Ketika Dewi Keadilan Dituntun Pinokio

HEADLINE OPINI

Legenda Yunani menyebutnya titan Themis untuk sang Dewi Keadilan, serupa Justitia dalam legenda Romawi, yang kini perlambang dipakai kalangan advokat. Digambarkan sesosok perempuan semampai dengan mata ditutup kain tengah melangkah membawa-bawa timbangan di tangan kanan & pedang mengarah tanah di tangan kiri.

Pelan tapi pasti, sang Dewi Keadilan melangkahkan kaki mengarah ke Asia Tenggara. Berhenti di satu daerah yang katanya subur gemah ripah loh jinawi tetapi tidak dinikmati rakyatnya sebagaimana amanat konstitusi, yang dibangun berdarah-darah oleh rakyatnya.
Tetiba telinga Themis terusik swara-swara di balik rimbun pepohonan beringin, sejumlah hewan bercengkrama. Sang Dewi Keadilan mengenali ketika setiap hewan selalu menyebut diri sendiri saat memulai bicara, atau dimintai pendapatnya oleh Banteng, yang didaulat menjadi pemimpin.
“Syukurlah, harimau itu sudah ngeri memasuki wilayah kita. Raja Hutan itu takut dengan kekompakan kita,” ujar Banteng bermoncong hijau karena mulutnya tetap mengunyah rumput. Ocehan itu didengar seksama oleh Gajah, Ular, dan Kancil. “Tapi, sampai berapa lama? Bisakah Sikon ini dipertahankan hingga anak cucu kita?”
Singkatnya, harimau diam-diam mendatangi Banteng & Gajah. “Kalian tenang saja, saya hanya akan memangsa Ular & Kancil. Dan, Saya tidak memakan kalian,” janji kampanye Raja Hutan. Alhasil, Ular & Kancil dilahap harimau tanpa gangguan Banteng & Gajah karena berpikiran, “biarin azah yang penting bukan kita”. Harimau pun melenggang pamit menuju goa sarangnya.
Tanpa menunggu lama, hitungan sebulan tanggalan Masehi, berulah serupa dengan sasaran Gajah sambil membisiki jaminan keamanan bagi Banteng. Saat tubuh gajah lunglai digerogoti harimau itulah Banteng menyadari tinggal sendirian. Panik pun terlambat, sambil menanti Harimau kembali datang.
Tetiba, Sang Dewi Keadilan pun bangkit mendatangi Banteng risau yang ingin dinasihati. Namun langkahnya terhalang oleh tangan terasa kayu, yang belakangan diketahui mengaku Pinokio. Boneka buatan Gepetto si-tukang kayu asal Italia itu melarang ikut campur Dewi Keadilan, “Keadilan yang kau bawa berbeda dengan rasa keadilan rimba raya di sini.”
“Hayo ikuti aku, ada persoalan besar yang bisa kamu selesaikan,” ajak Pinokio sambil menuntun tangan kiri yang memegang pedang eksekutor. Namun, yang tidak diketahui Themis/Justitia tapi dirasakan Pinokio, saat menambah panjang hidung Pinokio; pertanda bohong sebagai kutukan Peri Biru sesaat dihidupkan dari boneka kayu menjadi hidup.
Belakangan, Sang Dewi Keadilan dicekoki perhiasan emas dan dijanjikan kedudukan demi melupakan tekadnya Menegakkan Keadilan Walau Dunia Runtuh dikenal Fiat Justitia Ruat Caelum, seperti diucapkan Lucius Calpurnius Piso Caesoninus (43 SM). Alhasil, muncul lah kredo: Homo Homini Lupus-nya Thomas Hobbes atau Manusia menjadi Serigala bagi Manusia Lain. (Rinaldi Rais (RR), Wartawan Al-Faqir.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *