Sanggar Lukis Sungging Purbangkoro Magelang

HEADLINE NASIONAL

Oleh: Chryshnanda Dwilaksana

Pada tahun 1980an tepatnya lupa sekira kelas dua SMP selepas kursus bahasa Inggris di Arnanda Course Magelang. Agus Priyatno yang berbakat menggambar mengajak saya ikut kursus melukis. Saya bertanya : ” Gus kenapa kamu ga ngajak joko bintoro apa sigit dan tjatyo wibowo?” ” nilai saya memggambar di bawah mereka walaupun saya tahu itu gambaran agus semua, hanya Tjatyo Wibowo yang menurut saya berbakat. Saya tergolog hanya suka dengan lukisan kalau bakat kayaknya juga berat. Apa yg saya gambar selalu saja tidak sejalan dengan yang dimaui guru menggambar waktu SD pak Adi dan di SMP pak Jamhari.

Setelah bertanya kepada Agus, saya lupa agus menjawab atau tidak. Yang jelas uang kursus 500 rupiah. Tentu ini cukup berarti karena saya mendapat uang jajan 100 rupiah itupun hanya saat olah raga. Meminta bayaran kepada orang tua rasanya tidak mungkin. Saya khawatir akan ada kesulitan bagi saya memgikuti kursus menggambar yang diselenggarakan bapak Barkah Suripto. Sanggar seni lukis pak Barkah Suripto adalah : ” Sanggar Sungging Purbangkoro. Menurut pak Barkah itu nama sanggarnya Raden Saleh. Beliau sekolah di Asri (saya tidak tahu lulus atau tidak) yang jelas beliau sbg pelukis menurut saya sangat luar biasa. Karya realis ekspresif dan impresifnyapun berbeda dengan lukisan-lukisan yang lazim pada zaman itu.

Lukisan beliau yang cukup besar adalah pemandangan Kali Progo yang dengan arus deras banyak batu dan dipinggir-dipinggir sungai penuh dengan pohon pisang latar belakang gunung sumbing menambah indahnya lukisan itu. Ada lagi lukisan yang berjudul pilis yang digambar dengan goresan paku atau lidi. Ibu menyusui yang di dominasi warna merah dan orange. Kandang sapi yang dibuat secara ekspresif dan impresif. Bunga anggrek bulan. Pak Barkah Suripto kita panggil pak John karena gayanya yang dandy dengan topi laken ala John Travolta.

Singkat cerita saya dengan agus mendaftar dan diterima. Kita kursus pada hari minggu di Museum Sudirman di depan taman Badan Magelang. Pada saat hari pertama kursus ternyata ada teman SMP saya Frederik Agung yang dia memilih kursus mematung. Dan Mardiyono yang memilih menggambar bersama Diyuk Waruyadi. Di samping kami yang SMP ternyata ada juga yang SD kelas 2 SD kelas 4 ada yg bernama suwondo, zainal mustofa dan ada 3 anak lagi yg saya lupa namanya. Saya berpikir belajar menggambar itu asyik diajari melukis dengan cat air atau cat minyak.

Ternyata kami yang SMP dibebani masing-masing satu dan ada 2 anak yang SD untuk ke lapangan dan membuat sket. Ada yang di taman ada yang dibawah pohon ada yang menyeberang ke taman A Yani. Kami di beri waktu sekitar 2 jam. Cuaca memang sangat terik waktu itu. Dan setelah 2 jam kami mwengumpulkan karya-karya sket kami termasuk anak yang SD. Pak john mulai memberi komentar karya kami masing-masing. Hal ini terjadi terus seperti ini SD kurang lebih 1 tahun, sekalipun tidak diajarkan menggunakan cat atau pewarna apapun. Setelah satu tahun pd th 1981 pak John memberitahu kami untuk pameran di pendopo balai pelajar.

Saya sangat senang dan merasa akhirnya bisa ngecat juga. Apa yang terjadi kami diajari membuat spanram. Memasah dan cara memasang kanvas. Saya menggerutu sama agus : ” kita ini akan diajari melukis atau mau diajari jadi tukang?” Agus sepertinya tidak mempedulikan gerutuan saya. Dan kamipun mulai bisa membuat spanram sendiri memasang kanvas sendiri. Mulai diajari mendasari dengan zink wit kalau tidak salah. Setelah siap kita semua diajak ke Sungai Progo dan dilepas untuk melukis langsung. Pak john juga melukis bersama kami. Saya lupa anak-anak SD sepertinya masih menggunakan kertas. Saya mencoba membuat spanram yang lebih besar dr yg diajarkan pak john.

Dan melihat lukisan saya yg menggambarkan air terjun sekar langit di grabag. Beliau spontan mengatakan :” dik chrys kamu kelak akan mjd pelukis ekspresif namun belajarlah realis sampai kamu bosan atau sekuatmu, krn realis tetap menjadi dasarnya”. Kepada agus yg waktu itu menunjukkan gambar berburu gajah dan gambar perahu pak john berkata: ” dik agus kamu akan kuat dalam realis dan tetaplah pada jalur realis yang terus semakin kamu perkuat”.

Kami berpameran di pendopo balai pelajar magelang tanggal bulan saya lupa hanya ingat th 1981. Lukisan saya tentang air terjun sekar langit dan perahu karya Agus laku dan dibeli oleh pak Trisman Adiwiranata yang saat itu menjadi kasi kebudayaan Kodya Magelang masing-masing karya seharga Rp 5.000,-. Bangga dan senang karyanya laku namun saya juga tidak tahu apakah agus mendapatkan uang hasil penjualan itu, saya rasa tidak sama dengan saya. Saya menyadari kami kurus membayar hanya dua kali saja selebihnya malah Pak John yang sering mentraktir kami mengajak berenang di pemandian kali bening.

Di situlah saya belajar berenang dengan kepala tetap di atas. Pak John berenang dengan kaca matanya dan bahkan bisa seperti tidur si atas kasur gayanya beliau. Saya sama Agus terus mengikuti kursus sampai kelas dua SMA, demikian juga Suwondo dan Zainal Mustofa. Agung, Mardiyono Diyuk Waruyadi sepertinya hanya saat SMP saja. Kami belajar menggambar tidak lagi di Museum Sudirman melainkan di rumah beliau di Botton dan ada teman saya SMAK Pendowo yang bernama Endro ikut bergabung dengan kami. Rumahnya bersih asri kami sepertinya di rumah sendiri dan bebas mau apa saja.

Sanggar bubar kami juga tidak tahu hanya saja selama dua bulan lebih hanya saya dan agus saja yg trs datang suwondo dan zainal mustofa tidak lagi kelihatan. Saya tanya ke sana kemari juga tidak ada yg mengetahui. Padahal di rumah itu ada bbrp lukisan pak john dan karya2 kami. Waktu itu saya sama agus bingung akan diapakan di bawa ke rumah tentu akan diomeli krn lukisannya tdk realis apalagi setengah telanjang. Agus memilih gambar sungai progo yg ekspresif kalau tdk salah dan lukisan yang lain sy bawa pulang ke rumah. Saya lupa membawanya pakai apa seingat saya dipegangi agus dan agus saya boncemgkan dg sepeda.

Karya-karya itu semua kini tinggal ceritera saja semua entah ke mana rimbanya, karena selepas dari sanggar Pak John saya dengan Agus bergabung di sanggar teater yang diketuai mas Tanto (sekarang dikenal Tanto Mendut). Dan ketika setelah lulus SMA saya dan Agus sama-sama menganggur bersama teman-teman lain membuat Sanggar Karisma (kartun lukis magelang) yang dipinjami bekas warung milik ari di kwarasan. Bbrp tahun yg lalu saya meminta tolong mardiono mencari informasi ttg ari di kwarasan ternya sdh tdk ada yang tahu. Maklum sudah lebih 30 tahun yang lalu. Kenangan belajar di Sanggar Sungging Purbangkoro menjadi kenangan tak terlupakan dan menjadi dasar kekuatan melukis saya hingga saat ini.

Beberpa kali saya mengunjungi Museum Sudirman di Magelang dan mengenang masa kursus menggambar di sanggar sungging purbangkoro terngiang. Seakan Pak John dan anak-anak yang lain asyik menyeket di alam terbuka. Nasehat-nasehatnya untuk tidak mencontoh karya orang lain. Temukan jati dirimu, belajarlah realis sekuat mungkin walaupun akan menjadi ekspresif gayanya. Ketulusan Pak John mengingatkan kembali masa itu guru yang sekaligus sahabat teman berdiskusi yang egaliter. Pak John sangat sayang kepada murid-muridnya dan beliau ya nyontoni, ngajari, ngancani, ndandani dan sekaligus mbayari. Saya mendengar Pak john sudah berpulang beberapa tahun yang lalu. Semoga budi baik amalan Pak John sebagai guru sahabat kami mendapat pengampunan atas dosa dosanya dan diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *