Silang Pendapat Habib Rizieq Shihab dengan JPU  Diputus Selasa Depan

HEADLINE HUKRIM

JPU Minta Eksepsi Terdakwa Ditolak

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Silang pendapat antara JPU dengan Terdakwa Perkara Kekarantinaan Kesehatan Habib M. Rizieq Shihab berakhir sudah. 

Majelis Pengadilan Negeri (PN)  Jakarta Timur akan memutuskan pada sidang berikutnya,  Selasa (6/4) dengan agenda Putusan Sela.

Apakah Eksepsi Habib M. Rizieq Shihab yang dikabulkan atau sebaliknya, tanggapan JPH diterima dan sidang dilanjutkan ?

Pada persidangan,  Selasa (30/3) giliran JPU meluruskan keberatan terdakwa,  yang  disampaikan,  Jumat (26/3).

JPU minta majelis menyatakan surat dakwaan telah disusun sesuai ketentuan perundangan dapat dijadikan dasar pemeriksaan perkara Kekarantinaan Kesehatan,  di Petamburan ini.

Selain itu,  minta eksepsi Terdakwa ditolak dan menyatakan pemeriksaan dalam persidangan ini dilanjutkan.

ASPEK MATERIIL

Dalam tanggapannya,  JPU menilai eksepsi hanya  ditujukan kepada aspek formil, yang berkaitan dengan penuntutan atau pemeriksaan perkara oleh pengadilan.

Sedangkan aspek materiil perkara tersebut tidak berada dalam lingkup eksepsi.

Dicontohkan,  eksepsi  terdakwa yang menyampaikan keprihatinan dan menganggap dakwaan penuh dengan fitnah dan tuduhan keji terhadap terdakwa dan sahabat-sahabatnya.

Hal tersebut dilakukan dengan membanding-bandingkan kerumunan ribuan orang yang melanggar protokol kesehatan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh nasional, artis, pejabat negara, termasuk Presiden.

“Akan tetapi terdakwa menganggap Kepolisian dan Kejaksaan begitu sigap penuh semangat melakukan kriminalisasi pada kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. ”

Menurut JPU,  pernyataan itu  tidaklah tepat dan hanya menonjolkan kegiatan Maulid.

Padahal,  selain Maulid bersamaan juga diselenggarakan kegiatan pernikahan anaknya yang dihadiri kurang lebih 5.000 orang umat.

Begitu juga,  dengan  peresmian peletakan batu pertama Markaz Syariah, di Pondok Pesantren, di Megamendung Kabupaten Bogor yang dihadiri 3.000 orang.

MAHFUD MD

Masih,  kata JPU dalam upaya meyakinkan majelis. Eksepsi terdakwa menyebut Menkopolhukam Mahfud MD yang mengumumkan langsung agar massa menjemput terdakwa di Bandara.

“Kalimat tersebut tidak ada relevansinya dengan kerumunan yang ditimbulkan atas kedatangan terdakwa.  ”

Akan tetapi, seharusnya sebagai yang memahami dampak dari kerumunan tidaklah perlu  mengkambing-hitamkan Menkopolhukam sebagai penghasut atas kerumunan dimaksud.

“Justru atas kedatangan terdakwa-lah mengakibatkan kerumunan yang luar biasa baik yang terjadi, di bandara maupun pada kegiatan-kegiatan terdakwa, di beberapa tempat. ”

Seterusnya,  soal eksepsi mendalilkan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW, bagian dari fitnah oleh Kepolisian dan Kejaksaan

Dimana terdakwa mengkhawatirkan adzan Sholat ke Masjid, undangan kebaktian di Gereja, himbauan ibadah di Pura dan Klenteng merupakan hasutan kejahatan berkerumun.

Yang akhirnya,  terdakwa menyimpulkan merupakan kriminalisasi agama, dinilai JPU  eksepsi  terlalu berlebih-lebihan.

“Sebagai orang yang menjadi panutan tidaklah mudah menyimpulkan hasutan yang dilakukan terdakwa atas kegiatan pernikahan anaknya sekaligus pelaksanaan Maulid. ”

DUNGU

Menyoal  kalimat  terdakwa dalam eksepsinya menganggap Jaksa sangat dungu dan pandir soal SKT dan menganggap JPU mencoba menyebar hoaks dan fitnah.

Menurut JPU,  kalimat-kalimat seperti ini bukanlah bagian dari pada eksepsi.

“Sangatlah naif,  kalau  JPU yang menyidangkan perkara terdakwa dan kawan kawan dikatakan orang bodoh, bebal, tumpul otaknya.” (ahi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *