Penyelenggaraan Pesparani 2020 Terancam Akibat Masalah Anggaran

HEADLINE PARLEMEN

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Komisi VIII DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dirjen Bimbingan Masyarakat (Binmas) Katolik Kementerian Agama RI untuk membahas rencana penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) yang rencananya akan digelar 28 Oktober – 5 November 2020.

Ketua penyelenggara Pesparani 2020 Adrianus Meliala mengungkapkan, masalah dana menjadi masalah yang sangat krusial dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Hal tersebut diungkapkan Adrianus di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (11/12/2019) usai mengikuti RDP dengan Komisi VIII DPR RI.

Menurut Adrianus, untuk penyelenggaraan Pesparani tahun depan, negara telah menyetujui, namun negara melalui Kementerian Agama (Kemenag) tidak menyediakan anggaran.

“Nah yang menjadi krusial adalah untuk kegiatan sebesar itu ternyata negara belum menyediakan dana. Itu yang krusial. Negara yang mengendorse, negara yang mendukung kami, kok negara tidak menyediakan uang,” katanya.

Ketua Ombudsman tersebut mengaku, dirinya bersama Dirjen Binmas Katolik Kemenag RI sengaja mendatangi DPR RI minta difasilitasi dalam pencarian dana untuk kegiatan tersebut.

“Makanya dari jauh-jauh hari kami datang ke DPR untuk minta dibantu dalam menyediakan dana. Angka Rp70 miliar bagi para anggota DPR memang dinilai besar, tapi toh tidak besar pun tidak terealisir kan,” sergahnya.

Adrianus menjelaskan, pihaknya meminta DPR RI untuk memberikan pesan kepada pemerintah agar memberikan anggaran bagi kegiatan Pesparani.

“Makanya kami melalui jalur politik ini minta kepada DPR semacam call kepada pemerintah untuk mengalokasikan dana,” ungkapnya.

Mantan Ketua Kompolnas tersebut mengungkapkan, sebenarnya Kemenag sudah mengalokasikan anggaran untuk Pesparani tahub depan, akan tetapi tidak disetujui oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

“Kemenag sebetulnya sudah mengalokasikan anggaran, artinya mereka sudah berusaha tapi gagal. Kemungkinan karena tidak bisa meyakinkan Kemenkeu dan Bappenas padahal begitu even ini bisa kita ‘jual’ semua orang akan oke,” tuturnya.

Untuk selanjutnya, Adrianus mengaku, pihaknya dengan dukungan dari DPR akan bertemu Kemenpar untuk menjual kegiatan Pesparani.

“Mana-mana yang bisa dibiayai mereka. Tapi kami juga menunggu gestur dari mereka karena apapun yang kami lakulakan kepada kementerian tersebut belum tentu menghasilkan uang kan,” terangnya.

Padahal, menurut Profesor Kriminologi tersebut, anggaran terbesar digunakan untuk akomodasi dan logistik.

“Biaya hotel dan biaya makan setiap orang. Jadi untuk dana pelaksaan acaranya berasal dari anggaran APBD, untuk yang bersifat publikasi itu dari masyarakat, berupa penggalangan dana dari para pengusaha Katolik. Tapi untuk acaranya sendiri, harus negara yang mengeluarkan anggaran,” urainya.

Adrianus menyayangkan, hal ini harus terjadi lantaran pihaknya bekerja atas legalitas dari Menteri Agama (Menag), yang memberikan SK Pesparani di NTT.

“Kemenag pula yang meminta kepada Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk mendirikan LP3KN (Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional -red) . Nah sekarang setelah semuanya beres kok tidak ada uangnya, kami semacam menagih janji negara dalam hal ini tentang pembiayaan program tersebut,” jelasnya.

Pesparani sendiri adalah kegiatan paduan suara gerejani yang diselenggarakan KWI bersama Dirjen Binmas Katolik Kemenag RI.

Acara tersebut semacam Pekan Seni Budaya, hanya saja semua ini terkait dengan seni budaya gerejani berupa paduan suara Bahasa Latin, paduan suara anak, dewasa, campuran, remaja, daerah, mazmur, lomba baca Alkitab, cepat tepat, dan lain sebagainya.

Sebagai panitia penyelenggara maka dibentuklah LP3KN.

Pesparani pertama diselenggarakan di Ambon, Maluku, 28 Oktober – 5 November 2018.

Untuk tahun depan sendiri, Pesparani akan diselenggarakan di Kupang, NTT, 28 Oktober – 5 November 2020.

Untuk penyelenggaran ketiga nanti rencananya akan dilangsungkan pada tahun 2023 di DKI Jakarta. (Daniel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *