Catatan Tercecer RR: Antara Kudeta dan Takut Bayangan Sendiri

HEADLINE OPINI

Kudeta, kata orang Melayu Indonesia. Coup d’État, sebut warga Perancis. Secara harfiah itu berarti “serangan terhadap negara”, kendati secara sederhana kudeta dapat diartikan sebagai penggulingan kekuasaan atau pemerintahan yang sah di sebuah negeri.

Aksi kudeta umumnya dilakukan oleh pihak militer, diktator, ataupun sekompok faksi politik tertentu secara illegal, melanggar konstitusi. Dari Perancis ada tokohnya sang-Napoleon, di Libya dikenal Muammar Khadafi, juga Indonesia punya Soeharto, hingga Erdogan Tayyeb dari Turki kendati gagal. Beragam kudeta, baik secara berdarah-darah atau musyawarah mufakat, itu ikut membentuk dunia hari Ini.

Akan tetapi, rupanya, tidak semua aksi kudeta berakhir pada pemerintahan yang otoriter dan penuh represi alias tekanan. Ada pula kudeta yang justru dilakukan untuk mendemokratisasi sebuah negara. Benarkah?

Atau, apakah kisah terakhir ini yang mendasari rapat di Puri Cikeas, Jawa Barat, yang bikin berang Presiden RI ke-6 Soesilo Bambang Yudhoyono? Mafhum, dia menelisik adanya isyarat rencana kudeta atas Partai Demokrat besutannya itu bukan lagi urusan internal. Menyusul konferensi pers Ketua Umumnya, Agus Harimurti Yudhoyono, yang memaparkan upaya pengambilalihan partai oleh sejumlah kader, dan diduga melibatkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (Tempo.co, 8/2/2021).

“Di partai politik mana pun wajar ada ketidaksukaan kader, saya dan para ketua umum Demokrat sebelumnya juga mengalami hal itu,” ujar SBY, ketua majelis tinggi partai berlambang bintang merah-putih, menanggapi putra keduanya, yang pensiun muda berpangkat Mayor (TNI AD) dari Akademi Militer itu.

Namun yang tak bisa ditoleransi, kata SBY, adalah jika ada campur tangan kekuasaan terhadap urusan partai. Apalagi Moeldoko disebut-sebut membawa nama “Pak Lurah” dan pejabat pemerintah lain. Menurut SBY, kata sumber Tempo, Pak Lurah mengacu kepada Presiden Joko Widodo. Kendati Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, berkali-kali membantah sambil meminta urusan ini tak disangkutpautkan dengan Presiden atau Istana. Oalaaah, mbokne mbokne.

Tetapi catatan sejarah menulis. Ada dua partai politik besutan dua jenderal konon “dikudeta”. Ndilalahnya, bahkan, parpol kondang kampiun Pemilu sejaman Orde Baru kena “kudeta” dengan “menyerahkan nasibnya” demi selamat. Mereka dimandulkan? Weleh weleh weleh, kayak Ketakutan Bayangan Sendiri.

Kudeta Tak berdarah semodel proxy war ini rupanya sejalan dengan Tatanan Dunia Baru-nya sekelompok makhluk tertjerdas dunia namun laknatullah itu. Melalui sistem Hidup Normal Baru, mereka mendisain jumlah manusia sesuai kecukupan sumber daya alam sehingga kelebihannya perlu dibatasi. Hanya dua golongan: kelompoknya & pelayannya, tanpa dipengaruhi SARA. Namun, mereka lupa bahwa Gusti Allah Mboten Sare. Wallahu’alam Bisshowab. (Penulis: Rinaldi Rais (RR), Wartawan Al-Faqir)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *