Dies Natalis GMKI dan Pandemi Covid-19

HEADLINE OPINI

Oleh: Ralian Jawalsen

Tanggal 9 Februari adalah hari ulang tahun Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Sebuah organisasi kemahasiswaan Oikumenis, dari berbagai denominasi gereja dengan latar belakang kampus yang berbeda berkumpul dalam wadah dengan motto tinggi Iman, tinggi Ilmu dan tinggi pengabdian. Walau pun motto ini perlu menjadi kajian yang mendalam sampai sekarang. Pasalnya, tiga motto itu tidak ada ukurannya bagi setiap kader GMKI.
Diesnatalis GMKI ke-71 bersamaan dengan hari Pers Nasional. Penulis tidak lupa mengucapkan Disnatalies Pers.

Selain motto, juga landasan teologia GMKI tidak bisa dilepaskan dengan doa Tuhan Yesus di taman Gesmani. Yohanes 17: 21 yakni, agar semua menjadi satu. Bahasa Yunani, Ut Omnes Unum Sint.

Namun, sosok Johanes Leimena tidak bisa dilepaskan dengan GMKI. Oom Yo, nama panggilan Johanes Leimena dalam sapaan sehari-hari adalah pendiri GMKI. Leimena kelahiran Ambon 6 Maret 1905. Putra pasangan Dominggus Leimena dan Elizabeth Sulilatu. Kedua orang tua Leimena adalah pendidik. Namun, usia lima tahun Leimena sudah ditinggal sang ayah.

Kepergian Dominggus akhirnya Elizabeth menikah lagi. Leimena kecil diasuh tante dan omnya, Jesaya Jeremias Lawalata hingga tahun 1914, Lawalata mendapat promosi menjadi guru kepala di Cimahi, Jawa Barat. Hingga akhirnya Lawalata dipindahkan ke Batavia. Leimena bersekolah di Mulo-Kristen (sekarang SMA PSKD Jl. Kwini, Jakarta Pusat).

Setelah tamat dari Mulo, selanjutnya Leimena melanjutkan di School Tot Opleding Van Indische Artsen (Stovia), cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI). Pada 1926 Leimena masuk organisasi Christen Studenten Vereniging (CSV) op Java, cikal bakal berdirinya GMKI tidak bisa menafikan peran Dr. C.L Van Doorn, seorang agronom, yang tiba di Hindia Belanda (dulu nama Jakarta-red) pada 1922. Pada saat itu Leimena dan Van Doorn mendirikan “Panitia Usaha Penyatuan Mahasiswa Kristen se-Dunia di Hindia Belada”.

Organisasi ini mendapat sambutan positif dan antusias ketika itu. CSV Batavia lebih banyak menekankan penelahan Alkitab dan diskusi di malam hari seusai para mahasiswa kuliah. Sosok nama Djojodiguno, Guru Besar Hukum Adat Universitas Gajah Mada, Djamin (tokoh NU tahun 1950-an, Muhammad Yamin. Bahkan, seorang mahasiswa RHS, yakni Amir Syarifuddin ikut terlibat aktif. Tahun 1935, Amir Syarifuddin menjadi Kristen. Bung Amir, panggilan Amir Syarifuddin adalah Perdana Menteri di era Presiden Soekarno. Dalam perjalanan politiknya, Amir tewas ditembak tentara sembari menyanyikan lagu Internasionale sembari menggenggam kitab Injil. Amir tewas karena pandangan politik yang berbeda.

Dalam buku Sejarahwan Universitas Indonesia, yang juga kader GMKI R.Z Leirissa, “Kewarganegaraan Yang Bertanggung Jawab” menyebut, diskusi yang digelar dengan thema-thema menarik. Hadir pembicara Prof.Mr. J.M.J Schepper, guru besar filsafat dan hukum pidana pada RHS. Diskusi yang menggairahkan ketika itu berkembang di tiga kota, CSV Java, CSV Bandung dan CSV Surabaya. Hingga pada 28 Desember 1932 terjadi penggabungan tiga CSV.

Dalam tulisan Leirissa disebut, Mr. A.L. Fransz, tokoh wanita Dewan Gereja Indonesia (DGI) menjadi tokoh penting dalam CSV op Java yang didirikan pada 1926. Sekretariat di Jl. Kebon Sirih 44, Jakarta Pusat yang kini menjadi Kantor Kedutaan Besar India adalah memiliki sejarah cikal bakal GMKI.

Seiring pada 1942 pendudukan Jepang, berdampak bagi nama-nama bahasa Belanda harus dihapuskan. CSV op Java akhirnya berganti nama Persekutuan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKI). Namun, nama PMKI tidak bertahan lama, setelah kekalahan pendudukan Jepang dari sekutu yang dikomandoi AS, Inggris dan Belanda. Terjadi tarik menarik kepentingan. Beberapa kelompok menginginkan CSV op Java. Sementara tidak sedikit yang ingin dengan nama PMKI.

Akhirnya, Johanes Leimena, yang juga menjabat Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada masa Kabinet PM Amir Syrifuddin mengumpulkan dua kubu, PMKI dan CSV op Java di rumahnya, Jl. Teuku Umar No. 36, Menteng, Jakarta Pusat, pada 9 Februari 1950. Dari dua kubu yang tetap bertahan dengan nama PMKI dan GMKI, akhirnya disepakati nama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Dengan alasan, perguruan tinggi tidak hanya di pulau Jawa saja tetapi sudah berada di berbagai daerah.

Perlu menjadi catatan, sejarah GMKI di Kaliurang, Yogyakarta. Namun, hal itu tidak usah dijadikan polemik. Suatu hal yang menarik setalah terbentuk GMKI, Johanes Leimena mengatakan, “tindakan ini adalah suatu tindakan historis bagi dunia mahasiswa umumnya dan masyarakat Kristen khususnya. GMKI jadilah pelopor daripada semua kebaktian yang akan dan mungkin harus dilakukan di Indonesia. GMKI jadilah pusat sekolah latihan dari orang-orang bertanggung jawab atas segala sesuatu mengenai kepentingan dan kebaikan negara dan bangsa Indonesia”.

Lebih lanjut Leimena mengutarakan, GMKI bukanlah merupakan suatu Gesellschaft, melainkan ia adalah suatu Gemeinschaft, persekutuan dalam Kristus Tuhan. Dengan demikian GMKI berakar baik dalam gereja, mau pun dalam Nusa dan Bangsa Indonesia.

Diusianya yang ke-71 tahun GMKI sebuah organisasi gerakan Oikumenis bukanlah usia yang muda lagi. Sudah menggelar 37 Konggres setiap masa dua tahun. Jenjang kaderisasi terbentuk dari masa perkenalan (Maper), Masa Bimbingan Anggota (Maba), Konfrensi Studi Lolal (KSL), Konfresi Studi Nasional (KSN), Konpresi cabang (Konpercab) hingga Kongres. Jelas tersistematis dengan baik.

Di tengah Pandemi Covid-19, GMKI diperhadapkan tantangan sebagai kader harus bisa melihat ini dengan kaca iman sebagai tinggi Iman dengan menjawantahkan ilmu yang dimilikinya di lingkungan gereja, perguruan tinggi dan gereja. Kader GMKI bukan menjadi “beban” pemerintah. Tetapi menjadi agen of change. Sebuah langkah visioner yang dilakukan GMKI sebagai institusi kemahasiswaan Kristen melihat pentingnya pemberdayaan lingkungan. Isu lingkungan menjadi konsen bagi GMKI. Terlebih, GMKI mengusung thema “Lihatlah Kristus menjadikan semua baru” diambil dari Kitab Wahyu 21: 1-5. Thema ini berdasarkan pergumulan dari realita kehidupan sehari-hari. Tentu, dibalik Pandemi Covid-19 ini ada tantangan yang harus dihadapi seluruh manusia. Berdasarkan data pemerintah, positif covid-19 mencapai 1.166.079 orang, dan meninggal dunia 31,763 jiwa. Sesuatu yang mengkuatirkan, namun, dengan ‘kaca mata’ iman orang percaya Allah akan menjadikan semua baru. Di tengah wabah global setiap orang percaya meyakini ada harapan dalam kehidupan baru. Karena Allah tidak perah memiliki rancangan kecelakaan, sebaliknya rancangan damai seterah. Selamat Diesnatalis GMKI, Ut Omnes Unum Sint. (Penulis Aktivis GMKI Angkatan 1998)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *