Partai Berkuasa Italia Berselisih Mengenai Pengiriman Senjata ke Ukraina

JAKARTANEWS.ID – ROMA: Partai Gerakan Bintang Lima (M5S) yang berkuasa di  Italia, dilaporkan terbelah mengenai polemik pengiriman senjata ke Ukraina. Senat Italia akan membahas masalah tersebut dalam minggu ini.

Parlemen Italia akan melakukan pemungutan suara atas resolusi M5S pada Selasa (21/6/2022). Resolusi itu merekomendasikan penghentian pengiriman senjata ke Ukraina untuk menghindari potensi rusaknya prospek perdamaian di kawasan.

Kutipan resolusi M5S yang bocor ke media pada Sabtu (18/6/2022) itu menggemakan kembali usulan dari sang pemimpin partai yang juga mantan Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte, Mei lalu. Kala itu, Conte menyerukan pemungutan suara di parlemen untuk membatalkan pasokan senjata ke Ukraina.

Usulan itu membuat Conte berselisih paham dengan rekan satu partai yang juga Menteri Luar Negeri Italia, Luigi Di Maio. Pada Minggu (19/6/2022), Di Maio menuding MS5 yang notabene parpolnya sendiri juga tidak dewasa dan merusak keamanan nasional.

Menurut harian La Repubblica, kritik sang Menlu memicu serangan balik dari para wakil presiden M5S, yakni Riccardo Ricciardi dan Michele Gubitosa. Dalam sebuah wawancara, kedua politikus itu menyarankan bahwa Di Maio harus meninggalkan partai.

Pertemuan darurat Dewan Nasional M5S dijadwalkan berlangsung pada Minggu pukul 21.00 waktu setempat atau Senin (20/6/2022) pukul 02.00 dini hari WIB. Menurut analis, perpecahan di partai terbesar Italia itu dapat mendorong negara tersebut menuju krisis pemerintahan baru.

Rusia meluncurkan operasi militer khusus di Ukraina sejak 24 Februari, setelah Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk (DPR dan LPR) meminta bantuan untuk membela diri dari provokasi pasukan Kiev. DPR dan LPR adalah dua wilayah yang memisahkan diri dari Ukraina.

Rusia mengklaim, tujuan dari operasi khusus itu adalah untuk demiliterisasi dan “denazifikasi” Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, operasi itu juga untuk melindungi orang-orang yang menjadi sasaran “genosida” oleh rezim Kiev selama delapan tahun terakhir.

Negara-negara Barat menanggapi agresi militer Rusia itu dengan menjatuhkan sanksi komprehensif terhadap Moskow, termasuk embargo terhadap produk energi Rusia. Di sisi lain, AS dan para sekutunya juga gencar mengirimkan peralatan militer ke Ukraina untuk membantu Kiev melawan Moskow. (Amin)

Leave a Reply