Mendag Luthfi Akui AS Sumbang Neraca Surplus dan Defisit Kontribusi Tiongkok

EKBIS HEADLINE

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Kinerja perdagangan nasional dibayangi kenaikan impor & ekspor sepanjang Januari-Mei 2021, menyusul anggaran Kementerian Perdagangan yang Rp 307,49 milyar diblokir Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, karena kurang data pendukung dan administrasi, melengkapi defisit APBN 2021 hingga April mencapai Rp 138,1 triliun.

“Kinerja perdagangan Indonesia terus mengalami penguatan, selama 2021. Surplus neraca Januari-Mei senilai USD 10,17 miliar melampaui periode tahun sebelumnya yang USD 4,18 miliar atau tertinggi dalam 10 tahun terakhir,” ujar Mendag M.Luthfi dalam rilis diterima media, Rabu (16/6).

Kinerja perdagangan itu, dikatakannya, berjalan di tengah pemblokiran ajuan anggaran 2021 diantaranya program untuk pembangunan atau revitalisasi pasar rakyat, pembangunan pusat produk dalam negeri, hingga pembangunan pusat jajanan kuliner di kawasan wisata.
Dijelaskannya, kinerja ekspor Januari-Mei 2021 meningkat 30,58% dibanding tahun lalu berasal kelompok produk bijih, terak, dan abu logam HS 26, disusul besi & baja HS 72, berbagai produk kimia HS 38, timah dan barang HS 80, lemak dan minyak hewan/nabati HS 15, serta ampas/sisa industri makanan HS 23.

Sementara kinerja impor periode sama meningkat 22,74% dibanding tahun lalu ditopang impor migas 34,55% & nonmigas 21,23%. “Amerika Serikat (satu dari tiga) penyumbang surplus neraca nonmigas USD 3, 49 miliar, dan Tiongkok (satu dari tiga) kontributor defisit USD 1,09 miliar.”

Defisit APBN

Menkeu Sri Mulyani mengisyaratkan defisit anggaran pendapatan & belanja negara terus mengalami pelebaran. Hingga April 2021 defisit Rp 138,1 trilyun dengan realisasi Rp 585 trilyun dalam target 2021 senilai Rp 1.743,63 trilyun, atau lebih besar defisit tahun lalu Rp 74,4 trilyun.

“APBN 2021, pemerintah menetapkan belanja Rp2.705 trilyun, dialokasi kepada 87 Kementerian & Lembaga (K/L) sebesar Rp1.032 trilyun. Belanja tersebut akan difokuskan pada kelanjutan penanganan Covid-19, vaksinasi, perlindungan sosial, dan pemulihan ekonomi,” ujarnya.

Pengelolaan defisit APBN, katanya, sesuai Perpres 72/2020 perubahan Perpres 54/2020 tentang perubahan postur & rincian APBN 2020 memiliki estimasi defisit dengan pembiayaan dari Surat Berharga Negara (SBN), pinjaman bilateral & multilateral.

Sebelumnya, ekonom Rizal Ramli menilai realisasi APBN Maret 2021 sudah over-budget & batu dipresentasikan setelah banyak ditanya awak media dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis 22/4/2021).

“Menkeu Sembunyikan Data karena Anggaran Keropos. Makin jelas, Sri Mulyani ngaku kelola fiskal hati-hati, prudent, ternyata ugal-ugalan dan tidak transparan,” jelas Rizal Ramli dalam cuitan twitternya, dikutip CNBC Indonesia (Jumat,23/4). (royke)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *