Mendag Luthfi Dorong Konsumen Sebagai Raja Bukan Obyek

EKBIS HEADLINE

JAKARTANEWS.ID — JAKARTA: Menteri Perdagangan, Muhammad Luthfi, meyakini konsumen yang kuat mampu mendorong percepatan pergerakan ekonomi dimana konsumsi menjadi kontributor terbesar dalam pembentukan ekonomi nasional.

“Nah ini yang sebenarnya kita ingin perbaiki. Kita ingin memberikan pengertian sekaligus memastikan bahwa konsumen kita ini bukan hanya sebagai objek tetapi mustinya sebagai raja. Sebagai raja itu mestinya dilayani,” ujar Mendag Luthfi terkait komitmen instansinya bahwa Konsumen Berdaya Pulihkan Ekonomi Bangsa.
Karrna itulah, katanya, Kemendag melalui Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) terus menggerakkan konsumen nasional menjadi konsumen yang mendapatkan pencerahan yang baik untuk memperjuangkan haknya bukan hanya kewajibannya membayar sebagai konsumen.

Temuan Menyimpang

Di tempat terpisah Dirjen PKTN Kemendag, Veri Anggrijono, menegaskan konsumen yang cerdas, teliti, serta memahami hak dan kewajiban sangatlah dibutuhkan dalam rangka mewujudkan iklim perdagangan yang baik.
“Hal itu semata-mata untuk memastikan tertib niaga di semua pasar dan gerai transaksi perdagangan, disamping pelaku usaha yang bertanggung jawab,” ujar Dirjen Veri kepada media, Kamis (14/10).
Karenanya, Veri Anggrijono mengakui Kemendag pun terus berkomitmen menggalakkan perlindungan konsumen dalam berbagai program penyuluhan menjadikan konsumen cerdas & berdaya. Selain meningkatkan pengetahuan, wawasan & pemahaman tentang perlindungan konsumen, serta melaksanakan kebijakan, strategi, dan program nasional penanggulangan terorisme bidang kesiapsiagaan nasional, kontraradikalisasi, & deradikalisasi.
“Diharapkan sosialiasi ini juga dapat mendorong peran aktif masyarakat dalam menanggulangi terorisme dan radikalisme. Kepedulian masyarakat dapat menekan aksi teror-teror yang sangat merugikan masyarakat dan negara, serta dapat menunjang kegiatan ekonomi,” urai Dirjen Veri sewaktu diskusi panel penyuluhan perlindungan konsumen di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (12/10).
Kegiatan bertema “Perlindungan Konsumen, Indonesia Maju” itu diikuti 250 peserta dengan protokol kesehatan ketat bersama panelis Dirjen Veri, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Boy Rafli Amar, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional, Rizal Halim, & Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Banyuwangi, Suyanto WT Wicaksono, dimoderatori Plt Kadinkop UKM, & Perdagangan setempat, Nanin Oktaviantie.
Saat yang sama Dirjen PKTN Veri mengungkap temuan dugaan pelanggaran perlindungan konsumen berupa sebanyak 31.553 Depot Air Minum (DAM) tidak layak Higienitas Sanitas Pangan (HSP). Dari total 60.272 DAM yang tercatat, hanya 28.719 yang layak. Lainnya meliputi alat ultraviolet (UV) yang sebagian besar melewati batas maksimal pemakaian serta hanya 1.183 yang bersertifikat. Banyak pula DAM menyediakan galon bermerek dan stok air minum dalam wadah siap dijual yang melanggar ketentuan dan merugikan perusahaan pemilik galon.

IKK Meningkat

Sementara itu Direktur Pemberdayaan Konsumen, Ojak Simon Manurung, mensyukuri terus meningkatnya Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) Indonesia. IKK merupakan parameter bagaimana masyarakat sebuah negara memiliki tingkat keberanian sebagai konsumen bila merasa tidak puas terhadap produk dan pelayanan atau merasa dirugikan produsen dalam suatu aktivitas jual-beli produk barang atau jasa.
“Nilai tersebut menunjukkan bahwa konsumen telah mampu menggunakan hak & kewajibannya untuk menentukan pilihan terbaik, termasuk menggunakan produk dalam negeri bagi diri dan lingkungannya,” ujar Direktur Ojak Simon kepada media.
Kemendag mencatat IKK Indonesia menunjukkan tren meningkat setiap tahun. Mulai angka 40,41 pada 2018, nilai 41,70 pada 2019 dan 49,07 pada 2020, atau berada pada level Mampu. Artinya, kata Direktur PK Ojak Simon, konsumen Indonesia telah memanfaatkan hak & kewajibannya dalam bertransaksi perdagangan. (royke)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *