GMKI: Gerakan Tidak Bisa Mengabaikan Perkembangan Teknologi

HEADLINE MEGAPOLITAN

JAKARTANEWS.ID -JAKARTA:  Gerakan mahasiswa harus bertransformasi dan mengakselerasi dirinya dengan kemajuan teknologi digital. Apalagi menuju Indonesia Golden Generation 2045 mendatang. Sebuah upaya besar untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Ketua Umum PP GMKI Jefri Gultom menyatakan bahwa era digital mengharuskan kader-kader gerakan untuk adaptif dan produktif. Menurutnya, kecepatan dan ketepatan ilmu pengetahuan dan teknologi seakan menggeser peran dan fungsi manusia dalam menjawab berbagai persoalan sosial.

“Mau tidak mau, manusia harus mampu menyelaraskan dirinya terhadap berbagai perubahan yang terjadi. Berselancar di atas gelombang informasi, terkoneksi, dan berkolaborasi untuk mengisi seluruh sendi kehidupan bangsa,”ujar Jefri kepada wartawan, Kamis (14/1/2021).

Dia menuturkan, keberadaan kader gerakan di tengah iklim networking society tampak vital untuk dikokohkan. Memberdayakan seluruh potensi dan sumber daya guna melakukan terobosan-terobosan secara organisatoris. Dengan demikian, kultur dan eksosistem organisasi perlu didesain sedemikian rupa guna menstimulasi lahirnya kreativitas dan inovasi kader.

Akhirnya, lanjut Jefri, nasib gerakan pada masa depan ditentukan oleh sentuhan kader masa kini. “Memori kolektif-historis itu sedianya dihidupi dan diilhami oleh para kader, agar gerakan ini dapat melakukan lompatan-lompatan besar kedepannya,”tambah Jefri.

Lebih lanjut, mantan Ketua Umum Federasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia Rekson Silaban mengatakan, gerakan tentu tidak pernah selesai. Sebagaimana dasar filosofisnya, bahwa sebuah Gerakan (movement) akan terus bergerak dinamis dan berkembang dari waktu ke waktu.

Namun, lanjut Rekson, melihat fenomena gerakan mahasiswa beberapa dekade akhir ini. “Berakhirnya Sebuah Gerakan”, demikianlah konsepsinya dalam artikel naratif – deskriptif yang ia bagikan pada agenda pra-pleno PP GMKI MB 2020-2022, kemarin.

Melalui momen pembekalan ini, Rekson menegaskan bahwa setiap gerakan pasti akan berakhir. Hal tersebut dimungkinkan terjadi bila berbagai instrumen demokrasi kian terbuka lebar, transparan, egaliter, akomodatif, dan humanis. Bahwa gerakan mahasiswa yang tidak mampu menjawab gumulan zaman pasti lebih cepat menuju pemakaman. Berkurangnya pasokan kader ideologis, kehilangan dukungan (block politics), dan disorientasi lawan merupakan tanda-tanda memudarnya sebuah gerakan.

Dengan mendasarkan pada pemikiran Herbert Blumer, aktivis perjuangan buruh ini mengetengahkan beberapa siklus gerakan, diantaranya tahap permulaan (emergence), tahap koalisi (coalescence), tahap birokratisasi (bureaucratization), dan tahap kemunduran (decline).

Dia mengatakan, tahapan terakhir itu dilatari oleh kesuksesan dan kegagalan gerakan, dimana pemimpinnya terkooptasi, mundur karena direpresif, dan kadernya berafiliasi dalam sistem. Pada titik inilah, ancaman keberakhiran sebuah gerakan semakin nyata.

Rekson mengatakan, penting untuk menumbuhkan motivasi kader yang berpangkal pada nilai (values) yang diperjuangkan, bukan pada benefit yang didapatkan. Bahwa benefit adalah bonus daripada proses panjang kader yang dipandu oleh nilai sebagai basis langkah juangnya.

“Ya, nilai adalah pusat dari segala gerak organisasi,”tukasnya. (Ralian)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *