Selamatkan Petani Kita

HEADLINE OPINI

Selamatkan Petani Kita

Oleh: Hermas E Prabowo*)

Musim hujan tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya di puncak musim hujan petani bakal panen padi serempak. Ada yang menyebutnya Panen Raya.

Rasanya tidak berlebihan istilah itu, karena pada periode Januari – Mei 2022 ini panen padi memang besar-besaran dan akan berlangsung bersamaan, dari Sabang sampai Merauke. Terutama di sentra-sentra produksi beras nasional seperti di Jawa, Sumatera, Sulawesi, NTB dan sebagian Kalimantan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi padi 2021 mencapai 55,27 juta ton gabah kering giling (GKG), mencakup luasan 10,52 juta hektar. Tahun 2022 ini produksi padi nasional diproyeksikan mengalami kenaikan, meski tidak signifikan.

Khusus pada panen musim hujan ini, diperkirakan lebih dari 6,31 juta hektar hamparan tanaman padi yang bakal dipanen, dengan volume lebih dari 33,2 juta ton GKG. Angka ini merupakan 60 persen dari total produksi padi nasional dalam setahun.

Masalah Pasca Panen

Panen padi di musim hujan lebih sulit, karena keterbatasan sinar matahari untuk pengeringan gabah.

Kondisi penggilingan padi nasional sekitar 80.000 unit merupakan penggilingan skala kecil yang mengandalkan lantai jemur dan sinar matahari.

Beberapa penggilingan padi besar dan penggilingan di bawah Perum Bulog punya selo, atau alat pengering padi modern dengan ukuran raksasa. Namun kapasitasnya terbatas, kurang 5 persen dari total volume panen padi di musim hujan.

Kesulitan lainnya, ancaman banjir. Terutama di area sawah di ujung aliran irigasi (tail end). Hamparan tanaman padi yang terkena banjir akan menurunkan kualitas gabah, yang pada akhirnya menurunkan kualitas beras.

Tanaman padi terpaksa dipanen awal, atau panen culik sekalipun dengan mutu rendah, tapi itu lebih baik daripada habis diterjang banjir.

Ancaman banjir dan kesulitan penanganan pasca panen padi akibat minimnya sarana jemur yang modern, bagaikan pukulan jab dan uppercut sekaligus bagi petani. Keduanya berdampak pada penurunan kualitas dan rendahnya rendemen beras.

Dalam kondisi seperti itu, petani masih harus dihadapkan pada rendahnya harga jual gabah dan beras nantinya.

Karena pada panen padi musim hujan, umumnya penggilingan padi dan pedagang beras enggan memborong dan menyimpannya. Karena kualitas beras yang kurang baik mengakibatkan daya simpan gabah/beras pendek dan mudah rusak.

Terlalu berisiko untuk menyimpannya dalam jangka panjang. Ini ibarat pukulan telak di tulang rusuk petani, yang menyebabkan mereka akan terjatuh dan makin miskin.

Tidak Boleh Diam

Dalam situasi yang sulit itu, satu-satunya harapan petani adalah Pemerintah, yaitu Perum Bulog.

Membangun sarana pengering serempak besar-besaran dalam waktu singkat tidak mungkin, selain butuh biaya sangat besar juga tidak mungkin bisa dibangun semalam.

Belum lagi sentra-sentra komoditas non padi menyebar, volume kecil dan berjauhan. Penggunaan sarana pengering padi yang musiman dan hanya untuk komoditas padi, selain tidak efisien, mahal perawatan juga cepat rusak.

Pilihan satu-satunya Pemerintah untuk menyelamatkan petani padi adalah dengan menugaskan Perum Bulog untuk turun ke lapangan membeli gabah petani agar harganya tidak jatuh.

Kebijakan pembelian gabah petani ini harus dilakukan Bulog secara masif dan besar-besaran, at all cost. Tentu Bulog sebagai perum punya keterbatasan sumber dana, karena itu perlu dukungan penuh dari APBN. Tidak mungkin Bulog melakukan itu dengan dana komersial pinjaman bank.

Dengan stabilisasi harga gabah oleh Perum Bulog, diharapkan harga jual gabah petani tidak rendah, sehingga petani masih bisa dapat keuntungan dari usaha tani padinya. Keuntungan bisa untuk kelanjutan produksi dan kelangsungan hidup mereka.

Apa itu saja sudah cukup? Belum. Pemerintah juga harus memikirkan gabah atau beras yang dibeli Bulog mau di kemanakan.

Outletnya harus jelas. Apakah untuk operasi pasar, bantuan bencana dan sumbangan beras untuk rakyat miskin, atau mekanisme lain. Perlu ada solusi untuk Bulog. Kalau tidak, gabah/beras yang dibeli Perum Bulog dari petani akan rusak kualitasnya, busuk, tidak laku dijual dan itu merugikan negara nantinya.

Keinginan pihak-pihak tertentu yang berhasrat untuk impor beras untuk tujuan rente ekonomi dan syahwat politik juga harus diredam. Pemerintah dalam hal ini antar sektor baik pertanian dan perdagangan, harus kompak.

Bergandengan tangan membantu kepentingan petani kita. Hilangkan ego-ego sektoral, karena pangan adalah masa depan bangsa. Masa depan kita semua.

Tidak ada negara atau bangsa yang jaya tanpa produksi pangan nasional yang kuat. Mari selamatkan petani kita. (Redaktur Jakartanews.id*)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *