Harga Sembako Ramadhan Menaik Abaikan Efek Pandemi Covid-19

EKBIS HEADLINE

JAKARTANEWS.ID — JAKARTA: Harga-harga bahan pokok (sembako) yang dikelola pebisnis semasa awal puasa tetap tidak menampakkan keramahan kepada konsumen sehabis dampak pandemi Covid19 melemahkan ekonomi masyarakat. Menyusul kunjungan Menteri Perdagangan, M.Lutfi, ke pasar-pasar tradisional.

“Fase kenaikan harga pangan selalu terjadi, paling tidak 10 tahun terakhir, kita mengalami hal seperti ini pada awal puasa,” ujar Ketum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, Abdullah Mansuri, kepada media. Ia menyebut Bapok dimaksud berupa minyak goreng, telur, ayam, dan daging sapi.

Diakuinya, fluktuasi harga itu mengikuti hukum ekonomi yaitu supply dan demand dimana harga meningkat manakala permintaan melebihi ketersediaan barang. “Persoalannya yang terjadi adalah data dimana tidak sama antarinstansi terkait. Seharusnya pemerintah mempercayakan itu pada BPS (Badan Pusat Statistik),” ujarnya Senin (12/4).

Perbedaan dimaksud, seperti pantauan wartawan, kerap terjadi saat menentukan ketersediaan bahan pangan yang berujung impor. Yaitu berbeda antara data Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Badan Urusan Logistik.

“Faktanya, tiap kementerian dan lembaga punya data masing-masing. Perbedaan data itulah yang kemudian memicu keresahan masyarakat soal pasokan. Rumor yang sering kali diikuti dengan penimbunan tersebut lalu mengerek harga komoditas,” urai Mansuri.

Untuk itulah Mendag M.Lutfi mengunjungi sentra-sentra pasar seperti Pasar Kramatjati & Pasar Cipinang di Jakarta Timur sebagai sentra sayur mayur dan beras, serta Pasar Kosambi dan Pasar Sederhana di Bandung, Jawa Barat, sepekan terakhir.

“Saya sudah keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur bersama Kementerian Pertanian untuk memastikan pasokan cadangan yang nantinya akan memenuhi kebutuhan daging segar di Jabodetabek dan Bandung,” ujar Syailendra, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, disela mendampingi Mendag Lutfi.

Harga Eceran Tertinggi

Gejolak harga terpantau sejak satu bulan lalu melampaui jauh batas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Baik yang dicatat Info Pangan Jakarta maupun Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), seperti harga gula pasir mencapai Rp 17.000/kg atau melebihi HET yang Rp 12.500/kg.

Harga cabai rawit merah bahkan sempat menyentuh Rp140.000/kg, tertinggi di Nusa Tenggara Timur sampai Rp 141.250/kg, sekarang mendekati Rp70.000/kg, masih jauh di atas normal Rp 25.000/kg. Kondisi itu sejak awal Maret 2021 tersebar 13 provinsi di Indonesia.
Bahan pokok serupa di antaranya telur ayam kini Rp 24.500/kg, hanya beda hitungan hari naik dari Rp 20.500/kg. Juga Bapok lainnya seperti daging sapi, kerbau, ayam, hingga memengaruhi harga gas elpiji tabung per-3kg. (royke)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *