BEM UI Sindir Presiden Jokowi, Jamiluddin Ritonga: Jangan Bunuh Karakter Sang Ketua

HEADLINE NASIONAL

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Setelah BEM UI menjuluki Presiden Joko Widodo (Jokowi) The King of Lip Service, lalu muncul tudingan tak sedap kepada Ketua BEM UI Leon Arvinda Putra.

Ketua BEM UI dituding Asuhan Cikeas dan pendukung Front Pembela Islam (FPI). Bahkan Leon sebagai anggota HMI yang beafiliasi ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Menanggapi hal tersebut, Pakar Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai, tudingan itu tampaknya sengaja disampaikan secara vulgar untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang diperdebatkan ke sifat atau reputasi dan kredibilitas pribadi Leon.

“Para penuding tidak menjawab substansi kenapa muncul julukan The King of Lip Service, tapi mereka lebih fokus merusak reputasi dan kredibilitas Leon,” kata Jamiluddin kepada para wartawan, Jumat (2/6/2021).

Menurut Jamiluddin, tujuan mereka jelas, dengan rusaknya reputasi dan kredibilitasnya, publik diharapkan tidak mempercayai Leon dan BEM UI yang dipimpinnya. “Publik diharapkan menjadi antipati dan berbalik menyerang Leon dan BEM UI,” ungkapnya.

Jamiluddin menyebut, upaya pembunuhan karakter (character assassination) semacam itu memang kerap terjadi di Indonesia. “Diskursus menjadi tidak berkembang karena pihak-pihak yang berwacana lebih fokus menyerang orangnya daripada apa yang diwacanakan,” jelas Dosen Metodologi Penelitian Komunikasi Universitas Esa Unggul, Jakarta ini.

Akibatnya, lanjut Jamiluddin, bukan solusi yang dihasilkan dari sebuah wacana. “Wacana justru berkembang pada bertebarannya stigma-stigma negatif yang ditujukan kepada pihak-pihak yang berwacana,” terangnya.

Celakanya, tutur Jamiluddin, pada kasus BEM UI, para pemberi stigma negatif itu datang dari orang-orang terdidik dan bahkan ada yang sudah dedengkot di dunia politik. “Mereka tega memberi stigma negatif kepada para mahasiswa yang memang masih belajar berwacana,” sesal Penulis Buku Riset Kehumasan ini.

Jamiluddin menegaskan, mereka justru memberi contoh tidak baik kepada juniornya dalam berwacana. “Anehnya mereka justru terkesan bangga melakukan hal itu,” ungkap Dekan Fikom IISIP, Jakarta 1996-1999 ini.

Jamiluddin mengingatkan, kalau para mahasiswa terus diajarkan berwacana dengan membunuh karakter seseorang, maka mereka dikhawatirkan akan melakukan hal yang sama di kemudian hari. “Kalau ini yang terjadi, tentu berbahaya bagi perkembangan komunikasi politik di tanah air,” ingatnya.

Akibatnya, tambah mantan Evaluator Harian Umum Suara Pembaruan ini, wacana tidak akan pernah produktif, karena etiap wacana akan selalu diiringi dengan pembunuhan karakter.
“Hal ini dapat melahirkan dendam, dan tentu saja hal ini tidak sehat untuk komunikasi politik di negeri kita tercinta,” pungkas Jamiluddin Ritonga. (Daniel)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *