Tersangka Skandal Proyek BFC Milik PT. Krakatau Steel Hanya Hitungan Har?

Lagi 3 Direktur PT. KS- KT KE Diperiksa 

Logo PT Krakatau Steel (ist)

JAKARTANEWS.ID -JAKARTA: Kembali, Tiga Direktur PT. Krakatau Steel (KS) dan PT. Krakatau Engineering (KE) diperiksa Skandal Proyek Blast Furnace Complek (BFC), Tersangka segera ditetapkan?

Ketiga Direktur PT. KS dan PT. KE tersebut, adalah AMS selaku Direktur SDM dan Pengembangan Usaha PT. KE (2010), Irvan Kamal Hakim (Dirut PT. KS 2012-2015) dan Firjadi Putra (Direktur Bisnis dan Operasi I PT. KE).

Kapuspenkum Dr. Ketut Sumedana pemeriksaan tiga orang tersebut  masih dalam rangkaian pengumpulan alat bukti, guna memperkuat pembuktian.

“Semua dimaksudkan untuk membuat terang tindak pidana Perkara  Proyek Pembangunan BFC Tahun 2011, ” kata Ketut, Kamis (16/6) malam.

Direktur AMS yang pernah menjabat Direktur Teknik dan Pengembangan Usaha PT. KE l, terakhir diperiksa Selasa (10/5).

Sementara, Firjadi Putra yang pernah menjabat Direktur Bisnis PT. KE, terakhir diperiksa, Rabu (11/5).

Terakhir, Irvan Kamal Hakim, Eks. Direktur Pemasaran PT. KS (2007- 2010 bahkan sudah dua kali diperiksa, pertama Selasa (5/3) dan kedua, Selasa (19/4).

“Ini perkara menarik. Menarik, karena Jajaran Direksi PT. KS dan PT. KE sudah diperiksa. Artinya, pengumpulan fakta dan alat bukti sudah lebih dari cukup. Penetapan tersangka hanya soal waktu, ” tutur Koordinator MAKI, Jumat (17/6).

SUDAH DIPERIKSA

Dalam perkara tindak pidana korupsi yang disidik sejak Rabu (16/3) bernomor : Print-14/F.2/Fd.2/03/ 2022 dan diduga

merugikan negara sekitar Rp5 triliun semua Direksi PT. KS dan PT KE sudah diperiksa.

Mereka, terdiri 4 Mantan Dirut PT. KS,  Fawzar Bujang (November 2007 – Juni 2012), Sukandar (Periode 2015 – Maret 2017) dan Irvan Kamal Hakim (Juni 2012 – 2015) diperiksa Selasa (5/3). Mereka diperiksa terakhir, Selasa (19/4).

Lalu, Mantan Dirut PT. KS yang diperiksa, adalah Mas Wigrantoro Roes Setijadi (2017 – 2018),  Kamis (14/4).

Sementara para Mantan Dirut PT. KE yang telah diperiksa,  terdiri Imam Purwanto (Tahun 2011), Bambang Purnomo ( 2013), Wisnu Kuncoro (Dirut 2016) dan Lussy Adriaty Dede (2018), Senin (4/4).

Serta Jajaran Direksi PT. KE, yakni Ogi Rodinho (Direktur Logistik & Pengembangan Usaha), AMS (Eks. Direktur SDM dan Pengembangan Usaha),  Imam Purwanto (Eks. Direktur SDM dan Pengembangan Usaha) dan Widodo Setiadharmaji (Eks. Direktur Teknologi dan Pengembangan Usaha)

SEMPAT GAGAL

Ketut Sumedana menerangkan AMS diperiksa terkait kapasitas Project Director Penyusunan Proposal Harga Penawaran Pekerjaan Local Portion ke MCC CERI (Kontraktor asal Cina), untuk diberikan ke PT. KS dalam tahap tender penawaran harga BFC Project.

Harga yang diusulkan, November 2010 sebesar Rp 2, 414 triliun, akan tetapi proses tender pada 2010 gagal.

“Sebab harga yang ditawarkan oleh seluruh Bidder diatas Harga HPS/OE (Harga Perkiraan Sendiri/Owner Estimate). ”

Kemudian pada 2011, lanjut Ketut atau pada waktu tender diulang AMS  tidak lagi sebagai Project Director Proposal melainkan  Firjadi Putra (Direktur Bisnis & Operasi I PT Krakatau Engineering).

Namun demikian, AMS tetap membantu Tim Proposal untuk menyusun harga penawaran ke MCC CERI untuk diserahkan ke PT. KS dan jumlah harga Local Portion yang diserahkan ke MCC CERI sebesar Rp1, 888 triliun.

“Atas penawaran itu,  MCC CERI dengan anggota konsorsiumnya ACRE + PT.KE diumumkan sebagai pemenang dengan harga negosiasi Local Portion sebesar Rp1, 800 triliun.

Sementara IK diperiksa dalam kapasitas Dirut PT. KS (2012- 2015) berperan dalam pertanggungjawaban penggunaan anggaran BFC yakni penggunaan uang muka, dana dalam pelaksanaan proyek BFC.

Terakhir, FP  diperiksa saat menjabat Direktur Bisnis & Operasi I PT. KE (2010-2014) terkait pertanggungjawaban sejak penandatanganan kontrak BFC hingga pelaksanaan pekerjaan konstruksi proyek BFC.

TERLANTAR

Perkara berawal dibangunnya Pabrik Blast Furnace 2011 – 2019 untuk daya saing dan harga besi atau baja bisa ditekan lebih murah.

Praktiknya, proyek yang dikerjakan Konsorsium MCC CERI dan PT. KE sesuai hasil lelang 31 Maret 2011 dan berbiaya Rp6, 921 triliun jauh dari harapan.

Bahkan,  sejak 19 Desember 2019 pengerjaan proyek dihentikan meski belum 100 % tuntas. Sementara pimpinan proyek sudah menyerahkan dana pengerjaan proyek Rp5, 351 triliun.

Selain itu,  saat diuji coba operasi biaya produksi lebih besar dari harga baja di pasar dan pekerjaan sampai saat ini belum diserah-terimakan dengan kondisi tidak dapat beroperasi lagi. (ahi)

Leave a Reply