-absentia sudah sempat dilontarkan oleh Arninsyah (Jaksa Agung Muda Pidana Khusus – Jampidsus)  saat itu, setelah upaya pencarian buronan Suzana belum membuahkan hasil.

Status buronan kepada Suzana diberikan,  2016 sebab tiga kali dipanggil mereka tidak dipenuhi tanpa alasan.  Meski begitu,  hingga kini belum dikirimkan permohonan Red Notice (pencarian)  kepada Interpol.

Suzana adalah Komisaris PT Victoria Sekuritas Indonesia – VSI).  Tersangka lain,  Rita Rosela (Direksi PT VSI).  Sedangkan satu tersangka lain,  adalah Analis Kredit Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)  Harianto Tanudjaja). Mereka dijadikan tersangka,  2016.

SUDAH LENGKAP (P 21)

Selain Suzana Dkk,  2016 ditetapkan pula Mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung sebagai tersangka.

Namun hingga perkaranya di KPK terkait perkara BLBI Bank BDNI, dibebaskan oleh Mahkamah Agung (MA) perkara di Kejagung belum ada titik terang.

Padahal,  dari keterangan berbagai sumber perkara Syaf, panggilan akrabnya sudah dinyatakan lengkal (P 21) oleh Gedung Bundar,  Kejagung.

“Harusnya,  Kejagung tentukan sikap agar tidak ada kesan pilih kasih dalam pemberantasan korupsi. Saat ditetapkan tersangka sampai penyidikan oleh KPK,  Syaf tidak pernah ditahan, ” keluh Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI)  Boyamin Saiman saat dihubungi,  di Jakarta,  Sabtu (9/11).

MUKMIN ALI GUNAWAN

Dalam perkara penjualan Cessie PT Adyesta Ciptatama (AC)  oleh BPPN yang saat itu diketuai Syafruddin Temenggung,    2003, Kejagung juga sempat mencegah keberangkatan ke luar negeri terhadap Mukmin Ali Gunawan selama setahun, Februari 2016   tapi sampai berakhir pencegahan, statusnya masih saksi.

Mukmin sempat melayangkan hak jawab kepada sejumlah media,  karena dirinya tidak terkait dengan PT VSI.

Penjualan aset PT AC berupa lahan di Karawang seluaw 1. 200 ha sempat dimenangkan oleh PT First Capital milik Prajogo Pangestu,tapi taipan ini membatalkan pembelian senilai Rp69 miliar,  karena dokumen tidak lengkap.

Lelang tahap dua digelar,  pesertanya hanya PT VSI dan aset triliunan itu hanya dijual sebesar Rp26 miliar.  Manajemen PT AC sempat mau menebus asetnya, tapi ditolak sebab PT VSI memasang angka Rp2 triliun.  Lalu kasusnya dilaporkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati)  DKI,  sampai akhirnya diambil alih oleh Kejaksaan Agung. Dugaan kerugian negara sekitar Rp418.miliat. (ahi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *