Antara Pengkhianatan Brutus, Kesombongan Penguasa dan Rekayasa Tuhan

HEADLINE OPINI

Oleh: Rinaldi Rais *)

Negeri ini tidak sedang baik-baik. Dinamika semua lini menunjukkan semangat keberjuangan, yang seringkali menafikan akal sehat dengan terpeliharanya fanatisme fulus semu. Terkadang, bahkan, ego sok kuasa hasil iming-iming para kapitalis sesumbar wujud nasionalis dan toleran.

Alih-alih melahirkan pahlawan-pahlawan negara, tetapi justru memunculkan brutus-brutus yang mengharu-biru barisan koor pemerintah. Alhasil, setiap makhluk berketetapan menjunjung kedaulatan negara atasnama nasionalisme dimusuhi lantaran bertentangan dengan ketamakan syahwat para globalis; tanpa menyadari keberlanjutan anak-anak milenial Generasi Z kelak.

Yaaah, pengkhianatan sang anak bernama Brutus hasil kolaborasi kedengkian para punggawa pun mengakhiri kekuasaan Julius Caesar. Kisah kedigdayaan nan gemilang Bangsa Romawi pun tamat bersamaan kematian Sang Kaisar Raja Diraja pada 15 Maret 44 sebelum Masehi.

Julius Caesar, konon, mewakili kesombongan di atas segala perangkat pemerintahan terkuat tetapi TamaT oleh segelintir orang sekitar. Nyaris berakhir sama dialami diraja Fir’aun, yang tenggelam di Laut Merah, Mesir, sewaktu memburu Nabi Musa AS bersama pengikutnya. Juga nasib serupa dialami Raja Namrudz semasa Nabi Ibrahim AS, yang tewas oleh seekor nyamuk dalam telinganya. Tragis fever.

Kisah-kisah itu menunjukkan keabadian peperangan antara hak dan batil, antara syahwat duniawi dan nurani ukhrowi, juga antara kesombongan fana dan kesalehan ibadah agama.

Sebuah dinamika budaya peradaban manusia, yang tetap dalam rel konsep ketuhanan hakiki disebut Qodarullah.

Jadi, memang, Negeri ini tidak sedang baik-baik. Dinamika semua lini menunjukkan semangat keberjuangan, yang seringkali menafikan akal sehat dengan terpeliharanya fanatisme fulus semu. Terkadang, bahkan, ego sok kuasa hasil iming-iming para kapitalis sesumbar wujud nasionalis & toleran.

Makarullah Para globalis, boleh saja, menisbikan nasionalime setiap negeri. Mereka boleh saja merancang keterbatasan sumber daya alam dunia diatur bagi segolongannya dibantu para embannya. Sebuah bentuk lain kesombongan duniawi, yang menafikan kehebatan Asmaul Husna.

Tetapi, sadar atau tidak, setiap rekayasa manusia sombong itu selalu & selalu diikuti Sunnatullah berupa rekayasa Allah Subhanahu Wata’ala alias Makarrullah. Klaim sukses globalis diikuti kemunculan fakta lain; bagai improvisasi di luar skenario dalam seni tradisional Lenong Betawi.

Fakta mengungkap genderang perang propaganda anti-Islam, yang ditabuh Presiden AS George W Bush pasca berakhir Perang Dingin Amerika Serikat versus Uni Soviet, justru memprovokasi mualaf dunia. Geger Selasa kelabu 11 September 2001 di Menara Kembar WTC, New York City, itu malah viral video ratusan muslim-muslimah sholat tarawih Ramadhan 1443 Hijriyah di Times Square New York, AS; seperti tangkapan layar YouTube Freedom News TV, Minggu (3/4/2022). Sebuah Makarullah.

Contoh lain, boleh jadi, dialami gonjang-ganjing pandemi Covid19 asal Wuhan, Tiongkok, yang memunculkan komersialisasi vaksin; sementara kemunculan virus (lemah) varian Omicron konon justru menjadi vaksin bagi virus sebelumnya. Juga, Makarullah.

Pertanyaan lanjut, akankah New World Order alias Tatanan Dunia Baru juga sebagai pertanda segera berakhirnya dunia fana ini? Mengingat, kian tersebar tanda-tanda perkuatan Akhir Zaman serupa film Armaggeddon yang mengundang kedatangan Imam Mahdi-Nabi Isa Almasih untuk melawan Iblis Dajjal AS? Wallahu’Alam Bisshowab. (Pengamat Kebijakan Publik*)

Tagged