Nama Pengirim Tak Dicantumkan, Jamiluddin Ritonga: Dukungan via Karangan Bunga Sudah Politis

HEADLINE NASIONAL

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Polri mendapat karangan bunga dari beberapa elemen masyarakat. Karangan bunga itu memberi pesan dukungan terhadap Polri dalam memberantas jaringan teroris, khususnya Munarman.

Pesan-pesan dukungan itu tentu wajar dalam negara demokrasi. Rakyatnya berhak memberi apresiasi dan dukungan terhadap lembaga negara yang dinilainya berhasil.

Demikian disampaikan Pakar Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga kepada para jurnalis, Jumat (30/4/2021).

Menurut Jamiluddin, hal itu dinilai wajar kalau memang karangan bunga itu murni atas inisiatif dari masyarakat. “Hal ini menjadi aspirasi masyarakat yang dalam negara demokrasi harus dilindungi,” katanya.

Hanya saja, lanjut Jamiluddin, pesan dukungan melalui karangan bunga itu menjadi tidak wajar bila kehadirannya hasil rekayasa. “Individu atau lembaga tertentu memesan karangan bunga dengan pesan hampir senada dibuat seolah-olah dari sumber yang berbeda. Tujuannya tentu bermacam-macam, termasuk berupa dukungan terhadap individu atau lembaga tertentu,” ujar Dosen Isu dan Krisis Manajemen Universitas Esa Unggul, Jakarta ini.

Jamiluddin menjelaskan, dalam kasus karangan bunga untuk Polri, menjadi pertanyaan mengapa nama pemberi karangan bunga tidak dicantumkan. “Hal ini membuat pihak yang menerima dukungan (Polri) tidak mengetahui siapa atau lembaga mana yang mendukungnya,” ungkapnya

Karena itu, tutur Jamiluddin Ritonga, sulit menelusuri apakah karangan bunga itu berasal dari sumber yang sama atau berbeda. “Semoga saja karangan bunga itu memang dari sumber yang berbeda,” harap Penulis Buku Riset Kehumasan ini.

Jamiluddin berharap, karangan bunga itu juga semoga disampaikan oleh masyarakat dengan setulus-tulusnya, bukan rekayasa dari pihak-pihak yang mencari muka.

Kalau itu yang terjadi, tegas Jamiluddin, maka pesan dalam karangan bunga itu sudah memuat kebohongan publik. “Tentu hal itu akan menyesatkan masyarakat,” imbuh Dekan Fikom IISIP, Jakarta 1996-1999 ini.

Jamiluddin pun berpendapat, hal itu perlu disikapi secara seksama mengingat pesan dukungan melalui karangan bunga sudah menjadi trend belakangan ini. “Karangan Bunga sudah dijadikan bagian dari komunikasi politik yang tujuannya mempengaruhi opini publik,” terangnya.

Lebih lanjut, Jamiluddin mengingatkan, dalam komunikasi politik tidak boleh menyampaikan pesan bohong. “Komunikasi politik melalui karangan bunga harus tetap menjunjung tinggi etika berkomunikasi,” pungkas Jamiluddin Ritonga. (Daniel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *