Sidang Ferdy Sambo Dkk Digelar Senin: Motif Penting, Lebih Penting Lagi Alat Bukti

Oleh: Abdul Haris Iriawan *)

Pelecehan atau sebab lain atau kedua-duanya alasan Ferdy Sambo Dkk membunuh Brigadir Josua secara keji ?

Rasa penasaran publik akan terjawab ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan surat dakwaannya di Gedung Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin besok pagi.

Sebelum ini, Penyidik Polri dan Penuntut Umum seakan kompak melakukan gerakan tutup mulut alias bungkam.

Aneka isu masuk ke ruang publik, mulai pelecehan di Duren Tiga, Jakarta yang belakangan nyungsep lantaran tidak ada alat bukti.

Lalu, isu pelecehan di rumah singgah di Magelang, Jateng yang terakhir dihembuskan oleh Komnas HAM dan Komnas Perempuan.

Lagi-lagi nyungsep karena tidak disertai laporan Polisi serta Visum et Repertum dan saksi.

Terus berkembang dugaan liar lain, Kuat Ma’ ruf-lah seteru almarhum yang melakukam praktik tidak senonoh di Magelang.

Lagi-lagi nyebur ke gorong-gorong.

Entah apa alasan aneka isu tersebut dilempar ke ruang publik, meski sah- sah saja di alam demokrasi.

Tentu, menjadi sah-sah pula penyidik dan penuntut umum bungkam semata demi kepentingan penyidikan dan atau penuntutan.

Anda bagaimana ?

Saya pribadi berpendapat lebih baik kita dengarkan besok dan berharap agenda Pembacaan surat dakwaan berjalan lancar.

Satu hal pastinya, perkara ini menjadi cermin kita agar kejadian tersebut tak berulang dan sesal mendalam saat tahu dampak yang menimpa kemudian.

Jabatan hilang, seragam coklat ditanggalkan lantaran dipecat dari dinas Kepolisian. Anak-isteri dipermalukan, keluarga besar ngumpet lantaran malu.

Ketika kewarasan dinomor duakan, aorgansi, ketamakan dikedepankan Hati terkuburkan.

Padahal, dunia hanya sebentar dan  fatamorgana sifatnya.

Jika Sang Pencipta Alam Semesta menghendaki,  Jenderal, peraih Adhi Makayasa sekalipun lenyap dalam sesaat !

ALAT BUKTI

Kembali kepada perkara pembunuhan dan perintangan penyidikan, dengan enam terdakwa Hendra Kurniawan Dkk.

Apakah Motif lalu menggugurkan pidana mati ?

Sempat terjadi dialog dan atau diskusi berulang di ruang Pressroom, Kejaksaan Agung menyinggu soal Motif dan Pidana Mati?

Ada segelintir Jurnalis bahkan  ngaku sudah 20 tahun meliput di pengadilan, berpendapat motif sangat penting demi kesempuranaan dakwaan.

Sebaliknya, arus utama beranggapan motif hanya bunganya dakwaan. Selama alat bukti cukup, maka tidak ada alasan bagi majelis untuk tidak menjatuhkan hukuman maksimal.

Si Jurnalis tetap ngotot bahkan sembari menggebrak meja dan bangun dari tempat duduknya.

Lawan bicaranya tetap santuy menanggapinya. “Ini diskusi kawan. Namanya diskusi, kita cari kebenaran. Itu bukan milik saya, tapi milik kebenaran itu sendiri, ” tanggapinya.

Jurnalis lain memotong, “Jangan ributkan motif lalu lupa substansi.”

Lepas dari diskusi antar Jurnalis Senior tersebut. Perkara ini sudah mencuri perhatian jutaan anak bangsa. Bahkan Presiden sekalipun.

Kembali bisa jadi, kemajuan teknologi membuat publik bisa mengakses dan berpendapat. Tentunya, berharap tidak mengklaim paling benar lalu lapor Polisi alasan langgar UU ITE.

Pada akhirnya, kita berharap semua pihak terlibat persidangan, mulai Hakim, Jaksa dan Penasehat Hukum menjalankan tugas masing-masing sehingga Keadilan ditegakan.

Buanglah ego sektoral, Keadilan tidak semata diukur dari perspektif legalitas formal, tapi dari Hati Nurani.

Cukuplah aneka kasus yang muncul di negeri yang kita cintai ini. Tidak muncul lagi kasus Ferdy Sambo, kasus Kanjuruhan Malang dan kasus Teddy Minahasa. (Redaktur Jakartanews.id *)

Leave a Reply