Wadidaw, Kotak Pandora Diyakini Sentuh Nurani Presiden Jokowi

HEADLINE OPINI

Oleh: Rinaldi Rais *)

Wadidaw, dibuka lagi kotak pandora ala Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) yang berisikan kertas-kertas catatan gerombolan pengemplang pajak. Pandora Papers 2021 yang menguak hampir 12 juta dokumen itu menaklukkan Panama Papers 2016 dengan 11,5 juta dokumen.

Di antara pemilik perusahaan cangkang itu, Pandora Papers, mencatatkan dua nama kondang Menteri Koordinator pemerintahan Presiden Joko Widodo yaitu Luhut Binsar Panjaitan selaku Menko Investasi dan Maritim, yang juga urusi pandemi Covid19 wilayah Jawa-Bali, berduet Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, Ketum Golkar & urusi pandemi Covid19 wilayah Timur.
Keberadaan Opung LBP diakui juru bicara Menko Marves, Jodi Mahardi. Katanya, LBP pernah menjadi pimpinan di Petrocapital SA sepanjang 2007 hingga 2020, seperti dikutip Majalah Tempo (4-10/10). Hal senada diungkap Airlangga Hartarto, bersama adiknya Gautama Hartarto, putra Menperin Hartarto era Presiden Soeharto, menolak ikutan dalam Buckley Development dan Smart Property.

Ironis

Milyaran bahkan trilyunan rupiah deposit para pengemplang pajak, di tengah megap-megap rakyat banyak negara efek kebijakan pandemi Covid19, tentu merasuki rasa keadilan manusia. Ironisnya, Kotak Pandora terkuak seiring pelaku usaha sangat mikro (UMKM) dikejar-paksa pemerintah membayar pajak tapi saat yang sama ada pejabat negara menghindari bayar pajak. Bagai pertaruhan peradaban & kebiadaban.
Konsorsium ICIJ memperkirakan sekitar 10 persen dari total ekonomi dunia diparkir di pusat-pusat keuangan luarnegeri, yang bisa merugikan pemerintah hingga miliaran dollar, karena pendapatan yang hilang. Padahal uang ini seharusnya bisa dihabiskan untuk pembangunan jalan, rumah sakit, dan sekolah. Para pakar mengatakan negara-negara miskin juga dirugikan akibat penyimpanan kekayaan di pelayanan yang menghindari pajak ini.
Hal itu mirip Kotak Pandoranya artefak mitologi Yunani. Sang (makhluk) Pandora, penjaga guci (baca: kotak), membuka penutup kotak berisikan aneka syahwat kejahatan makhluk astral. Sesaat kaget, Pandora menutup kembali guci itu. Malangnya, merujuk wikipedia, justru yang tertinggal dalam guci itu Harapan; sebagai syahwat baik makhluk.
Manusia pun terimbas kutukan itu. Satu-satunya yang mampu menyelamatkan kehidupan manusia itu adalah Harapan dalam Kotak, seperti lirik lagu duet pesohor Broery Marantika/ Pesulima dan Dewi Yull berjudul “Jangan Ada Dusta Diantara Kita”
Yups, setiap pengemplang pajak seharusnya “menyisakan” rasa nasionalisme skala keluarga demi kelangsungan hidup berbangsa & bernegara. Sedikit membayangkan segelintir anak-cucu keturunan, kerabat, hingga perkawanan karib, ikutan “menderita” dampak macet pembangunan kehidupan berbangsa bernegara kelak. Wadidaw, sangat Miris!!!
Ketukan terdalam nurani kemanusiaan itu, amat-sangat diyakini, mampu mengalahkan Operasi Tangkap Tangan-nya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ketukan palu majelis hakim pengadilan, hingga berondongan pasukan Densus 88/antiteror. Sangat jelas, alasannya Nurani itu milik Allah SWT. Wallahu’alam Bisshowab. (Wartawan al-Faqir *)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *