Somasi Sentul City ke Rocky Gerung dan Warga Bojongkoneng Berbuntut Gugatan Warga

HEADLINE HUKRIM

JAKARTANEWS.ID — JAKARTA: Heboh somasi PT Sentul City Tbk terhadap filsuf Rocky Gerung & sejumlah warga yang menempati lahan di Bojongkoneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, berbuntut panjang. Sengkarut tanah itu masuk ranah politik, kehidupan para penggarap, ekosistem lingkungan hidup hingga penguasaan lahan.

Bagi Antoni SH MH, somasi yang dilayangkan mewakili kliennya Sentul City itu merupakan bagian hak yang sah berupa sertifikat hak guna bangunan. Katanya, seperti dikuti dari situs resmi Sentul City, pengembang brencana memanfaatkan lahan Desa Bojong Koneng meneruskan upaya pengembangan areal yang sebelumnya telah terbangun di Desa Citaringgul, Desa Babakan Madang.

“Setelah dilakukan pemetaan aset-aset SC, kami menemukan bangunan-bangunan liar berupa vila-vila dan atau rumah rumah didirikan oleh di luar masyarakat asli Bojong Koneng,” ucap Antoni kepada media seraya menyebut somasi terhadap RG dengan KUHP Pasal 167, 170 & 385.
Menanggapi ini, Haris Azhar selaku kuasa hukum RG mengisyaratkan kliennya pemilik tanah dengan cara patut & sah seluas 800 M2 di Blok 026 Kp Gunung Batu, RT/RW 02/11, Desa Bojongkoneng, Kec.Babakan Madang, Kab.Bogor, dari H. Andi Junaedi pada 1 Juni 2009. “Sejak tahun 1960, hingga dibeli klien kami, lahan itu tidak pernah sengketa,” ujar Haris dari Lokataru.

Berbalas Somasi

Somasi Sentul City atas ke-6 warga penguasaan 63.059 M2 dijawab gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bernomor perkara 718/Pdt.G/2021/PN JKT.SEL. Mereka menggugat Faisal Farhan (Kepala Departemen Hukum PT Sentul City) sebagai Tergugat I dan PT Sentul City sebagai Tergugat II hingga Turut Tergugat ke-VII.

Sementara Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atau SIPP PN Jaksel, seperti dikutip detikNews (Minggu,12/9), somasi SC dilayangkan ke Fatahangi, Ridwan Limantoro, Six Trinawati Sri Suryani Saloh, Abdul Hakim, Asthilia Ayuningtyas, dan Hendriata MS Wullur, yang sidang perdana 5 Oktober 2021.
Kondisi ini, bagi Rocky Gerung, justru membuka masalah lain seperti penguasaan lahan oleh konglomerasi dan kerusakan ekosistem lingkungan hidup termasuk kehidupan petani singkong dan salak masyarakat setempat.

“Kalau saya, Alhamdulillah, ada 37 respon banyak pihak yang menawari lahan dan tempat tinggal termasuk rumah kopel dari developer. Tapi, bagaimana kehidupan ratusan petani beserta keluarga di bawah sana,” ujar deklarator Kesatuan Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) itu dalam bincang dengan Jurnalis Senior Hersubeno Arief dalam RG Official, Selasa (14/9) ditandai 8,8 ribu like dan 319 dislike serta 920 subscribe itu.

Tanggapan lain dari tokoh Tionghoa, Lieus Sungkharisma, yang meminta Presiden Joko Widodo untuk membenahi masalah pertanahan.

“Kasus SC- RG itu menjadi contoh di banyak tempat sehingga Presiden Jokowi seharusnya juga memprioritaskan ini karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” cuit medsos Lieus, Rabu (15/9).

Juga pengamat sosial politik, Muslim Arbi. Katanya, kasus Rocky Gerung mirip Habib Rizieq Shihab dengan memberangus “kekayaan” warga yang kritis dimana lahan Front Pembela Islam (FPI) milk HRS ikutan diutak-atik setelah HRS dipenjarakan. Disusul komentar lain dari Kementerian ATR/BPN, politisi Gerindra dan PKS. (royke)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *