Kejar Keterlibatan Korporasi di Skandal Impor Garam,  Pengurus AIPGI Dicecar

JAKARTANEWS.ID-JAKARTA: Ungkap dugaan keterlibatan 20 Importir Garam Industri, Pengurus Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) digarap Kejaksaan Agung.

Dalam Skandal Impor Garam Industri baru satu Pengurus Importir Garam, yakni Sanny Tan selaku Direktur PT. Sumatraco Langgeng Abadi dijadikan tersangka Senin (7/11).

Namun demikian, penetapan tersangka itu belum diikuti penetapan tersangka korporasi ?

Kapuspenkum Dr. Ketut Sumedana mengatakan pemeriksaan Pengurus AIPGI untuk memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan M. Khayam Dkk.

“Upaya tersebut rangkaian penyidikan perkara pemberian fasilitas impor garam industri pada tahun 2016 sampai 2022, ” jelasnya, Rabu (23/11).

Namun dari berbagai sumber yang dihubungi terpisah, pemeriksaan itu juga bisa berkembang tidak sebatas pemberkasan, jika ditemukan alat bukti baru.

“Kita tidak akan berhenti pada 5 tersangka, tapi terus berkembang mengingat dugaan kejahatan yang dilakukan telah merusak tata niaga garam dan perekonomian negara, ” tutur sebuah sumber.

AIPGI

Para Pengurus AIPGI yang diperiksa, Rabu (23/11) adalah Buchari A. Kadir selaku Sekretaris, CS (Sekretaris Umum) dan IHP (Unsur Swasta).

Jauh sebelumnya, Rabu (14/9) Buchari pernah diperiksa bersama Ketua AIPGI Frederick Tony Tanduk, Wesly Samosir (
Pengurus AIPGI) dan I Ketut Hadi Priatna (Swasta).

Dirjen Industri Kimia  Farmasi dan Tekstil (IKFT) bersama dua anak buahnya harus mengisi waktu tuanya di penjara.

Satu tersangka lagi, adalah Frederick Tony Tanduk selaku Ketua Asosiasi Industri  Pengolah Garam Indonesia (AIPGI).

Tony Tanduk telah ditetapkan tersangka, sejak Rabu (2/11) bersama M. Khayam selaku Dirjen IKFT  Periode 2019-2022 dan Fridy Juwono (Direktur Industri Kimia Hulu) dan Yosi Arfianto (Kasubdit Industri Kimia Hulu).

IMPORTIR GARAM

Dari catatan selain PT. SLA yang peroleh izin impor garam industri, 16 Maret 2018 adalah PT. Riau Andalan Pulp and Paper, PT. Tanjungenim Lestari Pulp and Paper, PT. Susanti Megah, PT. Darya Varia Laboratoria.

Kemudian, PT. Tempo Scan Pasific, PT Satoria Aneka Industri, PT. Saltindo Perkasa, PT. Emjebe Pharma, PT. Bayer Indonesia, PT. Novell Pharmaceutical, PT. Cheetam Garam Indonesia.

Seterusnya, PT. Actavis Indonesia, PT. Abbot Indonesia, PT. Petropack Agro Industries, PT. Kimia Farma, PT Unilever Indonesia, PT. Kusuma Tirta Perkasa dan PT. Braun Pharmaceutical Indonesia. (ahi)

Leave a Reply