Joko Satriyo YPKC Sesali Tertundanya Pembangunan Sekolah Perawat di Depok

HEADLINE MEGAPOLITAN

JAKARTANEWS.ID — JAKARTA: Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Kesehatan Carolus, Joko Satriyo, menyesali tertundanya kembali pembangunan Sekolah Tinggi Keperawatan oleh YPKC lantaran adanya klaim kepemilikan dari sekelompok orang mengaku ahli waris Bolot bin Jisan di Jalan Tole Iskandar, Kel. Depok, Kec.Pancoranmas, Kota Depok, Jawa Barat.

“Padahal kami, YPKC, telah memenangkan secara inkraag dalam kasasi PTUN Bandung & Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung,” ujar Joko Satriyo mengaku pengurus YPKC sejak 2002, didampingi ketua tim kuasa hukum, Dwi Rudatiyani SH, kepada wartawan di Margonda Raya, malam Minggu (2/5).

Apalagi, katanya, tim kuasa hukum dan tim pengamanan dari YPKC dituduh memasuki lahan seluas 19.185 M2 itu dengan cara-cara premanisme. “Padahal kami menerima informasi dari tim hukum sudah dilakukan secara kemanusiaan & legal terutama terhadap keluarga penghuni rumah kecil,” ujarnya seraya menyebut tertundanya pembangunan sehabis pembelian lahan dikarenakan dana tidak cukup.

Menurut Ani, panggilan Dwi Rudatiyani, pihaknya bertindak sesuai legal standing berdasar putusan inkraag dari MA & PTUN. “Kami juga menawarkan kepindahan penghuni rumah kecil (Gesang Sumarno & Sri Suhyati) di atas lahan itu untuk dikontrakkan sampai satu tahun kalau diminta,” ujar Ani sambil menunjukkan legalitas sejumlah sertifikat hak guna bangunan (HGB) setempat.

Premanisme

Di tempat sama Toto Trihamtoro SH MM, Presdir PT Putratama Bhakti Satria, mengungkapkan kebingungannya ketika ada tudingan premanisme sewaktu bertemunya pihak YPKC dengan ahli waris Bolot bin Jisan.

“Kami ini bekerja (sebagai profesional bidang security) legal, dan mulai bekerja setelah MoU dengan YPKC. Itupun setelah tim hukum YPKC datang Selasa (6/4). Jadi, kami tidak tahu apa & siapa premanisme itu karena kami tidak merasa,” ujar Toto.

Sebelumnya, seperti diberitakan, Umar Setiadi selaku kuasa ahli waris Bolot bin Jisan pernah mengungkapkan kekesalannya dan menyebut premanisme terhadap cara-cara pihak YPKC saat memasuki lahan yang diklaim milik kakeknya Bolot bin Jisan.

Sejak memasuki lahan, katanya, mulai terlihat sekumpulan orang mondar-mandir berjaga-jaga juga nampak pemuda-pemuda yang mengenakan pakaian bertuliskan salah satu ormas yang ada di Jakarta, sebagian lagi dengan menggunakan pakaian seragam keamanan.
Menanggapi ini, Toto Trihamtoro mmbenarkan. Alasannya, pihaknya teah menempatkan petugas keamanannya dan memberlakukan wajib lapor bagi siapapun yang memasuki lahan tanggungjawabnya setelah MoU dengan YPKC. “Kami legal, bukan preman,” tandasnya. (royke)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *