Gatot Eddy Pramono dan Boy Rafli Calon Kuat Kapolri

HEADLINE OPINI

Oleh: Nico Karundeng *)

SUKSESI Kapolri Jenderal ldham Azis akhir bulan Januari Tahun 2021 mendatang telah memunculkan sosok sosok jenderal polisi bintang tiga untuk melanjutkan kepemimpinan di Korps Bhayangkara.

Sejumlah nama jenderal bintang tiga sudah bermunculan. Mereka dimunculkan sejumlah pengamat kepolisian, organisasi masyarakat dan anggota DPR RI. Jika merujuk UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian RI, mereka yang berhak dicalonkan sebagai Kapolri adalah yang sudah berpangkat bintang tiga.

Sementara saat ini perwira tinggi Polri yang berpangkat bintang tiga di internal Polri, Wakapolri Komjen Pol Gatot Edi Pramono, Irwasum Polri Komjen Pol Agung Budi Maryoto, Kabaharkam Polri Komjen Pol Agus Andrianto, Kaba lntelkam Polri Komjen Pol Rico Amelza Daniel, Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo dan Kalemdik Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto.

Sementara, mereka yang menjabat bintang tiga di luar institusi Polri tapi tetap punya peluang yang sama menjadi Kapolri, Kepala BNN Komjen Pol Petrus Reinhard Golose, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafly Amar, Sestama Lemhannas Komjen Pol Didid Wijanardi dan lrjen Kemenkumham Komjen Pol Andap Budhi Revianto.

Selain nama nama di atas, masih ada peluang lain untuk menjabat Kapolri mendatang, yaitu Kapolri Jenderal ldham Azis sendiri. Sesuai Pasal 30 UU No 2 Tentang Kepolisian RI setiap pejabat tinggi Polri yang memiliki ketrampilan/ keahlian khusus masa dinasnya bisa diperpanjang hingga 60 tahun. Tapi dalam sejarah Polri dua dekade terakhir belum ada satu pun Kapolri yang diperpanjang masa dinasnya.

Jika melihat dan mencermati siapa yang pantas melanjutkan estafet kepemimpinan Polri berikut dari nama nama di atas, semuanya memang sangat pantas, karena dari sisi kapasitas dan kapabilitas serta track record, selama dalam penugasan semuanya sudah teruji. Namun, tentu ada nama nama yang punya peluang lebih yang mungkin jadi pertimbangan, dari Kompolnas dan Dewan Kepangkatan Tinggi (wanjakti) yang berhak mengusulkan ke Presiden Jokowi.

Siapa-siapa yang paling berpeluang ditelisik dari info info yang berkembang di istana, masyarakat dan parlemen terutama dari sisi integritas personal, ada 5 nama, selain Pak Kapolri Idham Azis.

1. Komjen Pol Gatot Eddy Pramono.

Gatot yang lahir di Solok, Sumatra Barat, 28 Juni 1965 (55), sejak 20 Desember 2019 menjabat wakapolri, tentu sangat berpeluang menjadi Kapolri. Pasalnya dari sisi senioritas, Gatot pantas menduduki jabatan ini, karena ia pun lulusan Akpol 1988 A, seangkatan dengan Kapolri ldham Azis.

Dari sisi kapasitas, Gatot yang bergelar doktor ini pernah menjabat Asisten Perencanaan Kapolri dan Kapolda Metro Jaya. Gatot juga sejak berpangkat pamen sudah bertugas jajaran Polda Metro Jaya. Gatot yang menguasai bidang reserse, banyak berprestasi saat menjabat Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Jika merunut pengalaman sebelumnya, ada dua wakapolri yang ditunjuk menjabat Kapolri. Mereka adalah, Jenderal Pol Suroyo Bimantoro dan Jenderal Badrodin Haiti. Jadi peluang Gatot sangat kuat menggantikan Jenderal ldham Azis. Dari sisi usia, Gatot masa dinasnya masih dua tahun lebih.

2. Komjen Pol Boy Rafly Amar.

Boy Rafly, lahir 25 Maret 1965 (55) di Jakarta. Boy asal Suku Minang bergelar Datuak Rangkayo Basa, pernah menjabat Kapolresta Padang saat terjadi gempa tsunami di Padang. Namun, Boy yang juga expert di bidang reserse ini sangat dikenal di tengah masyarakat karena menjabat di bidang kehumasan. Seringnya tampil di layar kaca dimulai saat menjabat Kabid Humas Polda Metro Jaya membuatnya menjadi idola bak selebriti.

Penampilan Boy Rafly yang kalem dengan gaya bicara pelan rupanya menjadi data tarik bagi pemirsa televisi di tanah air. Sebab itu, dari jabatan Kabag Penum, Boy segera dipromosi menjadi Wakadiv Humas Polri saat dipimpin Irjen Pol Ronny F Sompie. Dari sini Boy yang sudah berpangkat brigjen kemudian dipromosi memimpin Polda Banten.

Boy Rafly, memang sangat diperlukan institusi Polri sebagai juru bicara, karena kepiawaian ini tak banyak dipunyai perwira perwira tinggi lainnya. Apalagi fungsi Humas Polri belakangan dianggap pimpinan Polri sangat penting dalam menjalankan tupoksi Polri di masyarakat.

Seorang juru bicara Polri harus cakap dan mampu menjelaskan semua program dan kegiatan positif di lingkup Polri kepada masyarakat. Selain itu, dapat menampung aspirasi dari masyarakat baik yang positif atau negatif sekali pun.

Maka sejak 28 Februari 2016, Boy didapuk memimpin Jajaran Divhumas Polri dengan pangkat bintang dua. Lebih setahun menjabat Kadiv Humas Polri Boy dipromosi menjabat Kapolda Papua. Kemudian, dari Papua ayah dua anak ini, dimutasi menjadi Wakalemdik Polri.

Sejak 1 Mei 2020, Boy yang pernah mengikuti Workshop Counter Terorisme di Paris Perancis, Spanyol dan Ankara Turki ini dipercaya memimpin institusi pemberantasan terorisme BNPT. Jika Boy diusulkan Presiden Jokowi menjadi calon Kapolri ke DPR RI, berarti Boy yang lulus Akpol 1988 A, bakal mengikuti jejak Jenderal Tito Karnavian.

3. Komjen Pol Agus Andrianto.

Agus Andrianto, lahir di Blora, Jateng, 16 Februari 1967 (53) , saat ini menjabat Kabaharkam Polri. Agus lulusan Akpol 1989, tergolong masih muda jika dibandingkan Gatot dan Boy. Jika terpilih menjadi Kapolri masa dinas Agus masih 4 tahun.

Agus yang berpengalaman di bidang reserse ini pernah menjabat Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Wakapolda Sumut dan Kapolda Sumut. Ia juga pernah memimpin jajaran reskrim Poltabes Medan tahun 1999.Kapolres Tangerang kemudian Direskrim Polda Sumut.

Jika terpilih, Agus akan mengulangi penunjukkan Kapolri Jenderal Timur Pradopo, oleh Presiden SBY bulan Oktober tahun 2010, menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

4. Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo.

Nama Listyo Sigit Prabowo dalam beberapa bulan terakhir sering muncul dalam pembicaraan di masyarakat. bakal ditunjuk Presiden Jokowi. Tentu ini tanpa alasan, sebab Listyo Sigit, seorang perwira tinggi Polri yang sangat dekat, dengan Presiden Jokowi. Ia termasuk perwira tinggi Polri yang dilansir Ketua Indonesia Police Watch, Neta S Pane, sebagai Geng Solo. Julukan bagi perwira Polri yang pernah menjabat Kapolresta Solo di zaman Jokowi sebagai walikota.

Listyo Sigit punya hubungan sangat cocok (chemistry) dengan Presiden Jokowi, karena pernah menjadi salah satu ajudan Presiden Jokowi di periode pertama pemerintahannya. Tapi dari sisi usia, Listyo Sigit masih sangat junior. Lulus Akpol 1991 dan lahir 1969, membuat Sigit masih mempunyai masa dinas 7 tahun lebih di Polri.

Listyo juga menguasai bidang reserse dan pernah menjabat Direskrimum Polda Sultra. Saat ditunjuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian, menjadi Kapolda Banten, Listyo Sigit, ditolak MUI Banten, karena beragama nasrani. Tapi dengan pendekatan yang dilakukan Listyo Sigit, ia menjabat Kapolda Banten lebih dari satu tahun kemudian dipromosi menjabat Kadiv Propam Polri.

Jika Listyo Sigit diusulkan Presiden Jokowi ke DPR, ia akan mengikuti tiga pendahulunya, seperti Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Kapolri Jenderal Pol Sutarman dan Kapolri Jenderal ldham Azis.

5. Komjen Pol Arief Sulistyanto.

Nama Arief Sulistyanto, sempat meredup dalam beberapa waktu lalu, setelah dirinya dimutasi Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dari Kabareskrim Polri awal 2019, menjadi Kalemdik Polri. Pemutasian itu cukup mendadak, karena Arief baru menjabat Kabareskrim selama 5 bulan.

Tapi apa yang dialami Arief, tidak membuatnya patah semangat. Arief salah satu lulusan terbaik Akpol 1987, tetap konsisten memajukan institusi pendidikan di Polri.

Ia segera membangun roadmap terkait pembenahan kurikulum di berbagai tingkatan pendidikan di Polri, agar dihasilkan anggota atau perwira perwira Polri yang profesional.

Arief walaupun lulusan Akpol 1987, tapi dari sisi usia masih cukup muda. Ia lahir 24 Maret 1965 dan masih punya masa dinas 2 tahun lebih. Arief sosok perwira Polri berintegritas, sehingga saat menjabat Kapolda Kalbar, ia mendapat predikat kapolda terbaik.

Dari kelima calon Kapolri di atas tentu Presiden Jokowi akan memilih sesuai hak prerogatif yang dimilikinya. Tapi tentu saja, Presiden akan menerima masukan dari berbagai anggota masyarakat tentang sepak terjang para kandidat yang diusulkan Kompolnas dan Wanjakti.

Jika Arief diusulkan Presiden Jokowi menjadi Kapolri, ini mengulangi peristiwa penunjukkan Kapolri di era Presiden BJ Habibie Tahun 1998 dimana Jenderal Pol Rusman Hadi, lulusan PTIK 1967 (angkatan 11) menggantikan Kapolri Jenderal Pol Dibyo Widodo, lulusan PTIK 1968 (angkatan 12). Karena saat ini Kapolri Idham Azis lulusan Akpol 1988 A. (Wartawan Senior *)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *