Catatan Tercecer RR: Kancil Dinobatkan Harimau Jadi Raja Hutan

HEADLINE OPINI

Oleh: Rinaldi Rais *)

“Kancil jadi Raja Hutan? Huh sombong yang kelewatan,” sungut banteng moncong putih.
“Ahh itu sih mimpi anak nakal kemarin sore yang suka curi mentimun saja,” timpal gajah.
“Kalau ukuran cerdik bisa saja begitu. Tapiii khan mustahil Harimau kalah tarung,” kilah bajing.
Tetiba, obrolan itu sontak berhenti sesaat kancil datang sambil bersiul. Kawula hutan antah-berantah itu memandangi makhluk herbivora penikmat tumbuhan warna cokelat, tepatnya takjub, mengamati polah kancil; seakan membenarkan kabar burung. Seiring hantu ancaman hukum undang-undang Informasi & Transaksi Ekonomi dibalut aturan Ujaran Kebencian, “tentu berita itu bukan hoax,” batin fauna secara koor.
Suasana hening itu berlalu sewaktu ada suara tercekat yang terbata-bata. “Cil, kancil. Bolehkah aku menanya sesuatu? Benarkah kamu sudah jadi Raja Hutan?” desah kerabatnya rusa, yang spontan dibenarkan kancil sesaat menghentikan langkahnya.
“Kalau tidak percaya, silakan buktikan. Sekarang juga aku datangi harimau,” ujar hewan yang juga dikenal sebagai pelanduk, sambil meminta semua rekan penghuni rimba mengikuti & mengintip saja dekat sarang Sang Raja Hutan yang kini disebut pecundang oleh kancil.
Singkatnya, Sang Kancil berteriak lantang di depan goa hewan karnivora pemakan daging bermotif loreng. “Hooooi harimau keluar kau. Mulai sekarang aku lah, kancil, si Raja Hutan di rimba raya ini.”
Wajah bersungut-sungut karena terganggu tidur siangnya dibalut rasa penasaran memaksa harimau keluar sarang. Dialog pun tak terhindari, sampai akhirnya harimau menerima tantangan Sang Kancil berkeliling hutan untuk melihat “ketakutan” seisi rimba raya kepada si-pelanduk.
Pelan tapi pasti, harimau yang mengiringi langkah tegap kancil di depannya melihat semua penghuni hutan lari serabutan. “Lihat, lihatlah kenyataan wahai harimau. Mereka kocar-kacir lari ketakutan saat aku berjalan. Jadi, mulai sekarang aku lah Raja Hutan. Dan kau, harimau, cukup menghuni sarangmu di goa sambil meratapi nasib pecundangmu.”
Pengakuan harimau, bahkan menobatkan kancil sebagai penggantinya, itu spontan ditertawakan akal cerdik Kancil si-anak nakal. “Dasar modal otot, disiasati begitu saja sudah menjadi pecundang. Padahal, ketakutan para penghuni hutan itu karena melihat harimau yang mengawal di belakangku. Huahahaaa, harimau kini sudah tidak beda dengan kerabatnya kucing”.
Sang Kancil pun berkumpul lagi dengan lingkungannya, spontan dielu-elukan. Situasi ini dimanfaatkan pelanduk untuk mengumumkan: “Mulai sekarang, kalian bergantian mengantar makanan & minuman kesukaanku. Kalau menolak maka dijerat peraturan buatanku, dan ini berlaku bagi para kawula. Kecuali bohir-bohir yang mendukung dan menyenangkan syahwatku dalam harta dan tahta. Juga, satu lagi, Aku mau berkuasa seumur hidup, Titik!!!” .( RR/ Wartawan Al-Faqir *)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *