Mulyanto: Daripada Kompor Listrik, Sebaiknya Pemerintah Kembangkan Jargas Sesuai Temuan BPK

HEADLINE PARLEMEN

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto menilai, program gerakan satu juta kompor listrik yang dicanangkan pemerintah dalam rangka konversi LPG dengan listrik sekaligus mengefisiensikan surplus pasokan listrik merupakan gerakan yang bersifat instant dan komplementatif.

“Tujuan utama program ini cukup baik, namun sifatnya jangka pendek dan komplementatif,” ujar Mulyanto kepada para awak media, Senin (5/4/2021).

Mulyanto berpendapat, konversi LPG menjadi listrik atau sumber energi lain sangat bagus dalam rangka mengurangi impor LPG dan defisit transaksi berjalan perdagangan migas, sebab selama ini komoditas LPG dan BBM menjadi biang keladi defisit transaksi migas Indonesia.

“Jadi gerakan satu juta unit kompor listrik di tengah surplus listrik yang mencapai 30 persen ini cukup bagus,” kata Mulyanto.

Namun, lanjut Mulyanto, untuk jangka panjang konversi LPG dengan listrik tidak efisien.

“Mengingat siklus atau rantai konversi energi dari sumber energi primer menjadi listrik lalu digunakan untuk kompor listrik sangat panjang,” jelas Mulyanto.

Mulyanto menggambarkan siklus produksi gas alam menjadi listrik cukup panjang.

“Dari PLTG gas alam dibakar menghasilkan panas untuk memanaskan tungku air agar menghasilkan uap. Uap panas yang dihasilkan digunakan untuk menggerakkan turbin,” ungkap Wakil Ketua F-PKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan ini.

Mulyanto menerangkan, gerakan turbin ini digunakan untuk menghasilkan listrik.

“Dari pembangkit listrik ditransmisi dan didistribusikan ke rumah tangga. Baru listrik diubah menjadi panas kembali untuk memasak melalui kompor listrik,” tukas Mulyanto.

Mulyanto mengungkapkan, siklusnya mencapai 5 rantai. Panjang dan terjadi inefisiensi di setiap rantai.

“Bila kita mengkonversi LPG dengan menggunakan gas alam, maka rantai konversi energinya hanya sekali saja, yakni dari gas alam langsung dibakar menghasilkan panas,” tutur Mulyanto.

Karena itu, Mulyanto meminta pemerintah untuk lebih menggesa konversi LPG dengan gas alam,” imbuh Mulyanto.

Mulyanto pun menyayangkan program jargas (jaringan gas) rumah tangga ini berjalan lambat dan tidak jelas roadmapnya, bahkan soal ini telah menjadi temuan BPK pada pemeriksaan mutakhir.

Untuk itu, legislator asal Dapil Banten 3 ini mendesak pemerintah untuk mempercepat pembangunan jaringan gas (jargas) nasional sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

“Target pemerintah di tahun 2024 adalah sebanyak 4 juta sambungan rumah tangga (SR) jargas. Sementara realisasinya sampai dengan tahun 2020, baru mencapai total sebesar 660 ribu SR atau sekitar 16.5%-nya. Ini kan Masih sangat jauh, padahal waktu yang tersisa tinggal 3 tahun lagi”, tandas Mulyanto. (Daniel)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *