Transformasi Organisasi, Apa Makna Buat Polisi?

HEADLINE OPINI

Oleh: Dr. Andry Wibowo, SIK, MH, MSi

Kata Reformasi dan Transformasi sangat dikenal luas dikalangan para pemimpin dan manager organisasi bisnis maupun birokrasi di dunia, apalagi pada era era dimana dunia menghadapi krisis yang memerlukan evaluasi sebagai suatu pengambilan posisi baru dalam mengoperasionalkan peta jalan baru bagi organisasi tersebut dalam skema “ REFORM AND TRANSFORM” .

bahkan pendekatan konsep transformational leadership menjadi salah satu mata pelajaran di berbagai sekolah kepemimpinan , bisnis dan birokrasi. Tentunya dalam makna teoritikal akan sangat banyak pandangan ahli menjabarkan dan memberikan definisi operasional termasuk makna praktikal dalam kepemimpinan dan organisasi yang akan memberikan polarisasi pemahaman dari mulai yang sederhana sampai dengan yang lebih kompleks.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), transformasi merujuk pada perubahan rupa, baik itu dari bentuk, sifat, ataupun fungsi. Transformasi juga memiliki arti berupa perubahan struktur gramatikal menjadi struktur gramatikal lain dengan menambah, mengurangi, atau menata kembali unsur-unsurnya. Singkatnya, kita bisa mengatakan bahwa transformasi adalah perubahan.

Ya “ PERUBAHAN “ adalah sesungguhnya arti kunci dari makna Transformasi, dengan makna yang sederhana ini kita bisa memahami lebih mudah bagi aktualisasi transformasi dalam organisasi.

Perubahan sebagai makna gramatikal tentunya mengandung arti perubahan yang mengarah kepada suatu kondisi baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Perubahan itu bersifat kompleks tetapi juga bersifat sederhana . Kompleksitas dan Simplisitas Perubahan Sangat Tergantung Kepada Muatan Perubahan Yang Diinginkan Dari Kondisi Sebelumnya Dari Kaca Mata Umum ( Deduktif ) sampai dengan kacamata khusus (Induktif) dan itu semua sangat tergantung dari kebutuhan dan kepentingan pemiliki saham organisasi berkaitan dengan upaya menyeleraskan Profile organisasi dan tantangan lingkungan yang selalu berubah.

Proses perubahan sangatlah diperlukan bagi setiap organisasi dan ia akan berlaku konstan , apalagi jika organisasi tersebut adalah organisasi yang hidup dalam
kebutuhan dan kepentingan publik.

Makna setiap perubahan dalam organisasi memberikan pengaruh terhadap sistem organisasi sub sistem pemimpin dan kepemimpinan, sub sistem portofolio struktur maupun sumber daya organisasi , sub sistem dinamika pengelolaan organisasi bahkan kultur organisasi yang bermuara pada efektifitas , efisiensi dan capaian “ performance” organisasi yang berhubungan kepada “quantity” jumlah) , “quality” (kualitas) , competitiveness (daya saing) produk organisasi yang diterima oleh publik atau “customer” yang urusannya adalah apakah organisasi telah menyesuaikan (customized) dengan aksetabiltas atau citra rasa publik. Semakin cocok dengan aksetabilitas publik semakin baik organisasi tersebut di mata publik.

Dalam perkembangan teori organisasi dan manajemen salah satu konsep yang berkembang dan dijadikan rujukan teoritikal dan praktek berorganisasi sehubungan dengan proses reformasi dan transformasi adalah teori tentang learning organization.

Menurut Pedler, dkk (Dale, 2003) suatu organisasi pembelajaran adalah organisasi yang:
1. Mempunyai suasana dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar dan mengembangkan potensi penuh mereka;
2. Memperluas budaya belajar ini sampai pada pelanggan, pemasok dan stakeholder lain yang signifikan;
3. Menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis;
5. Berada dalam proses transformasi organisasi secara terus menerus;

Tujuan proses transformasi ini, sebagai aktivitas sentral, adalah agar perusahaan mampu mencari secara luas ide-ide baru, masalah-masalah baru dan peluang-peluang baru untuk pembelajaran, dan mampu memanfaatkan keunggulan kompetitif dalam dunia yang semakin kompetitif.

Beberapa strategi umum proses perubahan organisasi :
1. Strategi meningkatkan proses kerja (improving work process) yang berkaitan dengan upaya mengatasi hambatan dan keterbatasan.
2. Strategi meningkatkan bagaimana bekerja (improving how to work) yang berkaitan formulasi perubahan mind set ( cara berfikir ) , menetapkan motivasi ,menyelaraskan budaya kerja baru maupun mengelola dinamika perubahan organisasi sebagai bagian dari siklus Planning – Organizing – Actuating – Controlling and Monitoring – Feed Back .
3. Strategi Menanamakam (Installing) point 1 dan point 2 pada seluruh komponen kepemimpinan , manajemen dan petugas lapangan.

Dengan demikian proses transformasi bagi organisasi adalah suatu keniscayaan yang sepatutnya dilakukan oleh setiap organisasi publik maupun private sebagai suatu upaya organisasi menyelaraskan (in tune) dengan harapan publik (public ecpectation) serta perubahan landscape ekosistem kehidupan.

Bagi polisi perubahan itu berkaitan dengan :

1. kompetensi (capabiility) berhubungan dengan kesiapan polisi melaksanakan tugas pokoknya secara baik dalam menjawab ancaman gangguan kamtibmas yang tumbuh dan berkembang secara dinamis
2. integrity berkaitan dengan ketulusan ( sincerity ) , keadilan ( fairness ) , kejujuran ( honesty );
3. quality ( kualitas )berkaitan dengan mutu proses dan hasil pekerjaan polisi ;
4. Kemudahan( accesibility )berkaitan dengan keterjangkauan tempat , efisiensi waktu dan pembiayaan .
5. Pemecahan Masalah atau panacea atas persoalan kamtibmas yang menjadi locus control utama polisi.

Salam Polri PRESISI. (*)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *