Cari Tersangka, Mantan Direktur Keuangan BPJS Evi Afiatin Diperiksa Lagi

HEADLINE HUKRIM

Skandal BPJS Tenaga Kerja 

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Kembali diperiksa untul kedua kalinya, namun status Mantan Direktur Keuangan BPJS Tenaga Kerja (TK)  Evi Afiatin masih saksi dalam Skandal BPJS TK. 

Sampai sejauh ini,  belum seorang pun dari Jajaran Mantan Direksi BPJS TK yang dikomandani Agus Susanto dicegah bepergian ke luar negeri.

Padahal, Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) diterbitkan nyaris berbarengan dengan Asabri,  yang  telah menetapkan 9 tersangka,sejak 15 Februari 2021.

“Belum ada yang dicegah (bepergian) ke luar negeri,  ” kata Direktur Penyidikan Febrie Adriansyah,  beberapa waktu lalu.

Dari informasi yang dihimpun,  tim hanya butuh satu langkah lagi,  guna pastikan kerugian Rp20 triliun selama 3 tahun terakhir,  adalah masuk perbuatan melawan hukum.

“Yakinilah,  tim bekerja profesional dan merujuk kepada fakta hukum,  ” tutur sebuah sumber,  di Kejaksaan Agung, Selasa (6/3).

EVI AFIATIN

Kepastian EA adalah Evi Afiatin mengingat Direktur Keuangan BPJS TK yang baru menyusul dilantiknya Anggoro Eko Cahyo sebagai Dirut BPJS TK oleh Presiden,  Senin (22/2) adalah Asep Rahmat Suwandha.

Barisan Agus Susanto,  termasuk Amran Nasution digusur bersama Dewan Penasehat BPJS TK.

Menurut Kapuspenkum Leonard Eben Ezer Simanjuntak pemeriksaan EA guna mencari fakta hukum,  dalam upaya tim penyidik mengumumpulkan alat bukti untuk membuat terang tindak pidana.

“Statusnya sebagai saksi,  ” tegas Leonard,  di Jakarta,  Selasa (6/3) sore.

Bersama Evi,  turut diperiksa M selaku Karyawan PT. Mandiri Sekuritas dalam kapasitas sebagai saksi.

Pemeriksaan terhadap Evi Afiatin yang pertama,  Jumat (22/1). Saat itu ikut diperiksa M. Krisna Syarif (Mantan Direktur Pelayanan BPJS TK).
Krisna diperiksa untuk kedua kali,   Rabu (24/2).

Sementara Mantan Dirut BPJS TK Agus Susanto diperiksa terkahir,  Kamis (25/2). Pemeriksaan Agus pertama,  Rabu (27/1) bersama Amran Nasution,  yang dua pekan lalu kembali diperiksa.

TRIMEGAH

Selain itu, Rabu (24/2) Kejagung juga memeriksa lagi Dirut PT. Trimegah Asset Management Antony Dirga, Dirut BNI Sekuritas Putut Endro Andanawarih.

Serta , HP selaku Dealer Pasar Utang BPJS-TK, II ( Deputi Direktur Analisa Portofolio BPJS-TK) dan T (Bank Mandiri Custody).

Jauh sebelumnya, Kamis (4/2) diperiksa Stephanus Turangan (Dirut PT. Trimegah Sekuritas Indonesia).

Eksekutif dimaksud juga sempat diperiksa beberapa kali bersama Erry Firmansyah (Mantan Dirut BEI) terkait penyidikan umum Jiwasraya.

Entah alasan dan pertimbangan apa sehingga Eksekutif PT. Trimegah Sekuritas dan Trimegah Asset Management bolak – balik Gedung Bundar.

Sama seperti Yacinta Fabiana Tjang (Dirut PT. UOB Kay Hian Sekuritas). Awak Media Peliput di Gedung Bundar dengan canda sering menyebut “Customer” alias Pelanggan Gedung Bundar.

Kasus BPJS, seperti dilaporkan Koordinator MAKI Boyamin Saiman terkait pengelolaan keuangan dan investasi.

Lebih sempt lagi, Direktur Penyidikan Febrie Adriansyah menyebut sebagai investasi (reksadana) dengan analisa lemah, sehingga dalam 3 tahun bisa merugi hingga Rp20 triliun.

“Memang bagian Keuangan BPJS TK sebut potensi dan akibat kerugian bisnis. Pertanyaannya, apakah ada perusahaan sejenis dalam 3 tahun berturut-turut merugi hingga Rp10 tahun, ” tanyanya balik dengan argumen masuk akal, Kamis (11/2). (ahi)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *