DPR RI Berharap Pemerintah Tidak Naikan Harga Gas Elpiji 3 Kg

HEADLINE PARLEMEN

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Anggota Komisi VII DPR RI, Ratna Juwita meminta, pemerintah mengkaji kembali rencana pemerintah yang akan mencabut subsidi gas elpiji 3 kg (gas melon) pada pertengahan tahun 2020.

Hal tersebut disampaikan Ratna di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (17/1/2020).

Nantinya, jelas politisi PKB tersebut, harga gas melon akan dijual sesuai dengan harga pasar.

“Jika dihitung harga tabung LPG 12 kg mencapai Rp139.000, maka perkilogramnya harga gas mencapai Rp11.583,” ungkapnya.

Dengan angka tersebut, terang Ratna harga tabung LPG 3 kg bisa mencapai Rp35.000.

“Ini berarti naik signifikan ketimbang harga saat ini yang berkisar Rp18.000 sampai Rp21.000. Perlu dikaji ulang, harus ada yang dirumuskan lagi,” tegasnya.

Ratna berpendapat, dengan dicabutnya gas melon, kondisi perekonomian masyarakat yang saat ini sedang susah tentu akan semakin terpuruk.

“Apalagi, saat ini hampir semua rakyat kecil baik untuk kebutuhan rumah tangga serta usaha kecil menengah (UKM) rata-rata menggunakan gas 3 kg,” tandas anggota DPR RI asal Dapil Jatim 9 ini.

Menurut Ratna, jangan sampai beban ekonomi rakyat yang saat ini sudah berat ditambah lagi akibat kenaikan harga gas elpiji 3 kg

“Jangan sampai rakyat yang sudah susah kondisi ekonominya dipersulit lagi dengan kenaikan harga elpiji 3 kg. Ini kan untuk masyarakat kelas bawah kan,” tukasnya.

Ratna juga menilai, rencana pemerintah yang akan mencabut subsidi gas Melon kemudian mengalihkan subsidi itu kepada masyarakat secara langsung hanyalah dalih untuk mencabut subsidi.

“Janganlah membuat kasus-kasus berdalih dengan model seperti ini ya! Harapan kami jangan lagi dibohongi lah seperti kasus BPJS ya! Teman-teman Komisi IX DPR RI juga kemarin kan teriak-teriak masalah itu ya,” tutupnya.

Sikap Fraksi Demokrat

Sementara itu anggota Komisi VII DPR RI lainnya Sartono Hutomo berpendapat, rencana menaikkan harga gas elpiji 3 kg merupakan kegagalan pemerintah dalam membentuk kebijakan yang pro rakyat.

Terlebih lagi, tambah Sartono, rencana ini sebenarnya mengkonfirmasi kondisi perekonomian nasional bahwa ada problem atau memang ada gejala kegagalan dalam peberapan sejumlah kebijakan.

“Pencabutan subsidi itu adalah langkah potong kompas, artinya kegagalan pemerintah dalam memajukan ekonomi itu harus ditanggung oleh rakyat,” jelasnya.

Politisi Demokrat ini pun meminta, pemerintah harus lebih hati-hati dalam mengambil kebijakan, lantaran saat ini hampir semua rakyat kecil baik untuk kebutuhan rumah tangga serta usaha kecil mereka rata-rata menggunakan gas 3 kg.

“Seharusnya Pemerintah melakukan pengetatan atau pendataan ulang terkait penerima Gas elpiji 3 kg,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana akan mencabut subsidi Elpiji 3 kg. Subsidi tak lagi diberikan per tabung, melainkan langsung ke penerima manfaat.

Nantinya, harga jual ‘gas melon’ ini akan disesuaikan dengan harga pasar. Jika benar, diperkirakan harganya bisa mencapai Rp 35.000 per tabung.

Kebijakan ini ditargetkan pada pertengahan tahun ini. Diharapkan subsidi Elpiji 3 kg bisa lebih tepat sasaran dengan menyasar langsung kepada penerima manfaatnya yaitu masyarakat miskin.

Namun masyarakat kurang mampu akan tetap mendapatkan harga ‘spesial’. Pasalnya, mereka akan tetap mendapatkan subsidi yang diberikan langsung dengan cara ditransfer.

Berdasarkan survei Kementerian ESDM, rata-rata masyarakat miskin menggunakan 2-3 tabung gas Elpiji 3 kg per bulannya. Dengan begitu, nantinya pembelian tabung keempat dan seterusnya oleh masyarakat miskin tak lagi disubsidi.

“Misalnya dia beli 3 tabung subsidi Rp 100.000 dan bank transfer ke nomor ini (penerima). Nanti bisa dicek rata-rata kebutuhan orang miskin 3 tabung. Kalau beli lebih dari 3 tabung bisa kelihatan berhak atau nggak,” ujar Plt Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto di kantornya, Jakarta Selatan, seperti ditulis Rabu (15/1/2020).

Sedangkan mereka yang tidak berhak mendapatkan subsidi akan membayar sesuai harga pasar sekitar Rp 35.000 per tabungnya. Diperkirakan konsumsi Elpiji 3 kg bisa berkurang karena masyarakat mampu beralih ke tabung yang lebih besar lagi karena harga per kg yang sama. (Daniel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *