Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

BKKBN Prioritaskan Penanganan Stunting Dilakukan di 12 Provinsi

JAKARTANEWS.ID-JAKARTA: Kehamilan diluar pernikahan hingga pernikahan dini menjadi salah satu pekerjaan rumah berbagai pihak guna terwujudnya bonus demografi di Indonesia. 

Apa permasalahan yang kemudian akan terjadi jika beberapa masalah tersebut tidak segera ditangani?

Salah satunya stunting. Indonesia memiliki program Generasi Emas 2024, dan untuk mewujudkannya permasalahan stunting ini perlu dibereskan terlebih dahulu dan target penurunan prevelensi stunting menjadi 14% di tahun 2024 akan segera tercapai.

Pada tahun 2007 hingga 2019, trend prevalensi stunting di Indonesia mengalami penurunan per tahun sebesar 0,3%.

Dan target tersebut terus berlanjut dari tahun 2020 hingga 2024.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Irma Ardiana, Direktur Bina Ketahanan Balita dan Anak BKKBN saat memberikan pemaparan di Diskusi Media: Intervensi Kebijakan Sebagai Alternatif Solusi Pencegahan Gizi Buruk dan Stunting di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Koalisi perlindungan Kesehatan Masyarakat (KOPMAS).

Irma mengatakan bahwa laju penurunan stunting per tahun menuju 14% di tahun 2024 yakni sebesar 3,4%.

“saat ini prioritas pemerintah ada pada 12 provinsi, 7 provinsi tertinggi yaitu NTT, Sulawesi Barat, Aceh, NTB, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat serta 5 Provinsi padat penduduk yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Banten,” jelasnya.

Guna mempercepat penurunan angka stunting, pemerintah melalui Presiden telah membuat Peraturan Presiden no. 72 tahun 2021 dengan tujuan agar Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting menjadi acuan bagi kementerian / lembaga, Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah kabupaten / kota, Pemerintah Desa, dan Pemangku Kepentingan dalam rangka menyelenggarakan Percepatan Penurunan Stunting.

Selain itu, BKKBN sendiri telah memiliki program terkait pencegahan stunting yaitu program Bapak Asuh Anak Stunting, dimana program ini merupakan program bantuan yang diberikan oleh donatur sebagai orang tua asuh untuk penanggulangan masalah stunting.

Lebih lanjut Irma mengatakan jika implementasi program Bapak Asuh Anak Stunting berupa pola asuh orang tua dengan anak stunting oleh Dokter Spesialis Anak (DSA), pemberian Makanan Tambahan (PMT) siap olah untuk anak dengan stunting sebagai stimulus atau acuan orang tua dalam memberi makan pada anak, penyaluran support dana bulanan untuk keluarga dengan anak stunting guna membantu orang tua untuk membeli bahan makan dengan gizi seimbang untuk anak.

“Selain itu pemberian susu atau produk olahan lainnya dan edukasi serta pemberian Food tray sebagai salah satu bentuk edukasi yang bisa diberikan kepada orang tua, sehingga orang tua dapat menyiapkan makan anak sesuai gizi seimbang,” ujar Irma.

Program ini dibuat dengan harapan penurunan angka stunting untuk menuju generasi emas 2024 serta bonus demografis 2030 dapat terwujud serta permasalahan stunting dan gizi buruk segera usai dan ditangani dengan baik. (Nugroho)

Tinggalkan Balasan