Penetapan Tersangka Skandal BPJS TK Masih Lama

HEADLINE HUKRIM

Belum Satu Pun Dicegah Ke Luar Negeri

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Puluhan saksi hingga kerabat Mantan Direktur Pengembangan Investasi BPJS TK (Tenaga Kerja) AN diperiksa,   namun tak kunjung ditetapkan tersangka. 

Padahal,  Sprindik (Surat Perintah Penyidikan) No: Print-02/F.2//Fd. 2/01/2021 diterbitkan beberapa hari dari Sprindik Asabri.  Tim Penyidik Asabri telah menetapkan 9 tersangka .

Bahkan,  sampai saat ini belum seorang pun dicegah untuk bepergian ke luar negeri.

“Saya dengar memang,  masalahnya cukup teknis, tapi saya berkeyakinan tim penyidik segera tetapkan tersangka,  ” kata Pegiat Anti Korupsi Boyamin Saiman,  di Jakarta,  Selasa (30/3).

Namun demikian,  Boyamin yang juga pelapor kasus BPJS TK hendaknya bersikap tegas,  agar penanganan perkara tidak mengambang.

“Dalam artian jangan seperti kasus Dana Hibah (dan Bansos) Sumsel atau kasus Bank Mandiri Surakarta Jilid II terjebak permainan kata. Sesungguhnya,  perkaranya tidak ‘disentuh. ”

Dalam kasus Bank Mandiri Surakarta,  Boyamin juga bertindak sebagai Pelapor ke Kejari Surakarta,  Solo.

Selain itu,  perkara Bank BTN Gresik dan Semarang dan BTN Kuningan,  perkara Victoria. Terakhir,  kasus Pelindo,  kasus Dana Hibah KONI Pusat dan penggadaan alat mesin pertanian,  di Kementerian Pertanian.

SATU LANGKAH LAGI

Kejaksaan Agung memeriksa IPW selaku
Deputi Direktur Analisis Portofolio BPJS TK tindak lanjut tim penyidik untuk pastikan adanya tindak pidana korupsi.

“Hari ini tim penyidik periksa IPW kapasitas sebagai saksi,  ” tutur Leonard Eben Ezer Simanjuntak,  Kapuspenkum,  di Jakarta,  Selasa.

Dalam keterangannya,  tidak dijelaskan begitu lama penyidikan dan tersangka belum ditetapkan.

Sementara hampir semua Jajaran Direksi BPJS diperiksa juga puluhan manajer investasi dari perusahaan sekuritas .

Jauh sebelumnya,  bahkan jajaran Direksi BPJS TK Periode 2016 – 2021 mulai Dirut Agus Susanto,  M. Krisna Syarif,  Evi Afiatin hingga Amran Nasution berulang kali diperiksa.

Direktur Penyidikan Febrie Adriansyah beralasan belum ditetapkan tersangka,  sebab masih mendalami pidana korupsi sekaligus dugaan permufakatan jahat.

“Apakah investasi BPJS TK ada mufakat jahat seperti kasus Jiwasraya dan kasus Asabri. Dimana ada keterlibatan unsur swasta,  seperti Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat,  ” tuturnya,  Kamis (25/3) malam.

Lebih spesifik lagi, kata Febrie terkait langkah-langkah investasi oleh direksi sehingga berakibat terjadi unrealized loss atau penurunan nilai aset investasi saham.

“Pertanyaannya,  seperti kasus Jiwasraya dan Asabri.  Ada tidak yang kendalikan investasi saham tersebut. ”

KERABAT

Dalam pencarian tersangka pidana korupsi dan bahkan tindak pidana pencucian uang,  kerabat Direktur Pengembangan Investasi BPJS TK diperiksa. Mereka,  adalah ER,  FRB,  MI dan YS, Rabu (24/3).

Belum diketahui direktur pengembangan investasi dimaksud, bila mengacu Jajaran Direksi BPJS TK yang dilantik Presiden,  Senin (22/2) adalah Edwin Ridwan. Jika periode 2016 – 2021,  adalah Amran Nasution.

Sebelumnya, Senin (22/3) diperiksa AC (Deputi Direktur SPI BPJS TK).

Lalu, Selasa (16/3), EH ( Asisten Deputi Analisa Pasar Saham BPJS TK), T (Dealer PT Panin Asset Management) dan DF (Fund Manager PT Bahana TCW Investment Management). (ahi)

Teks Photo: Kapuspenkum Leonard Eben Ezer Simanjuntak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *