Catatan Tercecer RR: Negara Mustahil Musuhi Rakyat

OPINI

Oleh: Rinaldi Rais /RR*)

L’etat C’est Moi, Negara adalah Aku. Begitulah Raja Perancis, Louis XIV (14 Mei 1643 – 1 September 1715) disematkan dunia, yang sukses menaklukkan Belanda, Inggris, dan Spanyol, kemudian menerapkan absolutisme dan negara terpusat.
Namun raja yang digelari Louis le Grand menyesalinya menjelang 72 tahun akhir kepemimpinan terlama monarki di Perancis & Eropa. Sebelum ajal, seperti didengar penulis Louis de Rouvroy, sang Raja Agung mendesahkan, “Je m’en vais, mais l’État demeurera toujours” atau “aku akan pergi, tetapi negara akan tetap ada”.

Tersirat, Louis XIV yang dijuluki juga Le Roi Soleil alias Raja Matahari menegaskan kematiannya (dalam pemerintahan) tetapi riskan membubarkan negara. Penggantinya, atau pendahulunya, pun bukanlah Negara melainkan sebatas menjalani Roda Pemerintahan, selaku amanah Negara.
Apa beda? Negara dipastikan berarti Pemerintah, tetapi Pemerintah bukan berarti Negara. Yaps, literatur bebas menyebut syarat primer sebuah negara adalah memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki pemerintahan yang berdaulat.

Tetiba, Penulis terpana melihat sebuah truk bak terbuka melintas. Di belakang truk ada poster kain bertuliskan: “Negara Peduli Kita Tidak Boleh Mati Karena Virus Covid19, tapi Negara Lupa Kita Bisa Mati karena Kelaparan”
Entah mengerti atau tidak si-sopir memaknai tulisan itu. Yang pasti, kalimatnya seperti memberi isyarat bahwa kesenjangan di antara rakyat sebagai disfungsi negara. Padahal, yang mungkin dimaksud Disfungsi Pemerintah.

Karena Negara sebatas simbol, yang menjamin kesejahteraan rakyat melalui roda pemerintahan.
Artinya, Negara sebagai simbol mustahil mengkhianati rakyat. Sementara pemerintah berisikan manusia bersyahwat yang seringkali menyelisihi rakyat. Tanpa kecuali, model apapun sistem pemerintahan. Kerajaan kah, demokrasi kah, komunis kah, parlemen kah, presidensial kah, atau bahkan bekas negara serupa Bavaria, kini bagian dari Jerman, dan Piedmont, kini bagian Italia.

Semisal Negara Turki, rakyat berjaya semasa Khalifah Utsmaniyah. Tetapi, rakyat babak belur dikuliti Kemal Attaturk. Dan, rakyat  kembali makmur sampai sekarang di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan. Sampai-sampai Perancis tak berkutik manakala Presiden Erdogan menyetop operasional sekolah Perancis di Turki sebagai balasan ditolaknya perijinan sekolah Turki di Negeri Mode itu.
Sementara Indonesia menunjukkan keunikannya. Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2021 menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan sedunia, di tengah terus merebak kasus korupsi. Lebih miris sewaktu Menteri Sosial, Juliari Batubara asal PDIP, aparatur pemerintah dipimpin Presiden Joko Widodo, ikutan diringkus Komisi Pemberantasan Korupsi lantaran mengakali dana Bantuan Sosial Covid19.

Kasus korupsi Harun Masiku pun ikutan raib. Ataukah berlaku ucapan petinggi pemerintah: Malaikat yang masuk sistem pun bisa berubah menjadi setan? Jadi, orang-orang yang penyantun itu tiba-tiba menjadi maruk ketika mendapat kuasa.
Dan, Negara tak berkutik ketika aparatnya bermanut-ria mengiringi ritme ayunan tangan sang-dirigen alias konduktor dalam sebuah orkestra simfoni; membius bahkan berbisa. Korsa korps pun terbata-bata. Candu iman keyakinan juga tergagap-gagap. Alhasil, rakyat terkungkung kendati ujar-ujar menyebut: Suara Rakyat Suara Tuhan. Wallahu’alam Bisshowab. (Wartawan Al-Faqir *)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *