Kejaksaan Agung Mulai “Acak-acak” Skandal Mega Korupsi Asabri

HEADLINE HUKRIM

Empat Pejabat PT. Asabri Diperiksa 

JAKARTANEWS.ID- JAKARTA: Sesuai janjinya,  Kejaksaan Agung mulai memeriksa saksi Skandal Mega Korupsi Asabri senilai Rp17 triliun. 

Namun, sayang pemeriksaan sedikit “terganggu” dengan disebutnya nama-nama saksi dengan inisial.

Padahal, dalam pengarahan Jaksa Agung mengawali aktivitas 2021 secara virtual minta Jajaran Adhyaksa akuntabel,  transparan dan menjaga integritas agar Trust publik diraih.

“Harusnya demikian. Kita memahami policy Kejaksaan, tapi asas presumption of innosence berlaku untuk tersangka,  ” kata Pegiat Anti Korupsi Indonesia Boyamin Saiman,  di Jakarta, Senin (18/1).

Pekan lalu, Jampidsus Ali Mukartono memberitahukan awal pekan ini pemeriksaan kasus Asabri dimulai.

ASABRI

Kapuspenkum Leonard Eben Ezer Sumanjuntak menyebutkan saksi yang diperiksa sebanyak 4 orang.

“Semua berasal dari PT.  Asabri (Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia,” katanya, di Kejagung, Senin (18/1) petang.

Keempat orang saksi dimaksud,  terdiri TY  selaku Kabid Pengelolaan Saham PT. Asabri  periode Januari 2012 – Maret 2017.

Lalu, IS (Staf Investasi PT. Asabri  2010 – Maret 2017) atau Kabid Pengelolaan Saham PT. Asabri  April 2017 – Oktober 2017 dan Kabid Transaksi Ekuitas PT. Asabri Oktober 2017 – sekarang.

Kemudian, IK selaku Plt. Kadiv Investasi PT. Asabri  Februari 2017  – Mei 2017 dan GP (Kadiv Investasi PT. Asabri Juni 2017 – Juli 2018).

Menurut Leonard,  pemeriksaan saksi dilakukan guna mencari serta fakta hukum dan mengumpulkan alat bukti tentang tindak pidana korupsi yang terjadi.

“Tentunya, pada PT. Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri),” jelasnya.

Sesuai Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pemeriksaan tersebut dalam rangkaian guna mencari tersangka.

SKANDAL JIWASRAYA

Seperti disampaikan Jaksa Agung ST. Burhanuddin, Selasa (22/12/2020, di Menara Kartika Adhyaksa saat menerima Meneg BUMN Erick Thohir pola dan pelakunya sama dengan Skandal Jiwasraya.

“Kita  sudah pengalaman dalam penanganan kasus asuransi Jiwasraya dimana hampir sama pola perbuatannya. ”

Dalam kasus Jiwasraya Kejaksaan telah memiliki banyak bukti-bukti pendukung yang bisa menjadi pertimbangan dalam mengembangkan penanganan kasus Asabri

Terkait asetnya, dia menambahkan akan dikejar terus, yang sudah diambil ke Jiwasraya tidak bisa diserahkan lagi ke kasus Asabri.

“Pasti akan kita kejar kemana saja,” tegasnya.

Seperti diketahui, enam tersangka kasus Jiwasraya atas nama Benny Tjokrosaputro Dkk telah divonis seumur hidup oleh Pengadilan Tipikor pada PN. Jakarta Pusat.

KASUS KEDUA

Dalam catatan Jakartanews. Id, kasus Asabri ini kali kedua yang ditangani Kejaksaan Agung.

Pertama, 2008 terkait soal dugaan korupsi sebesar Rp418 miliar untuk membangun Plaza Mutiara,  di Mega Kuningan dimasa Jampidsus Alm. Marwan Effendy.

Tiga tersangka ditetapkan atas nama Dirut PT. Cakrawala Karya Buana Henry Leo dan Dirut Asabri Mayjen TNI. Subarda Midjaja.

Satu tersangka lain, Tan Kian justru dihentikan penyidikannya, 3 April 2009. Padahal,  Henry dan Subarda terbukti bersalah.

Plaza Mutiara yang semula akan dijadikan Kantor Pusat Asabri menjadi sirna.

Sebab,  dengan alasan Tan Kian sudah mengembalikan kerugian negara sebesar 13 juta dikar AS, gedung itu diserahkan ke Tan Kian.

Henry Leo pun harus gigit jari. Asetnya sekitar Ro600-an miliar lebih disita dan sampai kini tidak pernah diaudit.  Juga harus masuk penjara.

Padahal, dalam proyek tersebut Henry yang membiayai dari dana Asabri,  Tan Kian yang menyediakan lahan. (ahi)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *