Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Skandal PLN Tidak Berlanjut, MAKI Ancam Gugat Kejaksaan Agung

Perkara Dirilis Langsung Jaksa Agung

JAKARTANEWS.ID-JAKARTA: Skandal PLN diduga  tidak berlanjut (dihentikan), MAKI ancam Gugat (Praperadilan,  Red) Kejaksaan Agung. 

“Bila benar, perkara Penggadaan Tower Transmisi PLN,  2016 (Skandal PLN),  MAKI segera mempraperadilkannya,” kata Koordinator MAKI Boyamin Saiman, Minggu (21/5).

Menutupi  dia, rencana itu bukan gagah-gagahan namun semata kepentingan penegakan hukum,  khususnya penanganan perkara korupsi.

“Kami akan gugat lembaga penegak hukum mana saja selama menghentikan penyidikan (SP 3) perkara korupsi,” tegasnya

Aktifis Anti Korupsi ini dikenal Raja Praperadilan (Prapid). Lembaganya sempat mencuat saat berhasil memenangkan Prapid atas perkara Obligor BLBI Bank BDNI dengan tersangka Sjamsul Nursalim yang di-SP 3 Kejagung, awal tahun 2000-an.

Sayang,  kemenangan itu sekaligus kemenangan Publik terhenti ketika Pengadilan Tinggi DKI mengabulkan keberatan Kejagung. MAKI dinilai bukan bagian pihak yang berkepentingan.

BERKEMBANG

Perkara ini disidik sejak 14 Juli 2022 dengan nomor: Print-39/F.2/Fd.2/07/ 2022. Sampai kini,  belum seorang pun ditetapkan tersangka.

Kontras dengan Skandal BTS 4G yang disidik dua bulan terakhir, sudah 6 tersangka ditetapkan. Salah satunya, Menkominfo Johnny G. Plate.

Padahal,  perkara dirilis langsung Jaksa Agung ST. Burhanuddin di Lobi Gedung Menara Kartika Adhyaksa didampingi Pimpinan Pidsus alias Gedung Bundar, Senin (25/7).

Perkara ini sempat berkembang ke dugaaan Kolusi dan Nepotisme,  awal Januari 2023. Namun,  sejak dua bulan terakhir tidak ada kelanjutan penyidikan.

Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kuntadi sempat dua kali dikonfirmasi menyatakan sabar dan tunggu, beberapa waktu lalu.

Kepada wartawan, Jaksa Agung mengungkapkan dugaan penyimpangan
dan penyalahgunaan kewenangan, seperti  dokumen perencanaan pengadaan tidak dibuat.

Lalu, menggunakan Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) 2015 dan penyempurnaannya dalam pengadaan tower.

“Padahal, seharusnya menggunakan produk DPT yang dibuat pada  2016, pada kenyataannya DPT 2016 tidak pernah dibuat,” bebernya.

Sampai kini,  puluhan saksi sudah diperiksa termasuk saksi ahli dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) minus Eks. Dirut PT. PLN (2014- 2019) Sofyan Basir dan Ketua Aspatindo SH diduga Saptiastuti Hapasari.

SYARAT PMH

Menindak lanjuti Sprindik, Tim Penyidik menggeledah, di (Kantor, Red) PT. Bukaka Teknik Utama (BTU),  Rumah dan Apartemen Pribadi SH dalam kapasitas Ketua Aspatindo juga Direktur Operasional PT. Bukaka dan diperoleh dokumen dan barang elektronik terkait proyek.

Perkara berawal, 2016 PT. PLN memiliki kegiatan pengadaan tower sebanyak 9.085 set tower dengan anggaran pekerjaan Rp 2, 251 triliun.

Dalam pelaksanaan,  diduga telah terjadi tindak pidana korupsi, sebab PLN selalu

mengakomodir permintaan dari Aspatindo (Asosiasi Pabrikan Tower Indonesia).

Perbuatan tersebut, mempengaruhi hasil pelelangan dan diduga pelaksanaan pekerjaan dimonopoli PT. Bukaka.

“Karena Direktur Operasional PT. Bukaka merangkap sebagai Ketua Aspatindo,” ungkap Kapuspenkum Dr. Ketut Sumedana,  Senin (25/7).

Bukaka dan 13 Penyedia Tower lain tergabung dalam Aspatindo telah melakukan pekerjaan dalam masa kontrak (Oktober 2016-Oktober 2017) dengan realisasi pekerjaan sebesar 30%.

Tanpa legal standing, pada periode November 2017- Mei 2018 penyedia tower tetap melakukan pekerjaan pengadaan tower.

“Akibat tindakan sepihak itu memaksa PT. PLN melakukan addendum pekerjaan Mei 2018,  berisi perpanjangan waktu kontrak selama 1 tahun. ”

Addendum kedua antara PLN dan Penyedia dilakukan untuk  penambahan volume dari 9085 tower menjadi ±10.000 set tower.

Serta, perpanjangan waktu pekerjaan sampai dengan Maret 2019, karena dengan alasan pekerjaan belum selesai.

“Ditemukan tambahan alokasi sebanyak 3000 set tower di luar kontrak dan addendum,” akhirinya. (ahi)

Tinggalkan Balasan