Patriotik, Modern dan Profesional Syarat Mutlak Aparatur Negara

HEADLINE OPINI

Oleh: Dr Andry Wibowo Sik MH Msi

Di dalam banyak literatur kemiliteran dan kepolisian dunia konsep tentang patriotisme, modernisme dan profesionalisme selalu melekat dalam bahasan- bahasan berkaitan dengan budaya organisasi.

Konsep pertama tentang  PATRIOTISME, konsep ini tidak sekadar digambarkan sebagai teks yang bersifat retorik tetapi juga dalam digambarkan dalam realita kontekstualitas dalam banyak peristiwa bersejarah organisasi masing-masing yang umumnya dihubungkan dengan sejarah perang atau melawan kejahatan yang bersifat KEJUANGAN dan KEPAHLAWANAN meskipun patriotisme itu juga ada dan dilakukan dalam banyak bidang kegiatan manusia seperti politik, ekonomi, budaya, sosial, kesehatan, pendidikan, dsb.

Sehingga pada proses keberlangsungan generasi , patriotisme sebagai spirit nilai kejuangan dan kepahlawanan di desain dan di konstruksikan tidak sekadar sebagai suatu doktrin yang wajib diketahui tetapi juga sesuatu yang wajib tertanam dan menjadi pondasi sikap diri bagi setiap personel militer atau polisi dan seluruh komponen masyarakat.

Sebagai suatu pondasi yang penting patriotisme adalah nilai yang memiliki relevansi yang sangat kuat dengan sikap mental, kehendak dan tindakan yang berhubungan dengan rasa cinta tanah air yang diwujudkan dalam sikap menempatkan kepentingan dan cita-cita negara dan bangsa dalam setiap langkahnya.
Hal tersebut tidak saja berkaitan dengan upaya menjaga kedaulatan secara politik tetapi juga memelihara harmoni (kesatuan) masyarakat serta mengelola sumber daya kehidupan secara teratur dan terencana mulai sumber daya manusia maupun alam berikut produk turunannya.

Sebagai suatu “MENTAL STAGE“ patriotisme akan menjadi stimulus penting karena ia akan tergambar dari gagasan, pengambilan keputusan dan kontekstualisasi dalam program serta kultur bekerja dan daya tahan pada prinsip prinsip cinta tanah air dalam gelombang dialektika dengan realitas relasional kehidupan yang syarat dengan konflik ide-ide dan kepentingan.

Pada kenyataannya tidak banyak bangsa, masyarakat, komunitas maupun individu yang berhasil mempertahankan patriotisme ini dalam arti sesungguhnya. pragmatisme kekuasaan dan problem sosial pada realitasnya menjadi ancaman paling besar dari patriotisme itu sendiri.

Bangunan penting lainya dalam perkembangan peradaban yaitu adanya pemahaman yang utuh tentang MODERNISME.

Banyak orang terjebak memahami modernisme pada hal-hal yang berkaitan dengan mesin dan teknologi yang diwujudkan dalam pemanfaatan mesin dan teknologi dalam bekerja dan pendukung kehidupan.

Masyarakat telah dianggap modern ketika lingkungan kehidupannya di- komestikasi dengan produk produk industrial.

Namun sesungguhnya modernisme itu adalah evolusi berfikir yang bersifat transformastif dari instingtif dan intuitif pada cara berfikir bertumpu pada rasionalitas. Transformasi dari pemikiran ileterasi (tanpa landasan pengetahuan) bertransformasi pada literasi (pengetahuan).

Maka dari itu modernisasi ada relevansinya dengan proses perkembangan dan penghargaan kepada ilmu pengetahuan. Sedangkan cara berfikir rasional tergambar secara evolutif pada potret perjalanan peradaban, ia bergerak secara konstan dan berkelanjutan dari masyarakat 1.0 yang sangat sederhana menggunakan rasionalitasnya kepada masyarakat 5.0 yang sudah terhubung dengan mesin kecerdasan buatan.

Dengan demikian sesungguhnya modernisme berkaitan dengan respons diri dalam memahami kebutuhan organisasi dalam menjawab tantangan lingkungan strategis melalui cara berfikir ilmiah (scientific thingking process) dalam mendukung pengambilan keputusan, program, rencana kegiatan maupun pelaksanaannya.

Dengan demikian berfikir modern adalah berfikir rasional, karena melalui pendekatan rasionalitas segala sesuatunya memiliki landasan pembenaran yang kokoh dengan ukuran ukuran yang dapat diterima tidak saja pada konteks kontemporer tetapi juga pada konteks sejarah dan proyeksi ke depannya.

Dalam pekerjaan pekerjaan yang berkaitan dengan urusan publik maka modernisme itu dapat menjadi ukuran pada gagasan gagasan besar tentang legalitas dan legitimasi yang berkaitan dengan kebenaran keputusan dan tindakan dari perspektif struktur formal pada organisasi formal tetapi juga kebenaran dari perspektif struktur sosial masyarakat.

Bangunan yang ketiga yang penting dalam membangun postur ke-bhayangkaraan adalah PROFESIONALISME.

Profesionalisme merupakan anti thesa dari amatirisme. Pertanyaan berikutnya apa perbedaan antara keduanya bukanlah seorang amatir juga dapat mengerjakan hal hal yang dilakukan oleh seorang profesional.

Ada banyak ahli yang menjelaskan bahwa profesionalisme adalah berkaitan dengan standar seseorang dalam menjalankan pilihan perkerjaannya yang berhubungan dengan latar pendidikan dan latihan, ketepatan seseorangan tersebut mengaktualisasi pada bidang pekerjaan yang didasarkan kepada latar belakang pendidikan dan latihannya yang dilakukan secara terus menerus sehingga pada akhirnya sosok profesional akan ahli pada bidang pekerjaannya.

Selain dari pada itu, seorang profesional mampu mengerjakan pekerjaannya sesuai standar pengetahuan dan pelatihan sebagai profesional dan mendapatkan penghargaan atas profesionalitasnya dalam bentuk kesejahteraan yang nilainya sesuai dengan tingkat keahliaannya.

Tidak cukup pada hal tersebut, seorang profesional selalu bekerja didasari dengan motivasi misi organisasi yang dibatasi oleh etika dan moralitas demi kemuliaan profesinya.

Polisi, Dokter, Tentara, Jaksa, Hakim adalah contoh pekerjaan yang memiki diferensiasi melalui spesifikasi pekerjaan yang khas masing- masing sehingga manusia profesional akan tertantang untuk selalu mengembangkan diri melalui proses pencarian ilmu pengetahuan dan keterampilan melalui berbagai jenjang pendidikan dan latihan sesuai kebutuhan peningkatan kapasitas profesional atau pun mandiri (self development) untuk selalu menyegarkan (REFRESH), memperbaiki (REPAIR), memperbaharui (RENEW), penajaman (RE- FOCUSING) atau meningkatkan (UPGRADE) kapasitas diri agar memiliki kapasitas dan kapabilitas diri dalam menyelesaikan misi misi profesional yang diembannya.

Sehingga secara sederhana profesionalisme dapat dimaknai sebagai konsep nilai yang digunakan sebagai parameter penguasaan bidang pekerjaan melalui kecukupan syarat pendidikan dan latihan serta pengalaman pada bidang pekerjaannya, kecakapan menjalankan pekerjaan berdasarkan batasan spesifikasi pekerjaan dan dimotivasi kepada kemuliaan tujuan tujuan pekerjaan itu sendiri.

Sehingga dengan demikian jika kita memahami alur konseptual konsep patriotisme, modernisme dan profesionalisme yang berkaitan dengan postur ke-bhayangkaraan, ketiga konsep itu saling berintegrasi dalam konsep afeksi, kognisi dan psikomotorik yang wajib tergambar dalam “day to day“ pelaksanaan tugasnya. Integrasi 3 (tiga) konsepsi besar yang menjadi budaya kerja diri dan organisasi ini pada akhirnya akan menentukan tidak saja kemajuan organisasi tetapi juga akan menjadi lokomotif kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.

Dengan demikian masa depan Indonesia yang masyarakat bercirikan hubungan yang bersifat patron – client maka kemajuannya sangat tergantung kepada keterpenuhan postur Aparatur Negara yang patriotik dimana sosoknya selalu menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan dirinya dan kelompok, kedua ia juga merupakan sosok yang modern yang memiliki kesadaran membangun diri melalui proses belajar secara terus menerus untuk memelihara dan meningkatkan kapasitas diri yang memadai sehingga memiliki kapabilitas dalam mengelola organisasi dengan pendekatan sains sebagai prasyarat utama profesionalitas menjalankan peran dan fungsi (role and function) organisasi untuk memastikan segala sesuatunya dikerjakan secara efektif, efisien dan akuntabel. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *