Bersyukur Menikmati Hidup

HEADLINE NASIONAL

Oleh: Chryshnanda Dwilaksana

Suatu hari pada saat saya sedang duduk duduk di beranda rumah menjadi terngiang ngiang atas kejadian kejadian: saling serang sikap orang yang serakah, orang yang terus mengeluh ini dan itu dan banyak lagi hal-hal yang sebenarnya memalukan terus saja terjadi. Memalukan memang. Nampaknya orang-orang yang tidak pernah merasa puas dan ingin terus berkuasa dan mengejar kekuasaan. Hidupnya diperbudak hal-hal yang duniawi. Di dalam berdoapun seakan akan menuntut dan meminta dan meminta agar hati Tuhan luluh dan mengabulkan permintaannya.

Dunia telah menjadi idola semua ingin diraup dan digenggamnya. Sikap tamak tanpa sadar menguasai. Jiwa meraja lela dan membuat hati dan jiwanya buta. Mengeluh tdk puas menyalah nyalahkan bahkan marah kepada Tuhanpun akan dilakukan. Apa yang tidak akan mampu dinikmati karena rasa syukurnya telah kandas atau bahkan menguap. Yang ada hanya kurang kurang dan kurang. Dari lobi melobi sampai kasak kusuk main mata dengan hal yang jahat menyimpang sekalipun dilakukan dan dianggap halal. Segala punya hanya rasa malu dan syukur yang tak lagi dipunyai.

Saya jadi teringat ketika SD sekira tahun 1975 sampai dengan 1979, pada saat liburan saya ikut di rumah kakek saya. Di desa Brogo Kecamatan Blabak Magelang. Entah mengapa saya begitu bahagia berlibur di tempat kakek saya. Rumah kakek sekira 100 m2 memang ada pekarangan yang menjadi kebon bambu dan halaman rumah serta blumbang (kolam yang airnya dari kalen/kali kecil yang mengalir di belakang rumah) kami mandi mencuci baju mencuci beras semua di blumbang. Sumur sepertinya juga dalam dan sangat terbatas menggunakan sumur itu. Listrik belum ada lampu di rumah hanya memakai senthir lampu ublik dari kaleng dengan sumbu kain yang menyala karena ada minyak tanahnya). Kakek tidak memiliki meja kursi tamu yang ada hanya amben yang dibuatnya sendiri.

Pintu kayu rumah seingat saya hanya pintu depan saja pintu-pintu yang lain memakai pintu geser dari bambu. Kamar hanya 3 dan dapur kecil untk masak dengan kayu dan nenek berjualan kelontong ala desa juga sangat kecil. Di balik warung itu ada amben kecil tempat kami bercengkerama menunggu pembeli datang. Di tempat itulah saya diajar kakek saya menulis huruf jawa. Salah satu yang saya ingat adalah : “cumplung gemlundung mlebu luweng unine mak bledheng”. Yang artinya : buah kelapa yang mash muda yang jatuh menggelinding masuk ke dalam saptic tank dan berbunyi bledheng. Kata kakek saya: “kalau kamu bisa menuliskan kalimat itu dalam tulisan jawa kamu akan bisa mengembangkannya. Kakek saya hidup sangat sederhana.

Beliau pensiunan kopral TNI AD. Kakek saya bangun jam 04.30 atau jam 05.00 terus mengasah sabit dan pacul. Pukul 05.30 sudah berangkat ke sawah. Sekira jam 08.30 saya diajak nenek membawa sarapan ke sawah. Kita sarapan pagi di sawah. Sayur yang dibawa biasanya: daun lembayung (daun kacang panjang), rebusan cipir, rebusan pare, sepotong kecil tempe dengan sambal. Kakek pergi ke sawah selalu membawa pancing untuk dipasang pada sudut-sudut sawah nanti dicabut tatkala akan pulang ke rumah. Ikan yang diperoleh kotes atau ikan gabus kecil atau ukuran 4 jari manusia dewasa. Saat membersihkan rumput diantara sawah biasanya juga mendapatkan belut. Makan siang kami dengan sayur yang sama ditambah dengan kotes dan belut goreng. Sore harinya saya dengan kakek mancing di kali kecil atau di blumbang belakang rumah dan biasanya kami mendapatkan lele. Setelah memdapat dua atau tiga kami pulang. Lauk makan malam ditambah dengan lele goreng.

Kehidupan sangat sederhana namun kakek nenek saya sangat bahagia. Tidak mengeluh ingin ini itu. Hiburan tengah malamnya hanya radio Philip kecil untuk mendengarkan siaran radio kalau ada pagelaran wayang kulit. Nenek saya biasnya mendengarkan sandiwara radio : butir butir pasir di laut atau syuraida. Saya tidak nyambung tapi enjoy saja. Kami tidur bertiga saya di tengah kanannenek saya kiri kakek saya. Saya merasa aman nyaman bahagia.sebulan liburan benar benar saya habiskan di rumah kakek saya. Kakek dan nenek saya setiap malam berdoa rosario dalam bahasa jawa setelah saya tidur. Saya merasakan mengapa kakek nenek saya yang saat itu sudah cukup tua sudah di atas 70 tahun.

Masih sehat masih nyawah hidup happy saja. Di jaman sekarang semua ada tetapi kurang saja dan ingin ikut mengatur apa saja. Bahkan yang bukan urusannya ikut diatur. Kurang dan terus merasa kurang membuatnya lupa bersyukur. Kakek saya mengajarkan kepada saya : “lakukan yang terbaik yang kamu bisa, dengan jujur dan penuh syukur kamu akan bahagia”. Kakek saya bercerita siapa saja yang serakah dan tidak bersyukur maka ia tidak selamat. Kakek juga bercerita bgm teman-temannya menjarah emas dan mengambil banyak harta benda di medan perang dan semua tidak satupun yang selamat. Keserakahan, dan menjadi budak dunia memang membutakan membuat lupa akan sesama alam bahkan Tuhannya. Semeleh memang meletakkan pada porsi dan posisinya untuk melihat yang positif, melakukan yang terbaik dengan tulus hati dan penuh rasa syukur sehingga hidup bisa dinikmati. (***)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *