Sesditjen Susi Ajak Masyarakat Ikut Awasi Migor Curah Dilarang Beredar

EKBIS HEADLINE

JAKARTANEWS.ID — JAKARTA: Kementerian Perdagangan mengajak masyarakat & stakeholder terkait untuk ikut mengawasi peredaran minyak goreng curah berasal dari bekas menggoreng (jelantah) yang terindikasi karsinogenik sebagai senyawa kimia beracun penyebab kanker.

“Parameter pengawasan minyak goreng kemasan sudah diatur undang-undang, mulai soal perdagangan hingga perlindungan konsumen, terkait larangan beredar minyak goreng curah yang diberlakukan mulai 1 Januari 2022,” ujar Sesditjen Perlindungan Konsumen & Tertib Niaga (PKTN) Kemendag, Susi Herawati, dalam webinar bertajuk Kupas Tuntas Regulasi Minyak Jelantah dari Aspek Tata Niaga & Kesehatan, Rabu (23/6).
Dijelaskannya, parameter dimaksud berupa standar nasional Indonesia (SNI) Minyak Goreng wajib kemasan & label sesuai Permenperin nomor 46 tahun 2018; juga Permendag nomor 36/2020 mengatur kemasan serta keamanan pangan yang melarang memperdagangkan pangan rusak/cacat, tercemar, & informasi barang tidak lengkap hingga soal larangan penyimpanan/penimbunan dalam jumlah & waktu tertentu seperti diatur UU 7/2014 diubah UU 11/2020 tentang perdagangan & UU 8/1999 tentang perlindungan konsumen.
Sesditjen Susi mengakui Permendag 36/2020 juga mendorong industri minyak goreng daerah meningkatkan kapasitasnya dalam bentuk wajib kemasan. “Ini sekaligus menginisiasi kesiapan kalangan pelaku usaha & berharap semua regulasi mendukung instrumen pengawasan lapangan,” tandasnya.

Bahaya Jelantah

Di tempat terpisah Dirjen PKTN, Veri Anggrijono, mengungkapkan Permendag 36/2020 terkait melindungi konsumen dari dampak negatif daur ulang minyak goreng pakai berkali-kali atau jelantah. Menyusul minyak goreng wajib kemasan dengan proses sesuai standar kesehatan.
“Kami juga mendorong konsumen cerdas berdaya dalam hak & kewajiban, sekaligus membentuk pelaku usaha yang bertanggungjawab, sesuai aturan yang berlaku,” ujar Dirjen Veri Anggrijono kepada media.
Ditjen PKTN Kemendag mencatat 931 pengaduan sepanjang tahun 2020 atau menurun dibanding tahun sebelumnya yang 1.110 pengaduan, dan 2018 sebanyak 1.771 pengaduan. Dari total 931 pengaduan konsumen, Kemendag berhasil menyelesaikan 93,12% pengaduan atau 863 kasus dengan 4 kasus ditolak karena bukan permasalahan konsumen akhir sedangkan 64 kasus masih dalam proses.
Hal senada diungkap Sahat Sinaga. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) itu menyatakan minyak goreng curah rawan disalahgunakan karena bahannya bisa saja berasal dari minyak jelantah yang mengandung karsinogenik. Padahal, tambahnya, jelantah hanya cocok untuk dibuat biodisel.
“Jadi, perlu dibuat regulasi yang jelas dengan hukuman tegas bagi penjual minyak jelantah untuk keperluan konsumsi,” jelas Sahat dalam webinar, Rabu (23/6). “Minyak jelantah banyak diminati mancanegara untuk biodisel, atau diolah dalam negeri menjadi biodisel untuk konsumsi domestik,” urainya. (royke)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *