Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Eks.Kepala Kantor BC Bandara Soetta Dicecar: Gambaran Tersangka Skandal Emas Mencuat?

Importir PT. Viola Davina Mulai Diusik

JAKARTANEWS.ID -JAKARTA: Skandal Komoditi Emas masuki babak penting,  Eks.  Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (BC)  Tipe C Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) FM diduga Finari Manan dicecar guna cari tersangka.

Namun, FM yang disebut-sebut Politisi PDIP Arteria Dahlan dalam Raker dengan Jaksa Agung,  Senin (14/6/2021) terkait importasi emas dari Singapura masih berstatus saksi.

Finari yang menjabat Kepala Kantor Pelayanan BC Bandara Soetta sejak 1 November 2019 hingga Januari 2023 juga tidak dicegah ke luar negeri.

Jabatan tersebut sejak 10 Februari 2023 ditempati Gatot Sugeng Wibowo.

Sebelum ini,  Jajaran Aparat Kantor BC Bandara Soetta,  Ditjen BA dan PT. Aneka Tambang dan Importir Emas diperiksa oleh Kejaksaan Agung.

Gambaran Tersangka mulai terkuak. Penetapan tersangka hanya hitungan hari?

Skandal Impor Komoditi Emas senilai Rp47, 1 triliun diduga merugikan negara sekitar Rp2, 9 triliun.

Kapuspenkum Dr. Ketut Sumedana hanya mengatakan FM diperiksa soal penyidikan perkara dugaan tindak pidana korupsi pada pengelolaan kegiatan usaha komoditi emas tahun 2010- 2022.

“Langkah ini guna membuat terang tindak pidan (lalu disusul penetapan tersangka,  Red) sekaligus memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan,” katanya diplomatis,  Senin (5/6) malam.

Dalam keterangannya,  tidak diungkap keterkaitan Finari yang sejak awal Februari menjabat Kepala Kanwil Ditjen Bea Cukai (DJBC) Jabar dengan skandal tersebut.

Sebelumnya, Rabu (31/5) diperiksa anak buah Finari,  yakni Kabid Penindakan dan Penyidikan Kantor BC Bandara Soetta M. Budi Iswantoro.

Serta, Bahaduri Wijayanta Bekti Mukarta (Direktur Penindakan dan Penyidikan Ditjen Bea dan Cukai).

Kontras dengan Skandal BTS 4G, Skandal Emas sampai kini sejak disidik 10 Mei belum seorang pun dicegah ke luar negeri, terutama importir emas?

Bersama Finari Manan, Kejagung juga memeriksa PPJ (Kasubdit Klasifikasi Barang pada Ditjen BC).

Diduga pemeriksaan ini menyoal perubahan status impor emas batangan berseri yang disebut Arteria setengah jadi menjadi bongkahan emas sehingga tidak dikenakan bea masuk dan lainnya.

IMPORTIR

Guna mencari tersangka Skandal Emas, Importir Emas ikutan diperiksa. Kali ini,  giliran EP selaku Karyawan PT. Viola Davina.

Kembali mengacu keterangan Arteria Dahlan,  Viola Davina adalah salah satu dari 8 Importir Emas.

Ketut hanya menyebutkan  EP diperiksa sebagai saksi dalam kapasitas Karyawan PT. Viola Davina.

“Dia diperiksa terkait upaya tim penyidik memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan,” ucapnya.

Terakhir,  Importir yang diperiksa adalah Para Pejabat PT. Aneka Tambang (Antam) dan AB (Direktur PT. Karya Utama Putra Mandiri) pada Rabu (31/5) serta IWL (Direktur PT. Royal Raffles Capital) pada Rabu (24/3).

Lima Importir Emas berdasar statement Arteria,  adalah PT. Jardin Trako utama, PT.
Lotus Lingga Pratama,PT. Indo Karya Sukses
dan PT. PT Bumi Satu Inti.

Sementara dari Singapura juga ikut diperiksa atas nama EIS selaku Operation Manager BUT Brinks Singapura Pte. Ltd., belum lama ini.

Pada bagian lain, Kejagung memeriksa VG selaku Reseller PT. Antam dan Direktur PT. Maha Karya Baru.

Perusahaan yang berlokasi di Semarang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan logam mulia dan beverage.

ARTERIA DAHLAN

Dalam keterangannya dalam Raker dengan Jaksa Agung ST. Burhanuddin dan Jajarannya,  Arteria mengatakan impor emas senilai Rp47, 1 triliun dari Singapura berkode (Emas Setengah Jadi) HS – 71081300.

Disebutkan untuk impor barang tersebut dikenakan Bea Impor 5 % dan PPH Impor 2, 5%.

Namun saat masuk ke Indonesia (Bandara Soetta), tambah Arteria kode tersebut sudah berubah ketika ditulis di dokumen PIB menjadi 71081210

“Tadi sudah batangan, berlabel dan sebagainya, seolah-olah dikatakan sebagai bongkahan pak, sebagai cash bar. Ini sudah luar biasa ini menyimpangnya. Kodenya dicatat 71081210,” bebernya geram.

Keterangan Arteria ini tidak jauh berbeda dengan Rilis Kapuspenkum, Jumat (25/3/2022) terkait trading ekspor maupun impor oleh beberapa perusahaan counterpart (memiliki perjanjian kerjasama trading) menggunakan nilai premium/discount yang tidak sesuai ketentuan.

Hal lain,  mulai pemurnian emas PT. Antam 2015 – 2021 telah menentukan tarif kepada Perusahaan Kontrak Karya (KK) dan Non Kontrak Karya (Non KK) yang diduga tidak sesuai dengan ketentuan.

“Yaitu, berdasarkan Penetapan Tarif dan Ongkos Cetak PT. Antam sehingga dapat merugikan PT. Antam.”

Kemudian, dugaan PT. Antam telah membeli emas yang tidak bersertifikat LBMA (London Bullion Market Association).

Diantaranya emas dengan merk Korea Zinc yang diperoleh dari ICBC Bank Bullion.

Serta, dugaan Perusahaan KK dan Non KK  tidak memenuhi pembayaran royalti sesuai dengan kewajibannya atas kegiatan produksi tambang emas. (ahi)

Tinggalkan Balasan