China Umumkan 1 Tahun Lalu Kematian Pertama Akibat Covid

HEADLINE INTERNASIONAL

JAKARTANEWS.ID – BEIJING: China  mengumumkan kematian pertama satu tahun lalu, akibat virus jenis baru di kota Wuhan, yang dikenal sebagai virus corona.

Berselang 12 bulan kemudian, Covid-19 telah merenggut lebih dari 1,9 juta nyawa dalam pandemi yang tak kunjung usai di seluruh dunia.

Dalam laporan 11 Januari 2020, China mengonfirmasi kematian seorang pria berusia 61 tahun akibat virus tidak dikenal. Pria itu merupakan pelanggan tetap di  pasar basah Wuhan yang kini dikaitkan sebagai tempat awal kemunculan wabah Covid-19.

Saat itu, hanya sedikit orang yang mengetahui kematian tersebut, termasuk nama korban. Dua pekan usai mengonfirmasi kematian, Wuhan dan provinsi sekitarnya pun memberlakukan penguncian wilayah atau lockdown.

Tepat setahun pula usai kematian pertama, China pada Senin (11/1) mengizinkan para ahli independen dari Organisasi Kesehatan Dunia memasuki negaranya mulai Kamis (14/1). Komunitas internasional berharap tim tersebut dapat mengunjungi pasar dan menelusuri kembali secara rinci kemunculan awal virus corona di Wuhan.

Di sisi lain, kota berpenduduk 11 juta itu kini telah bangkit kembali dan warga setempat telah beraktivitas seperti biasa. Bahkan, warga Wuhan menyebut kota tempat tinggal mereka sebagai kota teraman di dunia.

“Sekarang Wuhan adalah kota teraman di China, bahkan di seluruh dunia,” kata seorang warga bernama Xiong Liansheng (66) kepada AFP pada Senin (11/1).

“Kesadaran masyarakat Wuhan tentang pencegahan dan pengendalian epidemi sangat tinggi, bahkan cucu saya yang berusia dua tahun akan memakai masker saat keluar,” tambahnya.

Warga lainnya menuturkan kasus Covid-19 di China saat ini kebanyakan berasal dari kasus impor dan negara memiliki pengendalian yang baik dalam mencegah penularan.

“Sekarang kebanyakan kasus di China diimpor dari luar negeri dan negara kami memiliki kontrol yang baik terhadapnya. Semua orang Wuhan merasa sangat aman di kota, dan kami datang ke sini dan menari dengan gembira setiap hari,” kata seorang wanita berusia 80 tahun bernama Zhong.

Kendati demikian, China dihujani kritik baik di dalam maupun luar negeri atas penanganan awalnya terhadap pandemi, termasuk upayanya dalam membungkam pelapor dan kegagalannya dalam melaporkan kasus di awal Januari 2020.

Kini, meski Wuhan telah terbebas dari virus mematikan tersebut, tapi pihak berwenang China masih berupaya memerangi serangkaian wabah lokal.

Pada Senin Negeri Tirai Bambu melaporkan 103 infeksi baru dan ini sekaligus menjadi angka tertinggi sejak Juli 2020. Temuan ini paling banyak terdeteksi di provinsi Hebei utara.

Untuk menahan penyebaran klaster baru, jaringan transportasi telah diputus dan sekolah juga ditutup.

Akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa pemerintah akan melarang ratusan juta orang melakukan perjalanan menyusul perayaan Tahun Baru Imlek bulan depan. (Amin)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *