Fatmawati dan Tenun Kebangsaan

HEADLINE OPINI

Oleh: Ralian Jawalsen *)

Hari ini, 98 tahun tahun hari ulang tahun Ibu Negara pertama Republik Indonesia Fatmawati. Ibu Fatma, panggilan isteri Bapak bangsa Ir. Soekarno, lahir di Bengkulu 5 Februari 1923. Fatmawati berpulang ke Rahmatullah sudah 41 tahun lalu, di Kuala Lampo, Malaysia 14 Mei 1980. Ibu Presiden ke-5 Presiden Republik Indonesia berpulang di usia 57 tahun. Usia yang masih muda. Fatmawati meninggal meninggal dunia dalam perjalanan Umroh dari Mekah. Fatmawati dikebumikan di Karet Bivak, Jakarta.

Peran Fatmawati di masa perjuangan adalah menjahit bendera merah putih yang rencananya akan dikibarkan pada saat hari kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sebuah keberanian dan patriotik yang dilakukan ibu Fatma, dengan berani menjahit bendera yang ingin dikibarkan. Padahal, situasi pada saat itu adalah masa bergolak. Tapi Fatmawati tahu resiko akan yang dilakukannya itu. Resiko itu tidak membuat surut keinginannya untuk merdeka.

Fatma lahir dari pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah. Hasan Din adalah keturunan Kesultanan Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Hasan juga adalah seorang pengusaha dan tokoh Muhammadiyah Bengkulu.
Muhammadiyah, sebuah organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan, diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. Tujuan berdirinya organisasi ini adalah mengembalikan segala penyimpangan dari Islam yang bercampur baur dengan kebiasaan tertentu dengan alasan adaptasi. Dengan menekankan berdasarkan Alquran dam hadis.

Di usianya 20 tahun, tepatnya pada 1 Juni 1943, menikah dengan Soekarno yang kelak Presiden pertama dan Sang Proklamator. Soekarno menikahi Fatmawati pada saat dibuang ke Bengkulu. Terpesona dengan gadis berkebaya dan berkerudung putri tokoh Muhammadiyah Bengkulu. Yang belakangan diketuhi bernama Fatmawati. Pada masa pembuangan Soekarno ikut mengajar rakyat Bengkulu. Segala yang dipunyainya dia curahkan untuk rakyatnya supaya cedas.

Usia Soekarno dan Fatmawati terpaut 22 tahun. Namun, tidak membuat hubungan Bung Karno dengan Fatmawati canggung. Dari pernikahannya itulah, keduanya dikaruniakan lima anak, Guntur Soekarno Putra, Megawati Soekarno Putri, Rahmawati Soekarno Putri, Sukmawati Soekarno Putri dan Guruh Soekarno Putra.

Pada masa pergolakan, sosok Fatmawati sangat militan. Selain menjahit bendera merah-putih, Fatmawati juga ikut dalam pembuangan Soekarno. Ketabahan ketika suami dibuang, Fatma tetap tabah dan tawakal bahwa perjuangan penuh pengorbanan dan resiko. Fatma memilih jalan yang terjal dan penuh resiko. Namun, untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini dia relakan seluruh jiwa ragangya.

Bila ada nama rumah sakit, seperti nama dirinya, RS Fatmawati di Jakarta Selatan dan Bandara Udara Fatmawati Soekarno adalah bukti rekam jejak perjuangan dirinya yang berjasa sehingga perlu dikenal rakyat 270 juta penduduk di negeri ini. Selamat ulang tahun bu Fatmaw, semoga jasa-jasa mu tak terlupakan.

Dirgahayu Fatmawati bisa memberikan kesolidan kita sebagai warga negara. Di tengah upaya ingin memecah belah bangsa lewat ideologi yang ingin mengubah kesepakatan bapak atau ibu pendiri bangsa, ideologi Pancasila dengan ideologi asing. Maka dengan memperingati hari kelahiran fatmawati akan mengembangkan gotong royong dan kekeluargaan. Seperti menjahit tenun kebangsaan lewat bendera Merah-Putih. Ibu Sang Republik telah lama pergi, tapi bendera merah putih masih terus berkibar. Selamat ulang tahun Faunding Mother, Fatmawati.
(Ketua Bidang Kesejahteraan Sosial dan Kemasyarakatan DPD TMP DKI Jakarta *)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *