15 Tahun Buron, Pembobol Bank Mandiri Rp120 Miliar Ditangkap

HEADLINE HUKRIM

Komut PT. CGN Syaiful Masih Gelap

JAKARTANEWS.ID-JAKARTA: Sempat buron selama 15 tahun, Ir. Aryo S. Budihanto, terpidana  pembobolan Bank Mandiri sebesar Rp120 miliar berhasil ditangkap Tim Tangkap Buronan (Tabur) Gabungan Kejaksaan, Kamis (16/9).

Sebaliknya, buronan Kejaksaan Negeri (Kejari)  Jakarta Selatan,  Syaiful Anwar (Komut PT. Citra Graha Nusantara-CGN), sejak 2007 sampai kini belum tersentuh.

“Buronan Aryo Santigi Budihanto diamankan (ditangkap,  Red)  di Jalan Gatot Subroto No.40, Malabar, Kec. Lengkong, Kota Bandung,” kata Leonard EE. Simanjuntak,  Kapuspenkum, di Kejaksaan Agung, Kamis (16/9) malam.

Pria 51 tahun ini dinyatakan buron, setelah Tim Jaksa Eksekutor pada Kejaksaan Tinggi (Kejari)  DKI memanggilnya secara patut tidak diindahkan, 2006.

Sesuai Putusan Mahkamah Agung (MA) No:1568 K/PID/2005 tanggal 30 Januari 2006, Aryo dihukum selama 10  tahun dan denda sebesar Rp.1.000.000.000.

Leonard mengungkapkan kasus Aryo Dkk berawal  pada tanggal 14 Februari 2002 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2002.

Bertempat di Kantor PT. Bank Mandiri Cabang Prapatan, di Jalan Kwitang Raya No. 30 AB Jakarta Pusat.

“Mereka secara bersama-sama, secara melawan hukum  memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara sebesar Rp120 miliar.”

Tim Tabur Gabungan terdiri Tim Tabur Kejaksaan Agung dan Tim Tabur Kejari Bandung,  Jawa Barat.

 

SYAIFUL ANWAR

Kisah buron Syaiful,  Detailer Obat yang keseharian menggunakan kendaraan roda dua, dinyatakan buron sejak,  Jumat (26/10/2007).

Dia dinyatakan buron, karena tidak mengindahkan pemanggilan Tim Jaksa Eksekutor Kejari (Kejaksaan Negeri)  Jakarta Selatan.

Sementara, dua koleganya Edyson (Dirut PT. CGN)  dan Direktur Keuangan Diman Ponidjan memenuhi panggilan untuk dieksekusi, Kamis (25/10/2007).

Sempat, dikabarkan Syaiful telah meninggal, tapi setelah di cek, di Medan dan Jambi tidak ditemukan kuburannya.

Kasus berawal,  2003 saat PT. CGN ajukan kredit investasi ke Bank Mandiri senilai 18,5 juta dolar AS untuk membeli aset PT. Tahta Medan,  yang dalam penguasaan BPPN.

Kredit pun dikucurkan sebesar Rp160 miliar dalam bentuk bridging loan (dana talangan).

Belakangan,  kredit bermasalah dan digunakan untuk kepentingant lain. Tahun 2008, kerugian negara sebesar Rp160 miliar dibayar sehingga kasusnya tidak berlanjut. (ahi)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *