Usai Grup Walet, Kini Grup Bara Jaya Utama Diperiksa Ungkap Tersangka

HEADLINE HUKRIM

Belum Satu Debitur Pun Dicekal 

JAKARTANEWS. Id -JAKARTA: Grup Bara Jaya Utama, Debitur LPEI mulai disentuh  terkait kasus tindak pidana korupsi di LPEI (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia) senilai Rp4, 7 triliun.

Namun demikian, sampai pemeriksaan selesai belum satupun, baik Debitur dan Pejabat LPEI dijadikan tersangka.

Sejak, disidik 24 Juni Kejaksaan Agung baru menetapkan tersangka kasus penghalangan penyidikan sebanyak 7 orang.

“Saya berharap saja, kasus ini tidak bernasib seperti kasus BPJS Naker yang berkutat pemeriksaan saksi dan “hilang”. Juga kasus Bank BTN Gresik dan lainnya,” keluh Koordinator MAKI Boyamin Saiman, di Jakarta, Kamis (25/11).

Pelapor kasus BPJS Naker meminta Kejagung bersikap tegas, tidak cukup bukti hentikan, cukup bukti lanjutkan.

“Jadi jangan biarkan menggantung. Juga sesuai arahan Jaksa Agung dalam beberpa kesempatan untuk tidak menyidik asal-asalan,” tambahnya.

BJU GROUP

Kapuspenkum Leonard EE. Simanjuntak mengatakan pemeriksaan terhadap Debitur LPEI, BJU Group diwakili H selaku Owner BJU Group.

“H diperiksa terkait penerimaan kredit ekspor,” ujar Leonard, Rabu (24/11) malam.

Tidak disebutkan berapa kredit yang diterima, alasan kredit tidak dapat ditagih dan apakah benar kredit digunakan untuk ekspor?

Grup lain yang belum tersentuh, antara lain Duniatex, Johan Darsono dan Lautan Harmoni Sejahtera.

Pada bagian lain, turut diperiksa H (Direktur PT. KPN) untuk kedua kali dengan materi yang sama, tapi lagi-lagi tidak diketahui kasus posisinya.

Selain itu, Kejagung memeriksa YES selaku Komisaris PT. Kemilau Kemas Timur tahu 2016, AC (Karyawan PT. MIDI tahun 2016) dan D (Staf PT. MAS).

Secara terpisah, turut diperiksa EL (Kadiv Kepatuhan LPEI periode tahun 2014) dan DWW (Kadiv Kepatuhan 2015).

“Mereka diperiksa terkait apakah  pengusulan pembiayaan dari LPEI sudah sesuai dengan aturan yang berlaku, ” tutur Leonard.

Sumber di Kejagung menduga kredit yang dikucurkan tidak mencerminkan besaran agunan yang dimiliki debitur, bisa jadi karena unsur kedekatan, ada dugaan “cawe-cawe” dan lebih fatal kemungkinan dugaan ekspor fiktif ?

“Ini bisa jadi skandal besar. Sebaiknya, ikuti dan cermati proses penyidikannya,” sarannya. (ahi)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *