Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Kampanyekan Putrinya Saat Bagikan Migor, Jamiluddin Ritonga: Zulhas Tak Profesional

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Tindakan Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan (Zulhas) yang mengampanyekan putrinya saat kunjungan kerja membagikan minyak goreng (migor) Minyakita sangatlah tidak terpuji.

Seorang menteri tidak seharusnya mencampuradukkan tugas seorang menteri dengan seorang ketua umum partai. Hal itu tidak boleh terjadi karena berkaitan dengan penggunaan anggaran negara.

Demikian disampaikan Pakar Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga kepada para awak media, Rabu (13/7/2022).

Jamiluddin mengatakan, perlu dicek terlebih dulu apakah kunjungan Zulhas ke Lampung itu sebagai Mendag atau sebagai Ketua Umum PAN.

“Kalau sebagai Menteri Perdagangan, maka kunjungan Zulhas menggunakan anggaran negara. Karena itu, Zulhas salah bila saat membagikan minyak goreng sambil mengkampanyekan anaknya,” kata Dosen Pasca Sarjana Fikom Universitas Esa Unggul, Jakarta ini.

Namun, lanjut Jamiluddin, kejadian itu tidak terlalu mengherankan mengingat Zulhas dipilih sebagai menteri bukan karena pertimbangan profesionalisme.

“Zulhas dipilih menjadi menteri lebih atas pertimbangan politis,” ungkap Jamiluddin.

Karena itu, menurut Jamiluddin, wajar kalau Zulhas dalam bekerja tidak profesional.

“Zulhas akan sulit membedakan mana tugas dan fungsi seorang menteri dan mana tugas dan fungsi ketua umum partai,” jelas Dekan Fikom IISIP, Jakarta 1996-1999 ini.

Jamiluddin menilai, yang salah dalam hal ini bukan Zulhas, tapi justru sosok yang memilihnya menjadi menteri.

“Kejadian seperti itu akan terus berulang bila presiden memilih menterinya karena pertimbangan politis,” ingat Jamiluddin.

Jadi, tambah mantan Sekjen Media Watch ini, kesalahan itu ada di pihak Presiden yang mengangkat menteri tak profesional.

“Kejadian serupa beresiko dapat kembali terulang. Kiranya hal itu menjadi pelajaran bagi seorang Presiden dalam mengangkat para pembantunya,” pungkas Jamiluddin Ritonga. (Daniel)

Tinggalkan Balasan