Rusia Pangkas Pasokan Gas Negara Uni Eropa Menjerit

JAKARTANEWS.ID – MOSKOW: Pemangkasan pasokan gas oleh Rusia  telah membuat sejumlah negara Uni Eropa menjerit. Namun, Juru Bicara Kremlin (Istana Kepresidenan Rusia),  Dmitry Peskov, mengklaim negaranya tetap menjalankan komitmennya sebagai pemasok energi Eropa.

Peskov mengatakan, Rusia adalah pemasok energi yang sangat andal ke Eropa. “Rusia dengan ketat memenuhi semua kewajibannya (memasok energi ke Eropa),” tuturnya dalam konferensi pers yang digelar di Moskow, pada Kamis (23/6/2022) dikutip Reuters.

Dia juga mengatakan, Moskow telah memberi tahu Jerman tentang siklus layanan dari pipa gas Nord Stream 1, yang akan menjalani pemeliharaan pada 11–21 Juli.

Aliran gas melalui pipa bawah laut Nord Stream 1 dari Rusia ke Jerman telah menurun. Rusia mengatakan, masalah teknis yang ditimbulkan oleh sanksi ekonomi dari Uni Eropa telah memaksa Gazprom (perusahaan energi pelat merah Rusia) untuk mengurangi aliran gas ke benua biru.

Italia dan Jerman menyebut itu hanya alasan Moskow untuk mengirim lebih sedikit gas ke mereka.

Sebanyak 12 negara Uni Eropa kini telah terdampak oleh pemangkasan pasokan gas dari Rusia. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Kebijakan Iklim Uni Eropa, Frans Timmermans, Kamis (23/6/2022).

Rusia memangkas aliran gas ke Uni Eropa melalui pipa Nord Stream 1 menjadi 40 persen dari kapasitas pekan lalu.

Sebelumnya, Rusia sudah lebih dulu memotong pasokan gas ke Polandia, Bulgaria, Belanda, Denmark, dan Finlandia karena negara-negara itu menolak untuk mematuhi skema pembayaran baru yang diajukan Moskow.

Timmermans mengatakan, 10 dari 27 negara anggota Uni Eropa telah mengeluarkan “peringatan dini” akan pasokan gas mereka. Peringatan itu menjadi yang pertama dan yang paling ringan keparahannya dari tiga level krisis yang ditetapkan dalam peraturan keamanan energi Uni Eropa.

Rusia menghadapi sanksi ekonomi secara bertubi-tubi dari Barat atas agresi militer Moskow ke Ukraina. Salah satu sanksi itu berupa embargo besar-besaran terhadap batu bara dari negeri beruang merah.

Sebelumnya, pada April lalu, Rusia telah memperingatkan Uni Eropa bahwa sanksi semacam itu bakal menjadi bumerang buat mereka. Pasalnya, bahan bakar tersebut akan dialihkan Moskow ke pasar lain di luar Eropa.

Jerman pada Kamis (23/6/2022) ini akan memasuki fase kedua dari tiga fase darurat gas. Kendati demikian sebuah klausul, yang memungkinkan otoritas menaikkan biaya energi, belum lagi akan diberlakukan, kata beberapa sumber.

Langkah itu akan menjadi eskalasi terbaru dalam benturan antara Eropa dan Rusia. Perkembangan itu memperlihatkan betapa kelompok negara-negara Eropa amat bergantung pada pasokan gas dari Rusia. Mereka bisa menghadapi kesulitan untuk mendapatkan alternatif energinya untuk beberapa tahun.

Negara-negara Uni Eropa, termasuk Jerman, harus memiliki rencana untuk mengelola tiga tingkat krisis pasokan gas mereka. Ketiga tingkatan itu (dari yang teringan sampai yang paling parah) adalah peringatan dini, waspada, dan keadaan darurat.

Tahap peringatan dini berfokus pada pemantauan persediaan gas. Sementara pada level waspada, otoritas energi di negara terdampak secara teoretis dapat menaikkan harga gas kepada konsumen di kalangan industri dan rumah tangga, sembari berusaha menurunkan permintaan.

Adapun pada tingkat darurat, pemerintah bisa memaksa kalangan industri untuk membatasi aktivitas demi menghemat gas.

Kini, rencana fase waspada disiapkan Jerman ketika pemerintah setempat menganggap kemungkinan besar akan terjadi keterbatasan pasokan gas dalam waktu lama.

Jerman, negara ekonomi utama di Eropa, saat ini sedang menghadapi pengurangan pasokan gas dari pemasok utamanya Rusia. (Amin)

Leave a Reply