Warga Takalar Kehilangan Atap Rumah akibat Terjangan Puting Beliung

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Angin puting beliung yang menerjang Desa Rewataya Kecamatan Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan pada tiga hari lalu menyisakan kesedihan warga. Betapa tidak, angin kencang tersebut melenyapkan puluhan atap rumah warga setempat.

”Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Takalar mencatat sebanyak delapan unit rumah rusak berat dan 30 unit lainnya rusak ringan. Selain rumah, tiga unit gudang penyimpanan rumput laut dan satu gedung fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan,” ungkap Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, Ph.D, di Jakarta, Rabu (15/6/2022).
Menurut Muhari, sebagian besar rumah rusak pada bagian atap yang rata-rata terbuat dari bahan seng. BPBD melaporkan delapan KK rumahnya rusak berat mengungsi sementara dengan kerabat terdekat. Hingga Rabu (15/6/2022), BPBD Kabupaten Takalar berkoordinasi dengan aparat desa dan TNI/Polri untuk melakukan asesmen lanjutan pasca terjadinya angin puting beliung.
Selain itu, petugas memberikan bantuan logistik darurat kepada 38 keluarga terdampak. Muhari mengatakan, hingga tiga hari ke depan, Provinsi Sulawesi Selatan berpotensi mengalami cuaca ekstrem. Seperti, hujan lebat, angin kencang, dan puting beliung. Sementara untuk di Kabupaten Takalar berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang.
Prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyatakan sebagian besar wiayah mengalami awal musim kemarau pada April hingga Juni 2022. ”Meskipun begitu, beberapa wilayah di Indonesia masih berpotensi mengalami hujan disertai angin kencang yang dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi basah,” kata Muhari.
Menurut Muhari, merespon prakiraan cuaca tersebut, BNPB mengimbau kepada masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. ”Khususnya cuaca ekstrem terlebih dengan adanya peralihan musim yang dapat menimbulkan fenomena angin kencang atau angin puting beliung,” ungkap Muhari.
Muhari mengataka, perangkat daerah setempat dapat melakukan pemotongan dahan, ranting maupun material pohon yang rimbun. Yaitu, untuk meminimalisasi potensi pohon tumbang. Selain itu aparat memberikan informasi peringatan dini kepada warga setempat terkait curah hujan.
Terutama. jika hujan mengguyur wilayah lebih dari satu jam. Maka, aparat dapat segera melakukan upaya kedaruratan dan evakuasi jika diperlukan. ”Masyarakat juga dapat memantau prakiraan cuaca melalui laman BMKG dan mengetahui potensi bencana yang ada di sekitar tempat tinggal melalui inaRisk,” tegas Muhari. (Dani)

Leave a Reply