Habib Syakur: Pelaku Bom Astana Anyar Tafsirkan Isi QS 9 Ayat 29 Jadi Seruan Perang

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid menyatakan, aksi bom bunuh diri di area halaman Mapolsek Astana Anyar, Kota Bandung menimbulkan banyak pertanyaan.

Habib Syakur mempertanyakan, mengapa aksi tersebut harus dilakukan dan apa latar belakangnya.

“Jika dilihat dari beberapa fakta di lapangan, ternyata memang ada pemahaman yang sangat ekstrem dari pelaku teror bom tersebut, yakni menafsirkan seruan perang terhadap Qur’an Surat (QS) At-Taubah ayat 29,” kata Habib Syakur kepada para wartawan, Rabu (7/12/2022).

Habib Syakur mengungkapkan, spoiler ayat di dalam Surat At-Taubah itu tercantum di dalam kertas yang ditempel pelaku di depan sepeda motor Suzuki Shogun yang digunakannya menuju Mapolsek Astana Anyar.

Berikut adalah isi dari Surat At Taubah ayat 29 yang dimaknai pelaku sebagai ajakan untuk memerangi orang kafir.

قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَلَا يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَلَا يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حَتّٰى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَّدٍ وَّهُمْ صَاغِرُوْنَ ࣖ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Kitab, hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk“

Habib Syakur menyebut, salah satu kesalahan besar kelompok teroris ini salah dalam menafsirkan isi Al-Qur’an.

“Itu adalah aktualisasi bagaimana seorang umat Islam salah dalam memahami isi Al-Qur’an, sehingga konteks dakwah yang seharusnya malah ditafsirkan sebagai seruan perang dan merusak,” jelas Habib Syakur.

Sayangnya, lanjut Habib Syakur, orang-orang seperti pelaku bom bunuh diri di Mapolsek Astana Anyar itu masih banyak dan mereka terhimpun di dalam jaringan khusus.

“Ini satu dari sekian banyak calon pengantin (sebutan martir untuk teroris -red). Kalau ini tidak dicegah dengan cepat dan serius, aksi ini tidak akan berhenti di Polsek Astana Anyar saja,” ingat Habib Syakur.

Terlebih, lanjut Habib Syakur, bulan Desember dan Januari merupakan momentum favorit kelompok teroris untuk mengaktualisasikan serangannya.

“Ini bulan Desember, ada momentum Natal dan Tahun Baru. Semua pihak harus waspada,” imbau Habib Syakur.

Lebih lanjut, Habib Syakur juga mempertanyakan sikap aparat kepolisian khususnya Densus 88 Anti Teror yang terkesan lamban dan tidak tegas terhadap kelompok tersebut.

“Saya kira Densus 88 dan Polri terlalu bertindak dengan kehati-hatian yang terlalu tinggi. Akibatnya ada aksi teror dan kasihan aparat yang jadi korban, mereka tak bersalah,” pungkas Habib Syakur. (Daniel)

Leave a Reply